Tomohon, 6 Sept 1920: Usai Pesta Perak Imamat, Van Velsen SJ Serah Terima Misi Katolik Minahasa dari Jesuit ke MSC

0
306 views
Murid-murid Sekolah Guru di Woloan, Tomohon. (Ist)

SAYA sangat bahagia bisa mendapatkan ‘harta karun’ berupa informasi sejarah sangat indah dari arsip dokumen peninggalan almarhum P. Jan van Paassen MSC melalui P. Jacobus Wagey Pr. Isinya tentang Kronik Gereja Hati Kudus Tomohon sekitar tahun 1920.

Misi Katolik di Minahasa

Kronik itu ditulis antara lainoleh Sr. Marie Boniface Meyer JMJ asal Essen, Jerman. Suster Boniface adalah salah satu dari enam suster JMJ pertama yang tiba di Minahasa pada tahun 1898.

Yang menarik, demikian kesaksiannya, mereka berenam itu telah diseleksi dari 500 calon misionaris JMJ yang telah mendaftar menjadi ‘sukarelawan’. Mereka tunjuk jari dan itu ada di Belanda dan Jerman pada waktu itu.

Dari kronik Sr. Boniface JMJ itu, saya baru tahu bahwa trio MSC yang tiba di Manado tanggal 2 September 1920 itu antara lain Mgr. Gerard Vesters MSC yang waktu itu baru berumur 44 tahun.

Sebelum diangkat menjadi Praefek Apostolik Sulawesi, Mgr. Vesters  pernah bekerja di Brazil.Lalu kemudian beliau bekerja sebagai misionaris selama empat tahun di Filipina.

Sr. Boniface juga menulis bahwa Pastor Antonius Bröker dan Jack Klemann yang menyertai Mgr. Vesters masih jauh lebih muda dan kuat sehingga masa depan Gereja Katolik di Tomohon terjamin.

Jesuit di Minahasa

Namun bukan hal-hal di atas itu yang ingin saya tuliskan di sini, melainkan informasi dari Kronik itu tentang keberadaan Pastor Antonius van Velsen SJ.

  • Romo van Velsen SJ adalah pendiri Sekolah Guru (Kweekschool) di Woloan. Ia melakukan terobosan penting pada waktu yang hampir bersamaan dengan Romo van Lith SJ mendirikan sekolah guru di Muntilan.
  • Romo van Velsen SJ adalah pihak yang mengadakan serah terima karya misi Katolik Tomohon dari Jesuit ke MSC.
  • Romo van Velsen SJ kemudian menjadi Uskup di Batavia tahun 1924.
  • Romo van Velsen SJ itu juga yang mengizinkan MSC masuk ke Purworejo tahun 1927 ketika Yang Mulia telah menjadi Vikaris Apostolik Batavia.

Betapa besar dan penting peran dari misionaris Jesuit ini untuk wilayah pastoral MSC baik di Minahasa dan Purwokerto.

Pesta Perak Imamat

Namun bukan itu pula yang ingin saya tuliskan di sini tentang Romo van Velsen SJ.

Yang ingin saya angkat adalah informasi dari Sr. Marie Boniface JMJ bahwa pada tanggal 7 September 1920 itu –hari bersejarah serah terima Misi Katolik di Minahasa dari Jesuit kepada MSC– Romo van Velsen SJ juga mensyukuri anugerah 25 tahun Sakramen Imamatnya.

Tentang pesta perak tahbisan imamat Romo van Velsen SJ itu, Sr. Boniface JMJ menulis demikian:

“7 September 1920. Selasa. Pesta besar – Dua perayaan. Pesta perak imamat P. van Velsen, tapi hanya dirayakan internal. Dunia luar dibiarkan tidak tahu. Pastor (v. Velsen) misa di biara. Beliau sangat terharu. Sesudah misa ucapan selamat dari para Suster.”

Menurut cacatan P.  Jan van Paassen MSC, Romo van Velsen SJ berkarya di Tomohon, Woloan dan Tombariri kurun waktu tahun 1898–1921, yaitu selama 23 tahun.

Dari 25 tahun imamatnya itu, Romo van VelsenSJ menghabiskan 23 tahun dalam karya misi di Minahasa. Itu berarti ketika Romo van Velsen SJ ditahbiskan imam tanggal 7 September 1895, sebagai imam muda yang baru ditahbiskan, beliau langsung dikirim ke Indonesia dan kemudian diutus ke Minahasa.

