Selasa, 5 Agustus 2025
Bil. 12:1-13.
Mzm. 51:3-4,5-6a, 6bc-7,12-13.
Mat. 14:22-36.
PERMASALAHAN adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Tetapi sering kali, masalah membuat pandangan kita terhadap hidup dan terhadap Tuhan, menjadi kabur.
Seolah-olah Tuhan hilang dari pandangan, dan hati kita mulai goyah. Kita menjadi seperti orang yang berjalan dalam kabut tebal, tak bisa melihat ke depan, lupa arah, dan bahkan mempertanyakan apakah ada terang sama sekali.
Orang yang sedang bergumul dengan masalah ekonomi mungkin mulai berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkannya. Tagihan menumpuk, penghasilan tak cukup, kebutuhan anak-anak tak terpenuhi, dan pikiran pun jadi sesak.
Dalam kondisi seperti ini, mudah sekali lupa bahwa Tuhan pernah menolong, bahwa Dia pernah membuka jalan, bahwa Dia masih setia.
Demikian pula, orang yang menderita sakit menahun mungkin merasa ditinggalkan. Ketika rasa sakit tak kunjung hilang, ketika pengobatan tak kunjung membuahkan hasil, saat tubuh melemah dan harapan mulai pudar, seseorang bisa merasa bahwa Tuhan diam, bahkan tidak peduli.
Namun Tuhan tidak tertidur. Ia bukan Allah yang jauh. Ia tidak menunggu kita bebas dari masalah baru kemudian menunjukkan kasih-Nya.
Justru di tengah masalah, Ia hadir, menguatkan, meneguhkan, menopang kita lewat cara-cara yang kadang tak terlihat mata, tapi nyata bagi yang percaya.
Dalam bacaan Injil kita dengar demikian,”Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”
Bimbang adalah pengalaman yang manusiawi. Kita semua pernah mengalaminya, saat masalah datang bertubi-tubi, ketika situasi tidak menentu, ketika harapan tak kunjung terlihat.
Kita pun mulai bertanya dalam hati: Apakah Tuhan benar-benar hadir? Apakah Dia peduli? Apakah aku bisa melewati ini? Dan tanpa kita sadari, kita mulai tenggelam dalam kekhawatiran, kecemasan, dan ketidakpercayaan.
Sabda Tuhan hari ini meneguhkan bahwa Yesus tidak tinggal diam. Saat Petrus mulai tenggelam, Yesus tidak menunggu ia tenggelam lebih dalam. Ia segera mengulurkan tangan-Nya. Tindakan cepat ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan lebih besar daripada keraguan kita.
Yesus tidak menuntut iman sempurna sebelum menolong. Ia hadir bahkan ketika iman kita goyah. Ia tetap menyambut kita yang ragu, asal kita mau berseru kepada-Nya.
Yesus tidak menegur Petrus untuk mempermalukannya, tetapi untuk menyadarkan dan meneguhkan: bahwa kehadiran-Nya cukup, bahwa kita tak perlu takut selama kita melihat kepada-Nya, bukan kepada badai.
Bagaimana dengan diriku?
Apakah aku lebih sering memandang badai hidup atau memandang Yesus yang hadir di tengah badai?









































