Tangis Panjang Perancis Sesali Kebakaran Katedral Notre Dame de Paris

0
925 views
Bangunan Katedral Notre Dame de Paris karya Theodor Josef Hubert Hoffbauer. (Courtesy of Le Figaro)

KATEDRAL Notre Dame de Paris, demikian tulis Le Figaro edisi terbit tanggal 16 April 2016, bukan hanya sekedar bangunan sebuah gedung Gereja Katolik semata.

Lebih dari itu, kata koran yang eksis sejak tahun 1836 ini, Katedral Notre Dame de Paris yang dibangun pada abad ke-12 dan kini berusia 850 tahun adalah “saksi bisu” atas sejarah panjang budaya dan politik Perancis.

Aset sejarah politik dan budaya Perancis

Katedral Notre Dame de Paris memanglah bak sebuah pita seluloid kaset bergulung-gulung atau USB berkapasitas besar berisi “sejarah” perjalanan budaya, politik dan sastra Perancis yang sedemikian kaya dan panjang.

Namun, bukti dan rekaman sejarah itu –dalam beberapa bagiannya— kini telah remuk dimakan ganasnya kobaran api yang meluluhlantakan bagian atap, menara dan bisa jadi merusak bagian-bagian penting di bagian ruang dalam gedung gereja ini.

“Notre-Dame de Paris n’est pas qu’une cathédrale, vestige d’une époque où les hommes regardaient vers le ciel: c’est la maison commune, l’arche de notre histoire. C’est un pan inestimable de la France qui a été dévasté par les flames,” demikian tulis Le Figaro, koran beken terbitan Paris sejak abad ke-19.

Saksi sejarah

Kesan sedemikan melambung tentang sosok tenar Gereja Katedral Notre Dame de Paris ini tentu saja sangat berasalan. Di tempat inilah semua raja Perancis dahulu kala selalu mendapatkan legitimasinya secara religius dari petinggi Gereja Katolik yang berkuasa untuk menobatkan mereka sebagai penguasa Perancis.

Terletak persis di seberang Sungai Seine yang membelah Kota Mode Paris, Katedral Notre Dame de Paris sampai dikenang oleh Francois Mauriac dengan deretan kata-kata nan puitis ini.

Ketika tengah berlayar mengarungi aliran Sungai Seine, tiba-tiba saja mata bisa terpaku pada pemandangan di sebelah  bibir sungai. “Di sana bertengger bangunan Katedral Notre Dame de Paris layaknya kapal besar di tepian dermaga Sungai Seine darimana pelayaran berikutnya bisa dimulai lagi.”

Katedral Notre Dame de Paris memang indah dan tegas. Bukan saja karena tekstur arsitektur Gothik yang ditandai dengan garis-garis lengkung menghiasi pintu utama bagian depan.

Melainkan juga karena di sana ada les vitraux yang tak lain adalah aneka kaca patri berhiaskan aneka lukisan indah.

Lukisan-lukisan kaca ini dalam sekejap bisa menjadi sedemikian mencorot bersinar terang disertai paduan warna-warni yang mengkilat saat kena “tembak” pendaran sinar matahari.

Namun di sana juga ada menara. Dan menara itu berdiri menjulang ke atas setinggi 93 meter ke arah langit. Lengkap dengan aura nafas kekokohannya sebagai bangunan bertingkat yang seakan-akan ingin “menjangkau” langit Kota Paris yang sedari dulu hingga kini selalu diwarnai oleh eksotisme perbincangan tentang sastra, politik, dan filsafat sembari minum kopi di pelataran kafe, dan sesekali ikut menyaksikan peragaan mode.

Le Cathédrale

Menara tinggi, bangunan robust, dan le vitrail (atau bentuk jamaknya menjadi les vitraux) itulah yang dipuji oleh penyanyi legendaris Perancis Anne Sylvestre ketika melantunkan tembang tradisional Le Cathédrale di tahun 1960-an yang mendunia.

Berikut ini teks lirik lagu tradisional Perancis yang terkenal.

Ô bâtisseur de cathédrales

D’il y a tellement d’années

Tu créais avec des étoiles

Des vitraux hallucinés

Flammes vives

Tes ogives

S’envolaient au ciel léger

Et j’écoute

Sous tes voûtes

L’écho de pas inchangés

Mais toujours à tes côtés

Un gars à la tête un peu folle

N’arrêtait pas de chanter

En jouant sur sa mandole

Sans le chant des troubadours

N’aurions point de cathédrales

Dans leurs cryptes, sur leurs dalles

On l’entend sonner toujours

Combien de fous, combien de sages

Ont donné leur sang, leur cœur

Pour élever devers les nuages

Une maison de splendeur

Dans la pierre

Leurs prières

Comme autant de mains levées

Ont fait chapelle

Plus belle

Que l’on ait jamais rêvée

Demikian seterusnya.