Selama 23 tahun, Romo van Velsen SJ bekerja dengan tekun dan bijaksana untuk melahirkan guru–guru misioner.

Mgr. Anton Pieter Franz van Velsen SJ.

Banyak dari lulusan Kweekschool Woloan itu diutus ke Maluku dan Papua. Ada pula yang sampai di pusat misi Tanjung Sakti di Sumatera.

Guru Tinangon dikirim oleh Romo van Velsen SJ untuk memimpin sekolah di Tanjung Sakti atas permintaan dari para misionaris di Sumatera itu.

Saya kutip informasi dari Sejarah Gereja Keuskupan Palembang.

“Mgr. Liberatus Cluts, Praefek Apostolik Palembang, minta bantuan Pastor Antonius van Velsen SJ agar bersedia mengirim beberapa guru ke Tanjung Sakti. Guru–guru dari Woloan sangat dibutuhkan demi masa depan misi di Tanjung Sakti. Pada bulan Januari 1919, guru–guru dari Woloan telah tiba di Tanjung Sakti, salah satunya bernama Josef Tinangon yang akhirnya menjadi kepala sekolah di sekolah laki–laki. (Kawanan Kecil di Sumatera Selatan 1824–1942, CP 2009, hlm 94 – 95).

Pastor Stigter MSC mengagumi dan memuji terobosan Romo van Velsen SJ dalam merintis Sekolah Guru dan pelayanan pastoral umat di Woloan dan Tombariri.

“Ada dua ruang kelas untuk sekolah guru itu. Yang satu adalah ruang kerja sederhana dari Pastor van Velsen dan yang kedua adalah gerobak di atas pedati tempat menaruh buku–buku pelajaran. Para siswa mengikuti jalan dinas Pastor van Velsen dan sepanjang perjalanan mendapatkan pelajaran sekolah guru itu. Sesampainya di kampung tujuan, Pastor van Velsen mengadakan pelayanan sakramen dan Perayaan Ekaristi, lalu dilanjutkan lagi dengan pelajaran sekolah guru berjalan itu.”

Pastor van Velsen SJ bersama para guru Sekolah Guru di Woloan, Tomohon . (Bode Talumewo)

“Misionaris besar Romo van Velsen SJ ini merayakan pesta imamat ke-25 secara tertutup dan sederhana. Misa syukur dirayakan besama enam suster JMJ di biara mereka dan Romo van Velsen sangat terharu dengan peringatan itu. Beliau merasakan kasih Allah yang telah memanggilnya menjadi imam dan mengutusnya menjadi misionaris.”

“Perayaan yang sangat sederhana itu terasa begitu mulia dan penuh makna karena dihayati oleh Romo van Velsen sebagai karunia Allah yang besar. Apalagi hari itu akan dilaksanakan serah terima karya misi dari Jesuit kepada MSC.”

“Jesuit telah menaburkan benih iman sejak tahun 1868 dengan kedatangan Pastor Jan de Vries SJ dan kini para misionaris Hati Kudus akan melanjutkan karya penyelamatan Allah itu.”

“Perasaan Romo van Velsen bercampur aduk sangat bahagia. Beliau ingat tahun- tahun panjang merintis karya misi di tanah Mihanasa ini dan beliau melihat barisan para MSC siap mengambil alih misi itu.”

“Jesuit mewarisi MSC: Umat dan Gereja, Sekolah Guru Woloan, Majalah Gereja Katolik dan ‘para suster JMJ’. Para MSC kemudian merawat dan memelihara serta mengembangkan karya–karya itu.”

Sekarang ini, kalau ada imam merayakan pesta Imamat ke 25, tentu dirayakan dengan meriah. Kronik yang ditulis Sr. Marie boniface JMJ itu menyingkapkan peristiwa sederhana dengan makna yang luar biasa bahwa Romo van Velsen merayakan HUT Imamat ke-25 pada hari serah terima Misi  Katolik di Minahasa dari Jesuit kepada MSC tanggal 7 September 1920.

Seminari Pineleng, Senin, 28 Mei 2018.

(98 tahun kemudian dari perayaan  sederhana di Tomohon itu).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here