26 April 2020 Hari Minggu Paskah III (P) – Perjalanan Menuju Emmaus

0
791 views
Dua murid dalam perjalanan menuju Emmaus. (Ist)
  • Kis. 2:14,22-33;
  • Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11;
  • 1Ptr. 1:17-21;
  • Luk. 24:13-35

Lectio

13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14  dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.

15  Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.

16  Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. 17  Yesus berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”

Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 18  Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” 19  Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?”

Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 20  Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.

21  Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. 22  Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 23  dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 24  Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”

25 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 26  Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” 27  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. 29  Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”

Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. 30  Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 31  Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.

32 Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” 33  Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.

34 Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.” 35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti (Luk. 24:13-35)

1. Meditatio, exegese

Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi

Petrus berdiri bersama dengan sebelas rasul lain.

Matias telah dipilih sebagai pengganti Yudas Iskariot, sehingga jumlah kembali menjadi dua belas (bdk. Kis. 1:26). Petrus memang salah satu dari kedua belas rasul itu, tetapi ia tidak ada di posisi yang sama dengan para rasul lain, ia berdiri sendiri sebagai primus inter pares, yang lebih diutamakan, dan mengambil peran sebagai juru bicara.

Ia diakui sebagai pemimpin oleh sebelas orang rasul lain. Dan pada saat yang sama, kedua belas orang rasul itu tampil sebagai Dewan Apostolik Gereja untuk pertama kali.

Petrus berbicara sebagai pemimpin dewan Gereja seperti yang ia lakukan dalam Kis. 1:15 dan dilanjutkan dalam Kis. 2:37; 3:4, 6, 12; 4:8, 13; 5:3, 8-9, 15, 29; Kis 10-11; dan Kis. 15:7-11.  Dalam khotbah, Petrus mewartakan apa yang diajarkan Yesus pada para rasul dan murid yang lain pada hari Kebangkitan-Nya, seperti dicatat Santo Lukas dalam Luk. 24.

Ia mengacu dan mengutip seluruh nubuat Kitab Suci yang dipenuhi dalam diri Yesus Kristus, Mesias yang berasal dari keturunan Daud (bdk. Yes. 11:1-5, 10; Yeh. 34:23; 37:25; Mat. 1:1). 

Selanjutnya, ia menerapkan seluruh acuan yang berasal Kitab Suci versi bahasa Yunani atau Septuaginta (LXX)  pada situasi yang dihadapi sekarang.

Dalam bagian ini, pewartaan Petrus dapat dibagi dua bagian: dalam bagian pertama (Kis. 2:16-21) dijelaskan bahwa jaman Mesias yang dinubuatkan Nabi Yoel telah tiba sekarang; dan, dalam bagian selanjutnya (Kis. 2:22-36), Petrus menjelaskan bahwa Yesus dari Nazareth, yang disalibkan orang Yahudi, adalah Mesias yang dijanjikan Allah dan dirindukan semua orang benar dari Perjanjian Lama. Dialah yang melaksanakan rencana keselamatan Allah.

Santo Yohanes Chrysostomus menulis tentang karya Roh Kudus yang terlaksana melalui pewartaan Santo Petrus, “Dengarkanlah dia yang sedang berkhorbah dan berargumentasi dengan gagah berani. Belum lama kita saksikan ia terbata-bata berbicara pada seorang budak perempuan (Luk 22:56).

Keberanian ini mengungkapkan bukti penting atas kebangkitan Gurunya: Petrus berkhotbah pada manusia yang menghina dan mentertawakan semangatnya. […] Tuduhan ‘mabuk karena anggur manis’ tidak menggentarkan para rasul; kata-kata kasar tak penah memadamkan semangat mereka, karena kedatangan Roh Kudus membuat mereka menjadi manusia baru, pribadi yang mampu menghadapi segala jenis cobaan dari manusia.

Ketika Roh Kudus berdiam di hati manusia, Ia menumbuhkan dan membangkitkan semangat; mengubah jiwa yang bersifat fana, jiwa dari tanah liat, menjadi jiwa yang terpilih, sehingga menjadi umat yang gagah berani […] Pandanglah persekutuan yang harmonis di antara para rasul.

