Home BERITA Agustus 2026: Perhatian kepada Kaum Miskin

Agustus 2026: Perhatian kepada Kaum Miskin

0
27 views
Pastor Maximilianus Kolbe kira-kira di tahun 1936. Ia seorang Fransiskan Konventual yang meninggal di Kamp Konsentrasi NAZI di Auschwitz, Polandia. (Wiki)

KISAH Heroik sebagai Jalan Pengudusan.

Intensi: Agar dengan mengikuti teladan Santo Maksimilianus Kolbe, kita mampu menanggapi berbagai bentuk kemiskinan baru melalui “kasih yang kreatif.”

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: setiap kali kamu melakukannya untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku.” (Mat. 25:40)

Suara Gereja (Dilexi te, 4)

“Kita tidak berada dalam cakrawala amal semata, melainkan dalam cakrawala Wahyu. Hubungan dengan mereka yang tidak memiliki kuasa ataupun kebesaran merupakan cara mendasar untuk berjumpa dengan Tuhan dalam sejarah. Dalam diri kaum miskin, Dia masih memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada kita.”

Santo Maksimilianus Maria Kolbe (SK 895)

“Kegiatan ini tidak mengubah ciri dasarnya, bukan hanya dalam tujuannya untuk menaklukkan seluruh dunia bagi Yang Dikandung Tanpa Noda, tetapi juga dalam semangat kemiskinannya. Bahkan pada saat-saat seperti ini, kami mempersembahkan karya kami secara cuma-cuma dan penuh kasih kepada siapa pun yang memintanya. Kami juga menerima persembahan dari siapa saja yang secara sukarela ingin bekerja sama dengan kami. Dengan demikian, tidak ada unsur industri ataupun perdagangan; yang ada hanyalah misi Yang Dikandung Tanpa Noda.”

Refleksi

Dalam Seruan Apostolik pertamanya, Paus Leo mengingatkan bahwa “delapan abad yang lalu, Santo Fransiskus dari Assisi membangkitkan pembaruan Injili di tengah umat Kristiani dan masyarakat pada zamannya.”

Dari teladan Santo Fransiskus itu, Paus mengajak seluruh Gereja untuk kembali menempatkan kaum miskin di pusat perhatian melalui seruan yang sangat mendalam: “Saya yakin bahwa pilihan utama bagi kaum miskin menghasilkan pembaruan yang luar biasa, baik dalam Gereja maupun masyarakat, ketika kita mampu membebaskan diri dari sikap berpusat pada diri sendiri dan sungguh mendengarkan seruan mereka.”

Perjalanan hidup Santo Fransiskus Assisi menjadi inspirasi bagi banyak orang, termasuk Santo Maksimilianus Kolbe.

Penampakan wajah depan yang indah di Assisi – tempat Santo Fransiskus dari Assisi berasal. (Romo Fictorium N. Ginting OFMConv)

Sebagai seorang Fransiskan Konventual, ia menghayati semangat kemiskinan bukan sekadar sebagai praktik askese, melainkan sebagai jalan mengikuti Kristus secara total. Ia memilih hidup tanpa memiliki apa pun sebagai miliknya sendiri serta menyerahkan seluruh hidupnya kepada penyelenggaraan Allah.

Kemiskinan yang dihayati Santo Maksimilianus merupakan sikap batin yang lahir dari iman dan kasih. Sikap itu diwujudkannya secara nyata melalui kehidupan yang sederhana, karya misi di negeri-negeri yang jauh, kesediaan berbagi makanan dengan sesama tahanan di kamp konsentrasi, hingga akhirnya mempersembahkan hidupnya sendiri demi menyelamatkan seorang ayah keluarga di Auschwitz pada tahun 1941.

Dalam tindakan heroik itu, kasih menjadi bentuk tertinggi dari kemiskinan yang mengosongkan diri demi sesama.

Kutipan Santo Maksimilianus Kolbe pada bagian ini berasal dari sebuah surat yang ditulisnya mengenai keadaan Kota Yang Dikandung Tanpa Noda (Niepokalanów) pada Juli 1941.

Biara sekaligus kompleks penerbitan tersebut telah menjadi tempat perlindungan bagi para korban perang. Meskipun keadaan berubah secara drastis, cita-cita luhur Niepokalanów tetap tidak berubah.

Santo Maksimilianus tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh ketakutan ataupun kepentingan pribadi. Sebaliknya, ia tetap membuka hati untuk menerima dan melaksanakan kehendak Allah dalam setiap situasi.

Semoga Yang Dikandung Tanpa Noda, yang memilih hidup sederhana bersama Puteranya, menuntun kita agar mampu berjalan bersama kaum miskin, melihat Kristus dalam diri mereka, dan melayani mereka dengan kasih yang kreatif.

Semoga Militia Immaculatae terus membuka cakrawalanya terhadap berbagai bentuk evangelisasi baru sehingga semakin mampu menghadirkan Injil yang menghidupkan bagi setiap orang, terutama mereka yang miskin, tersingkir, dan terlupakan.

Menurut saya, versi ini memiliki gaya bahasa yang lebih dekat dengan dokumen Vatikan dan bahan formasi religius: lebih kontemplatif, lebih mengalir, namun tetap setia pada isi asli. Saya juga menambahkan nama Auschwitz pada bagian pengurbanan Santo Maksimilianus Kolbe karena memperjelas konteks sejarah tanpa mengubah substansi renungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo