Tentang Penderitaan Kristus, Inilah Risalah St. Petrus Canisius untuk Komunitas SJ (4)

0
119 views
Santo Petrus Canisius.

BAGAIMANA kita mesti mengisi diri kita dengan kegiatan yang menghasilkan buah dari derita Kristus di masa-masa ini?

Ada yang berkata: Selama hari-hari ini,

  • Saya akan lebih sering membaca kisah derita Tuhan, melakukan jalan salib (Catatan: Ini ofisi atau jam-jam merenungkan Derita Tuhan atau Salib Kudus. Kegiatan saleh ini oleh St. Petrus Canisius dimasukkan di dalam buku Hortulus Animae (Taman jiwa-jiwa) yang diterbitkan dengan kerjasama pada tahun 1563, latihan rohani yang dikenal untuk dilaksanakan pada hari Jumat.)
  • Saya akan menyampaikan doa-doa lain tentang penderitaan, menghormati luka-luka kudus atau tujuh luka yang mengalirkan darah (Catatan: Penulis lain berbicara mengenai enam aliran darah Kristus.) atau melakukan Jalan Salib.

Orang lain kiranya berkata:

  • Tuhan, dengan menghadirkan adegan dan tempat yang direnungkan serta ambil bagian di dalanya, ditemukan inspirasinya dari Latihan Rohani St. Ignatius 190), dari Herodes, dari Pilatus, dari bukit Kalvari;
  • Di sana saya akan berada di bawah salib bersama Maria, akan menangis seperti tangis Maria Magdalena, akan memberikan makam kosong untuk Tuhan seperti Yusuf Arimatea dan Nikodemus;
  • Atau saya akan merenungkan perjalanan penuh Tuhan di dalam derita-Nya, atau tujuh sabda yang Tuhan sampaikan di salib, atau akan merenungkan luka lambung Tuhan;
  • Dalam meditasi-meditasi, saya akan menekankan terutama percakapan, seperti dianjurkan oleh bulu Latihan Rohani. (Menurut Braunsberger, seorang ahli Petrus Canisius, dalam pokok ini dihilangkan kata “tiga” yang menunjukkan Triple Colloqui yang dianjurkan oleh St. Ignatius  saat memiliki permohonan penting dalam Latihan Rohani seperti terdapat dalam LR).

Semua hal tersebut bagus dan terpuji; bagus merenungkan secara khusus penderitaan Tuhan: di dalam renungan tentang penderitaan tersebut kita menemukan obat yang lebih manjur untuk menyembuhkan luka-luka karena dosa; renungan penderitaan Tuhan adalah buku kehidupan (lih: 62-63, 64, 147, 156, 168. 199) untuk belajar kebijaksanaan, sekolah dan model semua keutamaan, sumber air hidup. (Fil 3:3, Why 3:5; 20:12; 21: 27; 22: 19), sumber semua rasa perasaan, rasa sakit, rasa percaya, kasih, gairah dll, dan sumber semua rahmat.

Meditasi ini berguna untuk semua: untuk mereka yang baru mulai, untuk mereka yang sudah maju dan untuk semua yang sudah sempurna.

Orang lain lagi berkata:

  • Saya tidak hanya akan meditasi, tetapi akan melakukan latihan lebih banyak lagi dengan lebih rajin melakukan kebiasaan-kebiasaan laku tapa denda dan akan mewujudkan bela rasa yang sesungguhnya dalam karya, dengan menghilangkan sesuatu menyangkut kedagingan dan sensualitas;
  • Supaya saya tidak menjadi anggota yang halus (tanpa terkena akibat pergulatan melawan kedagingan) di bawah kepala bermahkota duri (Bil 20:6; Jer 2:13)
  • Karena jika kita ambil bagian dengan Kristus dalam penderitaannya, kita ambil bagian juga di dalam kemuliaan-Nya. (Pudeat sub spinato capite membrum fieri delicatum St. Bernardus).
  • Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Rom 8:17)

Sesuai dengan yang ditulis oleh Epifanius (Epiphanius Constantiensis, Uskup dan penulis Byzantin) mengenai orang-orang kristiani awal yang memiliki semangat tinggi dalam mengerasi diri, mereka makan tanpa minum, tidur di lantai, puasa secara ketat dan bersungguh-sungguh menjaga silensium (guardaban riguroso silencio).