Saksikan kebesaran hati mereka yang mengizinkan Petrus berbicara atas nama mereka. Petrus berbicara lantang pada seluruh umat dengan percaya diri. Inilah keberanian yang tumbuh dalam diri manusia yang menjadi alat Roh Kudus. […]

Sama seperti arang yang membara tak pernah kehilangan panasnya ketika jatuh di tumpukan jerami kering; bara arang selalu mampu melepaskan panas dan membakar. Demikian juga dengan Petrus, karena Roh Kudus tinggal dan menghidupinya di dalam hati, ia mampu mengobarkan api semangat pada mereka di sekelilingnya” (dikutip dari Homily on Acts, 4).

Membuktikan bahwa Yesus dari Nazaret adalah Mesias yang dinubuatkan para nabi, Santo Petrus mengingatkan para pendengar akan mukjizat dan tanda yang dibuat Yesus (Kis. 2:22), kematian-Nya (Kis. 2:23), kebangkitan-Nya dari mati (Kis. 2:24) dan kenaikan-Nya ke sorga dengan penuh kemuliaan (Kis. 2: 33-35). 

Pewartaannya yang panjang diakhiri dengan penyataan bahwa ia dan para rasul adalah saksi dari semua itu (Kis. 2:36). Yesus sekarang sudah bertahta mulia di sorga, karena Ia dibenarkan Allah dengan cara dibangkitkan dari kematian dan diangkat ke surga.

Sekali lagi, ditekankannya (Kis 2:32), “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi”, Hunc Iesum resuscitavit Deus, cuius omnes nos testes sumus.

2. Ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.

Di hari kebangkitan Tuhan, dua orang murid pergi meninggalkan Yerusalem dengan wajah muram. Kedua orang itu hendak pulang ke Emaus, yang terletak kira-kira 7 mil atau 60 stadia atau 11 kilometer dari Yerusalem.

Santo Markus juga mencatat kisah ini dan penampakan Yesus di Ruang Tengah di Yerusalem (Mrk. 16:12-17). Namun, hanya Santo Lukas mencatat rincian perjumpaan antara Kristus yang telah bangkit dan dua murid itu.

Santo Lukas melukiskan suasana murung saat kedua murid itu melangkahkan kaki keluar kota Yesusalem. Mereka kehilangan harapan akan Yesus.  Yang mereka harapkan ternyata mati sia-sia di salib dalam keadaan yang terkutuk (bdk. Ul. 21:23). Kesedihan yang menyayat hati terus dibawa, sehingga melumpuhkan seluruh jiwa dan raga.

Kelumpuhan itu membuat mereka tidak mampu mencerna dengan jernih apa yang sedang dilakukan Tuhan terhadap perjalanan sejarah manusia. Santo Lukas melukiskan dengan tepat, “ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia” (Luk. 24:16).

Kata yang digunakan εκρατουντο, ekratounto dari kata kerja krateo, menguasai, memegang, menghalangi, menangkap. Mata batin mereka tidak mampu lagi mencerna seluruh peristiwa yang terjadi; dan iman mereka menjadi buta.

Sehingga, saat mereka berjumpa dengan Yesus, mereka tidak mampu mengenali-Nya, επιγνωναι, epignonai, dari kata epiginosoko, mengenal, mengenali, mengetahui.

Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?

Sementara mereka berjalan ke arah Emaus, Yesus menjumpai di tengah jalan dan menyapa, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” (Luk 24:17).

Yesus membuka percakapan. Ia tahu apa yang berkecamuk di lubuk hati kedua murid itu. Hidup menjadi tak bermakna seiring dengan padamnya harapan mereka.   Yesus memahami hati mereka dan berjuang sangat keras untuk memulihkan iman dan harapan mereka berdua.   

Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?”  Yesus ingin tahu apa yang berkecamuk dalam pergulatan batin mereka.  Yesus mengalami kegagalan ketika Ia mewartakan Kabar Suka Cita di awal karya-Nya di Nazareth, bahkan Ia hendak dijatuhkan ke dalam jurang (Luk 4:16-30), Ia kini mengalami ancaman kegagalan lain, justru dari sahabat-sahabat terdekat.

