Sambut “Admirabile Signum”, Gua Natal Bercitarasa Kandang Hewan

0
406 views
Ilustrasi: Anak-anak berdoa di depan Gua Natal. (ist)

TAHUN 1970-an di kampung. Saat saya masih anak di bangku SD dan begitu Masa Adven tiba, maka yang segera muncul di hati adalah antusiasme besar. Yakni, keinginan kencang bisa segera membuat Gua Natal.

Bahan-bahan untuk “bangunan” Gua Natal itu diambil dari sekitaran rumah dan dusun. Suket dan aneka ilalang diambil dari pelataran Sungai Ujung. Pernak-pernik “rumahan” Gua Natal diambil dari kertas bekas bungkus semen. Warna-warni dibuat dengan polesan cat murahan.

Begitu Gua Natal jadi, maka segeralah dipasang-letakkan di bagian luaran gua berupa aneka patung mungil berwujud para gembala, bayi Kanak-kanak Yesus, Maria dan Yusuf, para malaikat, Tiga Raja dari Timur.

Tak lupa pula, juga diletakkan patung palungan yang kemudian mengisi “ruangan” bagian dalam gua.

Semua patung-patung mungil khas “hiasan” Gua Natal pada zaman itu hasil koleksi pembelian di Sendangsono atau dalam perjalanan pulang jalan kaki dari Gereja Promasan menuju Sanden.

Semua orang lalu bersorak gembira. Terutama, ketika Gua Natal made in rumahan ini akhirnya menemukan bentuk jadinya.

Berikutnya adalah tambahan memasang pernak-pernik lampu kelap-kelip yang disematkan di dinding dan “atap” gua. Biar kelihatan lebih nges, saat malam tiba.

Ungkapan iman

Gua Natal di zaman itu bukan lagi sekedar pelengkap dahaga akan penghayatan iman Kristiani bahwa Kanak-kanak Yesus telah lahir “menjadi manusia sama seperti kita”.

Pada waktu itu, hadirnya “bangunan” Gua Natal tersebut mampu membangunkan solidaritas bersama di kalangan anak-anak. Semangat bersama itu muncul, karena di hati setiap anak-anak pada zaman itu mau merasakan hal berikut.

Inilah saatnya harus membusungkan cinta akan Tuhan. Rasa yang sama itu pula ikut membumbung tinggi di hati sekalian para misdinar paroki waktu itu.

Ketika “bangunan” Gua Natal itu sudah jadi dan kemudian diletakkan di pojokan altar Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus Paroki Wedi, maka Umat Katolik paroki lalu menyempatkan diri berdoa di depan Gua Natal Kandang hewan di mana Bayi Yesus telah lahir dan kemudian diletakkan di palungan.

Tak ada Pohon Natal di sana. Mungkin juga sampai saat ini.

Gua Natal rasa kandang hewan

Tentang Gua Natal ini, saya lalu ingat akan keluarga Pakdhe Ciptosuwarno, umat Katolik di Desa Pandean, Kelurahan Pandes, Wedi, Klaten.

Pakdhe Cipto, demikian kami biasa memanggilnya, adalah Ketua Wilayah Santo Yusup. Pensiunan guru SD Kanisius Murukan I Wedi ini sungguh sangat semangat membangun citarasa iman Katolik terhadap Gua Natal.

Beliau tidak hanya rajin memimpin Sembahyangan Ubengan (baca: Doa Lingkungan) yang berlangsung di Wilayah Santo Yusup setiap bulan. Lebih dari itu, Pakdhe Cipto amat-amat grengseng (semangat sekali) mengajak segenap Umat Katolik setempat agar selalu membangun Gua Natal Kadang Hewan setiap kali Masa Adven tiba.

Bila titah itu sudah keluar dari mulutnya, maka sejenak kemudian, maka Mas Pri, Mas Priyadi, dan Mas Kris –anak-anak kandung Pakhe Cipto—langsung cancut taliwondo. Mereka lalu mencari bahan-bahan dasar berupa suket dan ilalang di Sungai Ujung.

Mas Pri dan adiknya Mas Priyadi adalah pihak-pihak yang paling gesit mencangkul mencarikan bongkahan suket. Mas Kris dan saya lalu mengangkatnya di keranjang bambu dan mengangkatnya ke rumah Pakdhe Cipto. Tidak jauh. Hanya 350-an meter saja.

Yang dibuat keluarga Pakdhe Cipto bukanlah sebuah Gua Natal mewah. Melainkan Gua Natal Kandang Hewan. Karena itu, suket dan ilalang harus menjadi bahan dasar utamanya.

Lampu kelap-kelip waktu itu belum populer. Barulah di tahun-tahun kemudian, lampu kelap-kelip abang ijo dan kuning itu baru ditambahkan sebagai pemanis suasana. Terutama, ketika kegelapan mulai datang.

