Sabtu. Minggu Biasa I, Hari Biasa (H)
- 1Sam. 9:1-4.17-19;10:1a
- Mzm. 21:2-3.4-5.6-7
- Mrk. 2:13-17
Lectio
13 Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. 14 Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.
15 Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia.
16 Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
17 Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Meditatio-Exegese
Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu
Di balik seluruh peristiwa pemilihan raja Israel itu, Allah tetaplah yang utama dan menentukan jalannya sejarah. Pemilihan Saul tetap menjadi insiatif, rencana dan karya-Nya.
Latar belakang keluarga Saul diperkenalkan. Ia berasal dari Suku Benyamin, yang mendiami wilayah selatan, berbatasan dengan Suku Yehuda. Ia diperintah ayahnya untuk mencari keledai betina yang hilang. Pencarian itu menuntunnya ke wilayah utara, di tempat abdi Allah tinggal (1Sam. 9:3-10).
Perjumpaan Saul dengan para perempuan di sumur di luar kota untuk mengambil air mengingatkan akan kisah Yakub (Kej. 24:11-dst.) dan Musa (Kel. 2:16-dst.). Perjumpaan itu mengubah perjalanan hidup mereka.
Samuel dan Saul berjumpa untuk pertama kali di Kota Rama (1Sam. 9:14-27). Dan perjamuan makan yang diselenggarakan Samuel menunjukkan tak hanya dimensi keagamaan, tetapi juga prakarsa Allah untuk mengangkat martabat Saul sebagai naguid, dux (Latin), pemimpin. Ia bukan raja.
Sabda-Nya (1Sam. 9:17), “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.”, Ecce vir, quem dixeram tibi; iste dominabitur populo meo.
Saul diurapi di luar kota dalam upara ibadat privat dan agung. Samuel menciumnya sebagai tanda hormat.
Saul bertemu lagi dengan Samuel di tengah jalan di Gibea (1Sam. 10:10-12), yang sangat berbeda dengan perjumpaan pertama. Perjumpaan ini merendahkan martabat Saul, yang diidentifikasi sebagai salah satu dari ‘para nabi’ yang kerasukan karena suara musik dan tari (bdk. 1Sam. 10:5; 19:24).
Dan saat berjumpa dengan pamannya di Gibea, ia diyakinkan kembali atas panggilan Saul untuk menjadi raja. Tetapi hal itu masih tetap harus dirahasiakan.
Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?
Tantangan kedua yang dihadapi jemaat Santo Markus: saling menerima sesama anggota yang berasal dari agama Yahudi dan agama asli. Pada tahun 70-an, Santo Markus mengajak jemaatnya untuk memecahkan persoalan itu melalui kisah ini: Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa? (Mrk. 2:16).
Jemaat yang berasal dari agama Yahudi berat hati bergaul dan mengunjungi rumah jemaat yang berasal dari agama asli (bdk. Kis. 10:28; 11:3). Maka, kisah panggilan Lewi bertujuan untuk memecahkan hambatan yang menyebabkan jemaat sulit merasa sehati dan sejiwa.
Sebenarnya orang-orang biasa sangat senang mendengarkan pengajaran Yesus, yang berpusat pada Kerajaan Allah. Ia mengajar sesuai dengan daya nalar dan daya tangkap mereka. Ia mengajar dengan perumpamaan yang menginspirasi hidup.
Penulis Injil melukiskan secara khas umat yang bersukacita menerima Yesus dan pengajaran-Nya (Mrk. 1:14.21.38-39; 2:2.13). Tetapi, pemimpin agama atau kaum cerdik pandai menolak dengan pelbagai dalih.
Ia melihat Lewi, lalu berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”
Yesus telah kembali ke rumah di Kapenaum. Kapernamum menjadi titik temu jalur perdagangan ke dan dari Tyrus, Damaskus, Yerusalem, hingga Mesir, Roma, bahkan Cina.
Pagi-pagi ia berjalan-jalan di pantai Danau Genesaret dan menemui Lewi di tempat kerjanya, kantor bea cukai Kapernaum. Kantor itu pasti terletak di tempat yang strategis dan dilalui semua orang yang datang dan pergi dari kota pelabuhan itu.
Di situlah ia memungut cukai atas barang dagangan. Dari kantor itu juga Lewi mengatur pemungutan pajak tanah, pajak kepala dan segala jenis pajak yang ditentukan penjajah Romawi untuk penduduk di seluruh wilayah penarikan pajaknya.
Yesus memanggil Lewi, nama asli Matius (Mat. 10:3). Ia mungkin diberi nama baru seperti terjadi pada Simon yang dipanggil Petrus, dan Saulus yang diganti menjadi Paulus. Ia anak Alfeus. Namun tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan Yakobus Muda, yang juga memiliki ayah bernama Alfeus.