Bagi mereka berdua, Yesus Orang Nazareth, yang dianggap sebagai nabi Allah yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan bangsa Yahudi, ternyata, telah dihukum mati dengan cara disalib. Mereka mengharapkan-Nya menjadi pembebas dari segala macam belenggu, ternyata, berakhir sia-sia.

Bahkan, sekarang pun, mayat-Nya tidak ada di kubur. Mereka berdua tidak percaya akan warta kebangkitan-Nya yang disampaikan para perempuan dari komunitas iman mereka sendiri, bahkan dari Petrus (Yoh. 20:1-8). Mereka menyangka kematian Yesus adalah kematian orang yang dikutuk Allah (bdk. Ul. 21:23).   

Para murid menyebut Yesus sebagai “nabi” (Luk. 24:19). Santo Lukas menggunakan kata nabi dalam Injilnya sebanyak lima kali (Luk.  4:24; 7:16, 39; 13:33; 24:19) dan tiga kali dalam Kisah Para Rasul (Kis.  3:22-23; 7:37; 8:34-35).

Gelar ini melukiskan peran Yesus sebagai Musa baru dalam Keluaran baru di Perjanjian Baru dan memenuhi nubuat Musa dalam dalam Ul.  18:17-19 (bdk. Luk 9:31 ketika Musa dan Elia berbicara dengan Yesus tentang tujuan kepergian-Nya, exodus ke Yerusalem).

Kedua murid itu mengharapkan Yesus ‘membebaskan’ Israel seperti yang dilakukan Musa dahulu. Santo Lukas di awal Injilnya menyingkapkan tema pembebasan dalam Luk. 1:68 dan 2:38.

Namun, gagasan itu berlainan dengan apa yang dipikirkan oleh dua orang murid itu. ‘Pembebasan Israel’ harus dimaknai secara rohani sebagai pemulihan  kaum yang tetap setia pada perjanjian dengan Allah (lihat Kis. 13:23).

Di samping itu, para murid Emaus membenarkan akan kunjungan kaum perempuan, Petrus dan murid yang dikasihi Yesus ke makam yang yang telah kosong (Yoh. 20:1-10).  

Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?

Yesus menegur mereka. Bahkan, Ia mencela kebodohan mereka karena mereka tidak mengerti akan makna peristiwa di Yerusalem dalam tiga hari terakhir.

Maka, meneruskan apa yang dikatakan Kleopas tentang hidup dan karya Yesus (Luk. 24:19), sengsara dan kematian-Nya (Luk. 24:20), rasa putus asa yang alami para murid (Luk. 24:21), dan peristiwa di Hari Minggu (Luk. 24:22), Yesus menegaskan (Luk. 24:26), “Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?”, Nonne haec oportuit pati Christum et intrare in gloriam suam?    

Selanjutnya, Yesus tidak berkhotbah tentang Kitab Suci. Ia menemani para sahabat-Nya untuk memaknai keputus-asaan dan mencari jalan keluar. Ia menjelaskan seluruh Kitab Suci untuk memberi makna baru atas seluruh rangkaian peristiwa mulai dari Galilea hingga Yerusalem.

Sebelumnya, Ia mengajak kaum Yahudi untuk kembali berpaling ke Kitab Suci, karena Kitab Suci bersaksi tentang Dia, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku” (Yoh. 5:39).

Lalu, Ia menjelaskan tiap kitab, mulai dari kitab Musa hingga para nabi.  

Kitab Suci memuat nubuat bahwa Allah melaksanakan rencana penyelamatan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Mesias.

Salib bukan kegagalan. Salib adalah jalan yang dipilih Allah untuk mengalahkan dosa dan maut secara definitif (bdk. 1Kor. 1:23-24). Banyak orang sejaman Tuhan salah menafsirkan teks Kitab Suci.

Tak ada seorang pun mampu mengetahui dan menjelaskan makna Kitab Suci, kecuali Tuhan. Dalam Tradisi Gereja Katolik, mempelajari Perjanjian Lama harus diterangi oleh Kristus dalam Perjanjian Baru.

Santo Augustinus, Uskup dari Hippo, menulis, “Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru”, Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet”  (dikutip dari Quaestiones in Heptateuchum 2,73; lihat Katekismus Gereja Katolik, 128-129).

Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?

Hari menjelang malam dan matahari hampir terbenam, saat mereka sampai di Emaus. Yesus tidak memaksa untuk bersama mereka berdua, tetapi Ia menanti diundang.

Mereka mengundang-Nya untuk singgah (Luk. 24:29), “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam”, Mane nobiscum, quoniam advesperascit, et inclinata est iam dies.

Di rumah, saat perjamuan, Ia duduk di antara mereka. Dalam tradisi bangsa Yunani, mayoritas jemaat yang dibina Santo Lukas, sikap duduk dalam jamuan makan adalah sikap duduk orang merdeka; sedangkan para budak harus berdiri dan bersiap melayani kebutuhan para tuan dan nyonya yang sedang bersantap.

Mereka juga duduk ketika ikut ambil bagian dalam Perjamuan Malam Terakhir (Luk. 22:14-23). Saat duduk bersama di meja perjamuan, mereka berdua masih belum mengenal teman mereka dalam perjalanan dan mereka undang makan.

Mereka baru mengenal siapa teman dalam perjalanan saat Yesus “mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka” (Luk. 24:30; lihat Luk. 22:14-19). Saat itulah terbukalah mata mereka. Tetapi Ia telah lenyap dari tengah-tengah mereka.

Yesus telah membuka mata kedua murid-Nya dan dengan cara yang sama Ia juga membuka mata mereka akan makna mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya.  Dan sekarang, seluruh orang Katolik dari generasi satu ke generasi lain harus membuka mata pada Yesus Kristus, yang mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dalam Ekaristi.   

Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit membuat hati kedua murid itu berkobar-kobar. Kata mereka (Luk. 24:32), “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”, Nonne cor nostrum ardens erat in nobis, dum loqueretur nobis in via et aperiret nobis Scripturas?

Dengan hati yang berkobar-kobar, mereka kembali ke Yerusalem untuk mewartakan dan bersaksi bahwa Kristus telah bangkit dan menampakkan diri kepada Simon, yang disebut Petrus.

Santo Paulus juga menulis bahwa Yesus yang mulia telah menampakkan Diri-Nya kepada Petrus, dalam bahasa Yunani Petros (1Kor.15:5). Sebelas murid yang lain pastilah para rasul setelah pengkhianatan dan kematian Yudas Iskariot.

Katekese: Tinggallah bersama kami Santo Gregorius dari Nazianzus, 329-390

“Perjalanan berakhir ketika mereka sampai di desa. Karena tidak menyadari apa yang sedang berlangsung,  kedua murid itu yang sangat terpengaruh oleh kata-kata dan kasih yang Allah yang menjelma menjadi manusia, menyesal karena Ia segera berlalu. Karena Yesus “seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya” (Luk. 24:28).

Tuhan kita tidak pernah memaksakan diri-Nya pada kita. Ia menghendaki kita untuk berpaling pada-Nya dengan penuh kebebasan, karena kita mulai memahami kemurnian Kasih-Nya yang Ia tempatkan dalam jiwa kita. Kita harus kembali melihat-Nya, karena sesuatu yang menghalangi mata mereka, dan memohon pada-Nya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam” (Luk.  24:29).

“Sama seperti kita – selalu tidak punya keberanian, barangkali karena tidak jujur, atau karena kita merasa tidak punya malu. Jauh di dalam lubuk hati, apa yang kita renungkan adalah, “Tinggallah bersama kami, karena jiwa kami diselubungi kegelapan dan Engkaulah satu-satunya Cahaya. Hanya Engkau dapat memuaskan kerinduan yang mengoyak jiwa kami.”

Karena kami sadar bahwa di antara segala sesuatu yang indah dan berharga, yang terbaik adalah bahwa kami dimiliki Allah selama-lamanya” (dikutip dari Epistulae, 212).

Oratio-missio

  • Tuhan, tinggallah di tengah-tengah kami. Jangan pisahkan kami dari-Mu. Amin.
  • Apa yang perlu aku lakukan untuk selalu mengenali kehadiran-Nya, terutama saat di rumah dan di pandemi?

Mane nobiscum, quoniam advesperascit, et inclinata est iam dies – Lucam 24:29

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here