Pohon Terang

Tiga dekade terakhir ini, ketenaran Gua Natal bercitarasa Kandang Hewan sudah mulai tergeser oleh Pohon Terang Natal. Denyut nadi semangat konsumtif yang dihempaskan di arena perbelanjaan kini semakin mendominasi hati orang, termasuk kita –Umat Katolik.

Yang disajikan di pusat-pusat perbelanjaan adalah semangat konsumtif. Karenanya, Pohon Natal dari batang pohon cemara sengaja dibuat sangat eksotik. Lalu dipasang dan dijejerkan dengan pernak-pernik lainnya seperti kapas putih, Sinterklas, aneka bungkusan berisi “hadiah” Natal.

Sangat sedikit atau bahkan sudah tidak pernah terjadi lagi terpapar di sana Gua Natal Kandang Hewan.

Admirabile Signum

Pergeseran makna rasanya sudah sekian lama terjadi sampai akhirnya di tanggal 1 Desember 2019 Paus Fransiskus membuat kita “terhenyak”. Dengan dokumen Admirabile Signum (2019) ini kita diingatkan kembali akan “esensi” Misteri Inkarnasi Ilahi yang terjadi di Perayaan Natal melalui hadirnya Gua Natal Kandang Hewan.

Gua Natal Citarasa Kandang Hewan itu mau melambangkan Yesus telah datang menjadi manusia dan “sama seperti kita”.

Semangat yang tersaji di sana adalah solidaritas. Tuhan telah menjelma menjadi manusia dan sama seperti kita. Ia hadir dalam semangat kesederhanaan, peduli dengan “kanan-kiri”.

Pohon Natal dan Sinterklas plus pernak-pernik lainnya, pada hemat saya, lebih menyodorkan semangat konsumtif. Ayo datang saja ke pusat perbelanjaan dan nikmatilah diskon khusus selama Christmas Season ini.

Begitu kurang lebih yang bisa saya “baca” dan rasakan setiap kali melongok “isi” pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Maka, di sana itu para karyawannya toko pun ikut “disuasanakan” bercitarasa Natal dengan memakai topi merah berjumbai panjang dan banyak lain semacamnya.

Terbitnya dokumen terbaru Paus Fransiskus yang bertitel Admirabile Signum atau Tanda Luar Biasa rasanya ingin mengembalikan citarasa kedalaman iman otentik. Yakni, bahwa Kanak-kanak Yesus itu telah lahir di kandang hewan –bukan di pusat belanja—dalam suasana serba berkekurangan dan miskin.

Gua Natal pertama tahun 1223

Dokumen Admirabile Signum itudirilis resmi oleh Vatikan pada tanggal 1 Desember 2019.

Paus Fransiskus merilisnya di Greccio, kota yang berlokasi sekitar 10 km arah utara Roma. Pemilihan lokasi di Greccio ini tentu ada makna mendalamnya.

Di Greccio ini pula, di tahun 1223 Santo Fransiskus Assisi –Bapa Pendiri Ordo Fransiskan—membuat Gua Natal bercitarasa Kandang Hewan untuk mengungkapkan imannya akan “Tuhan yang hadir menjelma menjadi manusia”.

Maka, Greccio menjadi lokasi di mana Gua Natal Kandang Hewan itu untuk pertama kalinya dibuat.

Paus rilis dokumen baru bertitel “Admirabile Signum” yang berarti “Tanda Luar Biasa” (Vatican News)

Ubah orientasi

Hadirnya dokumen baru dengan judul Admirabile Signum ini rupanya ditanggapi sangat positif oleh kaum religius –baik bruder, suster, dan imam—Indonesia.

Intinya, mereka menyambut gembira ajakan Paus Fransiskus untuk kembali lagi merawat “tradisi iman” kita zaman dulu. Yakni, setiap kali datang Masa Adven, buru-burulah segera membangun Gua Natal bercitarasa Kandang Hewan.

Mungkin, saatnya pula kita perlu mendorong semangat Umat Katolik agar senang membangun Gua Natal dengan citarasa Kandang Hewan. Ini agar esensi ungkapan iman akan Perayaan Natal itu “sampai” mendarat di hati kita.

Bukan dengan cara berbelanja atau beramai-ramai memakai topi merah berjumbai panjang layaknya Sinterklas. Namun, marilah kita mulai senang membangun Gua Natal Kandang Hewan.

Ini agar citarasa iman kita itu “sampai” pada pemahaman akan satu hal ini. Natal itu tiada lain adalah “peristiwa iman” tentang solidaritas Tuhan kepada umat manusia melalui Misteri Inkarnasi.

PS: Tulisan ini dipersembahkan untuk Umat Katolik Wilayah Santo Yusuf Jagalan, Paroki Wedi, Klaten; utamanya kepada keluarga Pakdhe Ciptosuwarno di Pandean yang telah memberi inspirasi hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here