Ngopi Bareng Jesuit: Demokrasi di Indonesia Masih Bergantung pada Siapa “Supirnya”

0
1,322 views
Ki-ka: Romo Franz Magnis-Suseno SJ, Fr. Dionisius Amadea SJ, dan Romo Setyo Wibowo, SJ. (Vincent Suriadinata)

PEMILU makin dekat dan tinggal menghitung hari. Ada yang sudah menentukan pilihan untuk memilih Jokowi maupun Prabowo, bahkan memilih untuk golput. Lalu apa pandangan dua pastor Jesuit terkait dengan memilih pemimpin?

Hari Sabtu, 30 Maret 2019,  digelar sarasehan “Ngopi Bareng Jesuit” yang mengangkat tema “Memilih Pemimpin: Hak atau Kewajiban?” di Sanggar Prathivi, Jakarta Pusat.

Acara ini digelar oleh tim Promosi Panggilan Serikat Jesus (SJ) dan menghadirkan dua orang nara sumber yakni Romo Franz Magnis-Suseno SJ dan Romo Setyo Wibowo SJ serta di moderatori oleh Fr. Dionisius Amadea SJ.

Beberapa waktu lalu publik sempat dihebohkan dengan pendapat Romo Magnis soal sikap golongan putih atau golput. Menurutnya, pemilih golput memiliki tiga kemungkinan sifat yakni bodoh, berwatak benalu, atau secara mental tidak stabil (psycho-freak).

“Saya merasa saya keseleo memakai istilah itu. Sebetulnya saya tak mau menghina para golput, tapi saya terkesima oleh kerennya kalimat itu. Dan saya rasa itu kesalahan dan blunder yang besar. Tetapi pendapat saya mengenai golput tak berubah,” kata Romo Magnis.

Mantan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu menilai tindakan golput merupakan bentuk deligitmasi terhadap proses demokrasi yang saat ini berjalan di Indonesia. Dengan memutuskan menjadi golput, ia mengatakan sesorang  sama artinya  tidak peduli dengan apa yang akan terjadi dengan Indonesia untuk lima tahun mendatang.

Ia sepakat bahwa dua calon yang tengah bersaing saat ini, Joko Widodo dan Prabowo Subianto memiliki kelemahan masing-masing. Namun setidak ideal apa pun calon yang tersedia, tidak bisa dijadikan alasan untuk menjadi golput. “Kalau begitu, sekurang-kurangnya memastikan yang anda anggap paling buruk jangan terpilih. Dan itu logika internal yang kuat,” ujar Romo Magnis.

Romo Setyo Wibowo SJ.

Abstentisme

Dalam sarasehan ini, Romo Setyo Wibowo coba mengangkat fenomena lain yakni abstentisme. Ini adalah situasi ketika orang abstain, tidak mau terlibat, dan tidak mau ikut-ikutan dengan berbagai macam alasan.

“Sebetulnya hal ini lebih karena tidak mau bertanggungjawab. Kepada teman-teman yang cenderung abstain ini, kami mengingatkan bahwa kebebasan yang kita miliki sekarang ini adalah hasil perjuangan panjang. Maka ini harus dijaga, dengan cara terlibat. Maka mari kita datang ke TPS, kita tunjukkan keterlibatan kita, concern kita, dan juga cinta kita kepada kebebasan dengan terlibat aktif di pemilu,” jelas Romo Setyo yang juga merupakan Kepala Program Studi Filsafat STF Driyarkara.

Di lain sisi, Romo Setyo coba memberikan perbandingan antara demokrasi yang terjadi di Indonesia dengan demokrasi di negara barat.

Secara institusi, demokrasi di Indonesia masih belum sekokoh di barat dan masih bergantung pada pemimpin yang kita pilih.

“Demokrasi Indonesia sudah memiliki banyak kemajuan, tetapi saya selalu membandingkan begini, demokrasi di Barat itu sudah mantap ibarat mobil Mercy. Siapa pun supirnya, contohnya di Amerika Serikat terpilih Trump, kalau mobil itu terbalik penumpangnya masih selamat. Tetapi demokrasi di Indonesia ini perumpaan saya seperti bajaj. Kita sangat bergantung pada supir, dan kalau supirnya tidak bagus, bajaj itu terjungkal, kita runyam semuanya,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here