Ini semua sejalan dengan kata-kata: menjadi milik Kristus, yang telah menyalibkankedagingan-Nya (Fil 2:5).

Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira (Gal 5:24).

Dan sekarang masih ditemukan orang-orang yang hidup dengan roti dan air yang mengenakan alat-alat matiraga, yang berdoa dengan tangan terentang seperti salib atau tengkurap di lantai, yang mengunjungi tempat penampungan orang-orang miskin dan rumah sakit, yang menghibur Yesus dalam diri orang-orang miskin.

Santo Petrus Canisius.

Dan kita yakin, tanpa ragu bahwa hal-hal seperti itu lebih menggembirakan Allah dan para malaikat-Nya serta semakin bermanfaat untuk orang-orang ketika dilakukan dengan hati yang lebih bersih dan jiwa penuh rasa bakti, demi kasih sejati akan Kristus yang menderita dan wafat serta demi keinginan yang lebih kuat untuk menghukum diri oleh karena dosa-dosa yang mengikat, mencambuk, menyalib dan hingga membunuh Kristus yang sama sekali tidak bersalah.

Jelas sekali bahwa adalah terpuji dan luhur tindakan matiraga dan penyangkalan diri manusia lama pada suatu kesempatan, terlebih pada waktu-waktu ini, ketika kita harus merenungkan apa yang dikatakan Kristus kepada kita: Engkau membebani Aku dengan dosa-dosamu, engkau menyusahkan Aku dengan kesalahan-kesalahan.  (Yes 43:24).

Dari pihak saya:

  • saya memberikan kebebasan kepada semua, dengan izin Superior dan Bapa Pengakuan, bentuk-bentuk matiraga apa yang mesti diambil dan dilakukan.
  • Tetapi tentu bukan tidak ada gunanya menempatkan diri setiap hari de depan Kristus yang berkata kepada kita dan menyemangati kita: Lihat, marilah kita ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan. (Luk 18:31).

Atau menjawab seperti Tomas: Marilah kita pergi juga dan mati bersama Dia. (Yoh 11: 16)

Atau, kita akan menerapkan kepada diri kita kalimat ini: Siapa yang ingin mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya (meninggalkan manusia lama, yang menyangkal kehendak pribadi, melepaskan keinginan untuk bersenang-senang dan keinginan kedagingannya), memanggul salib (menanggung dengan sabar dalam segala hal di belakang Kristus kuk dan beban ketaatan) dan mengikuti Aku (Mat 16:24; bdk. Luk 9:23) dalam keutamaan-keutamaan dasar: kesabaran, kerendahan hati, kasih.

Tetapi secara khusus, kita usahakan sungguh-sungguh pada masa ini:

  • supaya kita tahu bahwa kelalaian kita tidak menghormati penderitaan Tuhan sesering mungkin;
  • dengan rasa bhakti dan penuh buah rahmat, berarti mengabaikan harta kekayaan yang tersembunyi ;
  • di dalam meditasi mengenai derita dan mengambaikan obat manjur untuk memurnikan, menyembuhkan, serta menghibur, menerangi, menghangatkan dan menyemangati jiwa kita yang lemah oleh macam-macam penyakit;
  • sehingga kita tidak tahu bagaimana merenungkan yang Kristus derita untuk kita, baik secara lahir maupun batin;
  • tidak mengetahui Kristus yang membangun untuk kita tempat tinggal, bagaikan sarang di celah-celah dan lekukan batu karang (Kidung Agung 2:14)
  • sehingga karenanya kita juga tidak mengambil air dari sumber Penyelamat (Yes 12:3) karena kita sering menyambut komuni tanpa merenungkan dengan semangat derita Tuhan?
  •  Berapa kali kita melupakan Kristus yang tersalib di dalam misa, dalam hari-hari Jumat khusus, di depan gambar yang Tersalib?
  • Berbahagialah orang yang memiliki ingatan untuk mengingat dan mengenangkan, akal budi untuk memahami dan hati untuk mencinta Yesus dan Dia yang Tersalib ini. (1 Kor 2:2)

Input tentang St. Petrus Canisius 2019

Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan

27 Maret 2019

LA Sardi SJ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here