“Blitz” Menjadi Mimpi Buruk Polisi London

0
1,686 views

DENDAM kesumat adalah beban hati yang tak pernah berhenti membebat pribadi seseorang.

[media-credit name=”Google” align=”alignleft” width=”300″][/media-credit]Hanya lantaran pernah menjadi bulan-bulanan jotosan kasar seorang polisi bernama Tom Brant (Jason Statham) di sebuah tempat bilyar beberapa tahun sebelumnya, nafsu amarah Blitz (Aidan Gillen) terhadap korps kepolisan di London sepertinya tak pernah lekang oleh perjalanan waktu.

Bak disiram bensin, maka dendam amarah itu semakin berkobar “membakar” semangat kebenciannya terhadap polisi manakala secara tak sengaja bertemu lagi dengan Brant karena urusan kriminal.

Mungkin tepat menyebut Blitz ini film noire layaknya film-film Eropa yang mengambil selera berbeda dibanding film-film keluaran Holywood. Sebagai film British besutan sutradara Elliot Lester, Blitz sudah barang tentu tak suka mengumbar dar-der-dor atau bak-buk-bak-buk. Sebelumnya di sejumlah film keluaran Bukit Holywood, aktor laga Inggris Jason Statham ini sungguh nyaris identik sebagai pria macho berotot yang tak gampang mati. Ia muncul gagah perkasa sebagai kurir elit di Transporter 1 bersama aktris Taiwan super imut nan seksi Shu Qi (Hsu Chi) yang berlanjut dengan sekuel kedua berjudul Transporter 2 dan ketiga Transporter 3.

Namun dalam Blitz garapan sutradara Lester, Jason Statham alias Tom Brant –seorang reserse polisi maniak kekerasan– ini justru tampil sebagai pecundang murni. Bersama kolega reserse polisi bernama Porter Nash (Paddy Considine), mereka berdua ini menjadi bulan-bulanan di tangan Blitz, seorang residivis pembunuh kejam yang selalu buron. Blitz alias Barry Weiss tidak saja lihai mengelabuhi kedua petugas polisi ini dengan banyak alibi hingga tak bisa dibekuk masuk sel. Lebih dari itu, tiga orang polisi dan satu informan kepolisian terpaksa menjadi “makanan empuk” nafsu membunuh berkobar Blitz lantaran dendam kesumatnya tanpa henti terhadap korps penegak hukum ini.

Saking lihainya berkelit dan bermain peran, bahkan seorang reporter senior spesialis kriminal bernama Dunlop (David Morrissey) pun ikut menjadi bulan-bulanan permainan “petak-umpet” Blitz. Pembunuh psikopat ini punya maksud: begitu aksi brutalnya membantai polisi turun menjadi headline di banyak media cetak dan elektronik, Blits menjadi lega dan puas lantaran aksinya balas dendam sudah terekspose secara gratis di media massa.

Klop sudah. Media massa melalui Dunlop dapat berita eksklusif, sementara Blitz mendapatkan “jatah iklan” gratis. Simbiosis mutualisme.

Akhirnya, di layar putih kisah panjang kekejaman Blitz berakhir pada satu kata: menegakkan hukum tanpa banyak cing-cong alias “pukul dulu, urusan dan bukti hukum belakangan”. Meski belum punya barang bukti atas tuduhan melakukan pembunuhan namun karena sudah kadung jengkel terhadap Blitz, maka tak ada pilihan lain bagi sejoli reserse polisi yakni Tom Brant dan Porter Nash untuk “main kayu”: mengirim Blitz ke “Sukabumi” alias “suka tanah/dimatikan” daripada terus membuat geger kota London dengan aksi brutalnya membantai polisi.

Mengendalikan dendam

Blitz adalah potret suram atas entitas manusia bernama emosi jahat yakni dendam kesumat. Film British ini dengan lihai mengumbar rasa ingin tahu penonton akan ganasnya nafsu amarah dan dendam kesumat, apabila tidak berhasil dikendalikan. Adalah tugas kita sebagai manusia-manusia beradab untuk mengendalikan diri kita agar tatanan masyarakat bisa diatur sesuai kaidah hukum dan aturan sosial-kemasyarakatan yang berlaku di tempat.

Blitz adalah dunia anomali alias “tiada aturan”. Sang polisi yang mestinya taat hukum malah main narkoba, gampang main pukul, dan aiya…gay lagi! Mana ada sih polisi kok punya minat seksual ke sesama jenis? Blitz adalah dunia hitam dimana manusia berada di bawah kendali amarah dan dendam.

Kalau saja Santo Ignatius pernah nonton Blitz ini, tentu dia akan geleng-geleng kepala. Heran, kenapa ada manusia-manusia beradab di panggung dunia modern tidak bisa mengendalikan diri? Persis seperti dunia kita sekarang ini, banyak manusia dengan tingkat pendidikan tinggi namun tingkat peradabannya rendah. Mereka ini tak bisa menghormati orang lain, maunya menang sendiri dan tak kalah sensasionalnya: yang penting “kami” makmur dan terserah kalian!

Dalam kondisi tatanan masyarakat seperti ini, tak heran kalau “sekolah-sekolah” penataan batin seperti meditasi, kontemplasi, motivator menjadi laris. Film Blitz mengingatkan jelas, apa pun kedudukan sosial kita, “diri” kita ini mesti ditata, diatur dan bahkan kalau perlu “dijinakkan” agar kita mampu menunjukkan diri sebagai manusia-manusia beradab.

Mathias Hariyadi, penulis dan anggota redaksi Sesawi.Net.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here