Lewi pasti sudah mendengar kabar tentang Yesus di Kapernaum. Di dalam dirinya seperti ada kerinduan untuk bertemu dengan-Nya. Dan, kerinduan itu akhirnya terjawab.
Yesus tidak mengundang Lewi. Ia berinisiatif, meminta seseorang mengikuti-Nya. Maka, Ia memerintah dengan kewibawaan. Sabda-Nya (Mrk. 2: 14), “Ikutlah Aku!”,Sequere me.
Yesus memilih sendiri siapa yang diajak untuk mengikuti-Nya. Sabda-Nya (Yoh. 15:16), “Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu, dan menetapkan kamu”, Non vos me elegistis, sed ego elegi vos et posui vos.
Pilihan Yesus ternnyata sangat tidak lazim. Ia tidak memilih orang yang dianggap baik, saleh, ternama atau tanpa cela. Ia memilih orang yang dimusuhi dan disingkirkan. Maka, panggilan untuk mengikuti Yesus bermakna menjadikan Yesus sebagai pusat hidupnya.
Santo Paulus berkata, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal. 2:20).
Sama seperti Petrus dan Andreas, berdirilah Lewi, lalu mengikuti Dia. Ia meninggalkan rumah cukai dan segala yang erat terkait dengan cukai.
Pemungut cukai dan orang berdosa makan dengan Dia dan murid-Nya.
Lewi sudah menjadi murid Yesus. Lalu Yesus makan bersama dengan pemungut cukai yang dianggap sebagai pengkhianat atau pendosa karena berkerja untuk penjajah Romawi. Golongan pendosa mencakup: pelacur, penunggang kuda/unta, tabib, pelaut, gembala, tukang daging, dan sebagainya.
Mengundang dan makan bersama mereka adalah tanda penerimaan sebagai saudara. Yesus memulihkan relasi yang diputus karena hukum ciptaan manusia.
Melalui para murid, kaum Farisi dan ahli Taurat mengungkapkan kegusaran mereka. “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Mrk. 2:16). Para pemuka agama Yahudi tidak pernah menghendaki solidaritas dan upaya membangun spiritualitas sehati-sejiwa.
Yesus senantiasa berdoa agar semua mau bersatu dalam satu kawanan, semoga mereka menjadi satu, ut omnes unum sint (Yoh. 17:21). Sayang, pertanyaan orang Farisi dan ahli Taurat itu masih sering menghantui hidup menjemaat sampai kini.
Kecaman itu ditanggapi tidak langsung. Sabda-Nya, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk. 2: 17).
Kabar Sukacita Yesus menampakkan wajah Allah yang penuh kerahiman. Ia mencari, menemukan dan mengumpulkan mereka yang lemah, miskin, menderita dan dipinggirkan. Ia menjadi pembangun jembatan, pontifex, yang menghubungkan antara Allah-manusia-semesta.
Katekese
Tiada seorang tabib pun dapat menghindari sumber penyakit. Santo Gregorius dari Nazianzus, 330-390:
“Ketika Yesus dikecam karena bergaul dengan para pendosa, dan mengangkat salah satu dari mereka sebagai murid-Nya, walau dia merupakan pemungut cukai, orang akan bertanya-tanya, “Keuntungan apa yang akan diperolehNya?” (Luk 15:2). Hanya menyelamatkan pendosa.
Menyalahkan Yeus karena pergaulan-Nya dengan pendosa akan serupa dengan menyalahkan seorang tabib karena memeriksa penyakit dan bau busuk untuk menyembuhkan si sakit.” (Oration 45, On Holy Easter 26).
Oratio-Missio
Tuhan Yesus, Juruselamat kami, ijinkan aku datang pada-Mu. Ketika hatiku dingin, Tuhan, hangatkanlah dengan kasih-Mu yang tanpa mementingkan diri sendiri. Ketika hatiku, penuh noda dosa, bersihkanlah dengan darah-Mu yang tak terperikan nilainya.
Ketika hatiku lemah, kuatkahlah dengan Roh-Mu yang penuh sukacita. Ketika hatiku hampa, penuhilah dan hadirlah dalam hatiku.
Tuhan Yesus, hatiku adalah milik-Mu. Milikilah selalu dan kupersembahkan hatiku pada-Mu. Amin. (Doa Santo Agustinus, terjemahan bebas, abad ke-4).
- Apa yang perlu aku lakukan untuk hidup sehati-sejiwa dalam komunitasku dan tumbuh dalam iman?
non veni vocare iustos sed peccatores – Marcum 2:17














