Jauh hari, sastrawan besar Perancis Victor Hugo juga tak ketinggalan mengutarakan pujian selangitnya akan Katedral Notre Dame de Paris. Ini tersaji dalam novelnya bertitil Notre-Dame de Paris yang dalam bahasa Inggris menjadi The Hunchback of Notre Dame.

Sebuah film kartun produksi WaltDisney dengan kisah intinya mengambil intisari inspirasinya dari buku ini.

Yang selamat

Bagian atap dan menara Katedral Notre Dame memang sudah terbakar dan beberapa bagian di atasnya ambruk setelah menara setinggi 93 meter itu roboh.

Beberapa harta seni bernilai sejarah berhasil diselamatkan dari bencana kebakaran yang terjadi hari Senin malam (15/4) waktu Paris atau dinihari waktu Indonesia tanggal 16 April.

  • Jas mantel milik Santo Louis dan “Crown of Thorns”. Yang terakhir tak lain adalah “Mahkota Duri” yang dibuat oleh serdadu Romawi dan dipakaikan di atas kepala Yesus sebelum penyaliban sebagai olok-olok.
  • Benda sejarah yang berhasil diselamatkan adalah relikwi salib di mana Yesus tergantung di kayu salib dan sebuah paku salib.
  • Relikwi lain adalah sisa benda sejarah yang berkaitan dengan St. Denis dan St. Genevieve.
  • Beberapa koleksi lukisan yang dibuat kurun waktu tahun 1603-1707. Di sana ada 76 jenis lukisan, namun hanya 13 lukisan yang selalu dipasang di ruang publik di antaranya lukisan bergambar Pertobatan Saulus, mukjizat penyembuhan oleh St. Petrus, kisah penyaliban St. Andreas, dan kisah martir St. Stephanus karya Charles Le Brun.
  • 16 patung berbahan baku tembaga yang mengggambarkan 12 Rasul dan Empat Penulis Injil berhasil diselamatkan dari kobaran api.
Pemandangan dalam Gereja Katedral Notre Dame de Paris. (Ist)

Belum jelas apakah lukisan yang menggambarkan The Visitation of Jean Jouvenet (1716) dan St. Thomas Aquinas Antoine Nicolas (1648) berhasil selamat apa tidaknya.

Les vitraux

Kobaran api yang membakar bagian atap dan menara bagaimana pun juga telah mendatangkan atmosfir panas yang luar biasa dan itu sangat berdampak dari lukisan patri yang menempel pada dinding-dinding kaca di beberapa titik tembok bangunan Katedral Notre Dame.

Yang paling mengkhawatirkan tentu saja sejauh mana ikatan baja yang mengunci posisi masing-masing lukisan kaca itu masih mampu bertahan dari panasnya kobaran api atau tidak.

Les vitraux du Cathedral Notre Dame de Paris (ist)
  • Lukisan bergambar Tiga Mawar itu buatan abad ke-13 dan pernah direnovasi beberapa kali. Ketiga mawar surgawi itu melukiskan Bunda Maria (posisi tenah), Kanak-kanak Yesus  dan Yesus dalam kemuliaan-Nya (kiri-kanan).
  • Lukisan tersebut yang ada di posisi utara dan selatan punya garis diameter sepanjang 13 m.
  • Dalam gambar lukisan patri itu terdapat simbol  medali, nabi-nabi, santo-santa, malaikat, raja-raja,dan  sejumlah cuplikan hidup para santo-santa.

Organ pipa

Belum jelas bagaimana “nasib” tiga buah organ pipa yang menjadi koleksi Katedral Notre Dame de Paris. Utamanya adalah “organ besar” yang terdiri dari 8.000 buah pipa, buatan abad ke-15.

Orgel pipa buatan abad ke-15 di Gereja Katedral Notre Dame de Paris. (Ist)

Organ besar ini menjadi sangat “bersejarah”, karena berhasil “tak terjamah” oleh para demonstran pro Revolusi yang terlibat bentrok dengan pengawal kerajaan dalam Revolusi Perancis di abad ke-18.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here