40 Tahun Imamat Romo Mudji Sutrisno SJ dan Romo Ag. Purnama MSF: Imamat Harus Tuntas Sampai Pemberhentian ke-14 Jalan Salib (4)

0
195 views
Trias Kuncahyono bicara tentang perjalanan imamat selama 40 tahun Romo FX Mudji Sutrisno SJ dan Romo Agustinus Purnama MSF dengan simbolisasi prosesi Jalan Salib sampai Pemberhentian ke-14 menuju Gua Maria Sendangsono. (Mathias Hariyadi)

40 tahun menjalani “profesi” dan panggilan religius sebagai imam itu jelas bukan perkara waktu pendek.

“Ini perjalanan waktu dan kisah kehidupan yang sangat panjang,” kata Trias Kuncahyono, wartawan senior Harian Kompas, saat didaulat oleh IKAFITE (Ikatan Alumni Fakultas Filsafat Teologi Sanata Dharma) untuk memberi sambutan.

Percakapan itu terjadi saat perayaan pesta 40 tahun imamat kedua imam yubilaris: Romo FX Mudji Sutrisno SJ dan Romo Agustinus Purnama MSF di Kapel Kolese Kanisius Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu petang 14 Januari 2023.

Waktu yang sedemikian panjang itu, demikian kata Trias, ibarat meniti jalan panjang dari Slanden menuju Gua Maria Sendangsono.

“Tapi bukan di zaman saat ini di mana mobil dan sepeda motor sekarang sudah bisa parkir tidak jauh dari Gua Maria. Tapi perjalanan ziarah zaman baheula,” kata Trias Kuncahyono, keponakan Uskup Emeritus Keuskupan Ketapang Mgr. Blasius Pujaraharja.

“Terjadi, ketika semua peziarah harus melakukan ziarah fisik dengan berjalan kaki dari titik pemberhentian parkiran mobil ‘di bawah” bernama Slanden menuju Gereja Santa Maria Lourdes Paroki Promasan.

Lalu masih harus mau berjalan lagi dari titik berangkat Gereja Paroki Promasan menuju lokasi Gua Maria,” tambah penulis produktif dengan label Kredensial ini.

Ilustrasi: Kontingen Asian Youth Day ke-7 tahun 2017 dari Malaysia, Korea, dan peserta lainnya datang mengunjungi Gua Maria Sendangsono (Mathias-Hariyadi)

Dua etape jalan peziarahan

Menurut Trias, kisah peziarahan menuju Gua Maria Sendangsono zaman baheula selalu menyertakan kisah-kisah menarik penuh kenangan.

Selain bahwa rute jalan kaki dari Slanden menuju Promasan waktu itu masih bersaput tanah merah -menjadi sangat becek dan licin di waktu hujan- juga karena rute jalan dari Gereja St. Maria Lourdes Paroki Promasan menuju Gua Maria masih harus dilakoni dengan kewajiban melalui 14 titik palerenan (stasi pemberhentian) Jalan Salib.

“Sayang sekali,” demikian kata Trias, “model peziarahan Sedangsono dengan dua etape perjalanan itu sekarang makin ditinggalkan.”

Dulu selalu disertai “perjuangan” dan langkah “keprihatinan” harus mampu menahan lapar dan haus, juga rela baju dan celananya rela harus belepotan lumpur bila berjalan di etape pertama rute Slanden-Promasan.

“Sekarang ini, etape pertama ini sudah tidak ada lagi. Karena orang tidak lagi rela dan mau berjalan kaki. Tapi sekarang semua peziarah lebih suka dan nyaman dengan mengendarai sepeda motor atau bahkan bermobil.

Dan perjalanan etape satu dan kedua langsung bisa dilibas cepat hingga sampai ke titik lokasi parkiran dekat Gua Maria,” tutur Trias yang konon sebentar lagi akan didapuk menjadi Dubes RI untuk Tahta Suci Vatikan.

Etape kedua -meski tekstur jalan kakinya juga kurang lebih sama dengan rute Slanden-Promasan zaman dulu- namun di situ ada nilai “spiritualitas”-nya sendiri.

Dan kini, baik “laku tapa” dan nilai spiritualitas-nya sudah kian hilang ditelan oleh “zona nyaman” yang sekarang semakin suka dinikmati oleh para peziarah.

Prosesi Jalan Salib ke Gua Maria Sendangsono

Jalan Salib dengan 14 palerenan atau pemberhentian menjadi ciri utama jalan etape dua dari Gereja Promasan menuju Gua Maria.

Kiasan hidup perjalanan imamat itu seperti perjalanan para peziarah rohani ke Gua Maria Sendangsono zaman dahulu. Terlebih ketika harus meniti dari satu titik palerenan ke palerenan berikutnya.

Ilustrasi: 7th Asian Youth Day’s participants visit the Marian shrine of Sendangsono chaired by Jakarta Archbishop Msgr. Ignatius Suharyo. (Mathias Hariyadi)
Pemandangan indah di lereng bukit seberang Gua Maria Sendangsono. (Mathias Hariyadi)

Demikian kata Trias dalam kisahnya membuat simbolisasi atas perjalanan dua imam yubilaris: Romo Mudji Sutrisno SJ dan Romo Agustinus Purnama Sastrawijaya MSF saat mereka berdua merayakan pesta imamat panca windunya: 40 tahun menjadi imam.

“Di rute etape kedua ada kisah peristiwa Yesus jatuh sampai tiga kali. Bahkan Yesus sampai dibantu orang lain untuk memanggul salib,” kata Trias di atas mimbar homili di Kapel Kolese Kanisius.

Perjalanan imamat juga sering kali “diwarnai” oleh kisah-kisah jatuh itu. Bisa saja hanya tiga kali tapi juga bisa berkali-kali.

Apakah jatuh itu karena “terpeleset” atau memang “menjatuhkan diri” – semua kemungkinan bisa terjadi.

Tekstur tanah berundak-undak di kompleks Gua Maria Sendangsono namun dibuat indah oleh almarhum Romo Mangunwijaya Pr. (Mathias Hariyadi)

Palerenan ke-14

Yang penting, demikian kata akhir Trias kepada Romo Mudji Sutrisno SJ dan Romo Agustinus Purnama Sastrawijaya MSF, kita semua -kaum beriman kristiani- selalu diajak agar masing-masing mampu melewati semua palerenan itu hingga sampai di titik Pemberhentian ke-14.

Di titik ke-14 Pemberhentian itu, terjadilah “peristiwa” Yesus dimakamkan.

Artinya, demikian kata Trias, Sakramen Imamat yang pernah diterima segenap para imam itu harus bisa “dibawa” setia sampai mati.

Jangan pernah menyia-nyiakan anugerah ilahi berupa rahmat tahbisan imamat. Dengan misalnya jebling atau menjatuhkan diri pada “kenikmatan” dan godaan-godaan duniawi lainnya seperti prestise, harga diri, sikao jaim, suka pilih kasih dalam kegiatan pelayanan pastoral.

Menjadi imam berarti siap sedia melayani siapa pun. Dan komitmen pelayanan ini harus diampu dengan setia dan dibawa “sampai mati” hingga menuju palerenan ke-14 Jalan Salib.

Artinya, para imam harus mati sebagai imam; bukan yang lain. (Berlanjut)

Baca juga: 40 Tahun Imamat Romo Ag. Purnama MSF – Imam Itu Seperti Keledai (3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here