Home BERITA Peziarahan Iman Menuju 100 Tahun Gereja Katolik Sukoreno

Peziarahan Iman Menuju 100 Tahun Gereja Katolik Sukoreno

0
142 views
Ilustrasi: Misa Peziarah Pengharapan di Sukoreno, Paroki Tanggul, Keuskupan Malang, Jatim. (Laurensius Suryono)

DALAM semangat peziarahan iman dan harapan, ratusan umat Katolik berkumpul di halaman Gua Maria Ratuning Karahayon, Sukoreno, Kecamatan Tanggul. Mereka berkumpul bersama untuk merayakan Perayaan Ekaristi dan Novena Peziarahan Pengharapan menuju 100 tahun kehadiran Gereja Katolik di wilayah tersebut.

Perayaan ini juga bertepatan dengan peringatan Santo Alfonsus Maria de Liguori, pujangga Gereja, pengkhotbah, dan gembala umat yang penuh semangat.

Romo Ignasius Adam Suncoko Pr, Vikaris Jenderal Keuskupan Malang, dalam homilinya menyampaikan bahwa “peristiwa iman ini menjadi bagian dari peziarahan pengharapan yang terus-menerus dalam hidup kita. Ini bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan ziarah rohani yang mengajak kita mengenang masa lalu untuk membawa terang iman ke masa depan.”

Ia menyinggung pula keberadaan tabernakel dari kayu jati berusia ratusan tahun yang masih digunakan di dalam Gereja Santa Theresia Kanak-kanak Yesus, menjadi simbol kesetiaan dan warisan iman yang hidup.

Umat peserta misa peziarah pengharapan di Sukoreno, Paroki Tanggul, Jember, Jatim. (Laurensius Suryono)

Jejak seabad iman

Pastor Paroki Tanggul, Romo Tiburtius Catur Wibawa Pr, mengisahkan bahwa baptisan pertama di Sukoreno terjadi pada 25 September 1925 oleh Romo Prennthaler SJ dari Magelang, Jawa Tengah. Namun jejak umat Katolik di wilayah ini telah dimulai sejak 1906, ketika para pekerja dari kawasan Sendangsono datang untuk bekerja di perkebunan Belanda.

“Bayangkan, seratus tahun lalu Pastor Prennthaler SJ dari Austria berjubah hitam menempuh perjalanan dari Magelang dengan kereta uap, lalu lori tebu, dan akhirnya berjalan kaki sampai ke Sukoreno,” kisah Romo Catur penuh haru.

Romo JB Prennthaler SJ, sosok penting misi dan pewartaan iman Katolik di wilayah Kalibawah, Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, DIY. (Dok. SJ)

Liturgi dalam budaya, doa dalam bahasa ibu

Misa meriah ini menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar liturgi; termasuk doa-doa, bacaan Kitab Suci, dan mazmur. Namun homili disampaikan dalam bahasa Indonesia mengingat kehadiran umat dari berbagai daerah.

Sekitar 750 peziarah hadir, tertib dan penuh khidmat sejak prosesi dimulai pukul 18.00 WIB hingga penutupan adorasi pukul 21.00 WIB.

Pengrawit dan Panembromo Paroki Katedral Malang dalam gelaran Perayaan Ekaristi di Sukoreno, Paroki Tanggul, Jember, Jatim. (Laurensius Suryono)

Dari jejak digital Romo Catur: Diperkirakan umat yang menghadiri misa ini sekitar 750 orang. Mereka duduk pada kursi-kursi plastik yang sudah disiapkan sejak sore oleh para umat maupun sukarelawan pada berbagai sudut halaman Gua Maria. Ketika penulis sampai di tempat halaman Gua Maria sekitar pukul 16.00 WIB sudah banyak pula para peziarah yang datang dari luar daerah Sukoreno – Kecamatan Tanggul. 

Rangkaian misa diawali dengan Doa Angelus dan Rosario, kemudian dilanjutkan perarakan 13 imam dan para misdinar. Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Romo Ignasius Adam Suncoko bersama Romo Yusuf Dimas Caesario (Sekretaris Keuskupan Malang), Romo Tiburtius Catur Wibawa, Romo Petrus Prihatin (Pastor Paroki Katedral Malang), serta sembilan imam lain dari Regio Timur Keuskupan Malang.

Petugas liturgi berasal dari Paroki Katedral Malang. Musik gamelan dari kelompok karawitan Wahyu Widada menyertai perayaan, termasuk para panembromo yang memperdalam suasana doa dalam nuansa lokal.

Adorasi Sakramen Mahakudus yang menutup perayaan berlangsung hening dan penuh devosi. Umat tetap di tempat, beberapa bertelut dan mengatupkan tangan, bahkan ada yang mencoba menyentuh kasula Romo Adam, seolah menghidupkan harapan: “Asal kujamah jubah-Nya, aku akan sembuh.”

SD Katolik Santo Yusuf Sukoreno, Paroki Tanggul, Jember, Keuskupan Malang. (Laurensius Suryono)

Gua Maria, sekolah, dan warisan iman

Halaman Gua Maria Ratuning Karahayon berdampingan dengan dua bangunan bersejarah: Gereja Katolik Santa Theresia Kanak-kanak Yesus dan SD Katolik Santo Yusuf.

Sekolah Dasar Katolik “Santo Yusuf” ini diberkati tanggal 24 Mei 1926; dengan banyak ruang kelas dan halaman yang luas. Akan tetapi pada tahun ajaran 2024/2025 kemarin hanya ada 60-an siswa untuk kelas 1 sd. 6. “Dulu sekolah ini penuh murid,” ujar salah satu staf dengan nada nostalgis.

Kepada para murid sekolah ini disediakan kegiatan ekstrakurikuler karawitan. Mereka memperagakan ketrampilannya dalam menabuh gamelan seusai seluruh prosesi peziarahan di hadapan Romo Catur, Romo Petrus dan Romo Adam dalam tembang Perahu Layar. Ini sampai mengundang seluruh anggota pengrawit dan panembromo terlibat bernyanyi dan berjoged; sembari menunggu datangnya jatah konsumsi yang sedang dibagikan kepada seluruh peziarah yang hadir.

Gereja Katolik Santa Theresia Kanak-kanak Yesus di Sukoreno. (Laurensius Suryono)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo