Tak Kenal, Maka tak Sayang

0
477 views
Ilustrasi.

Kamis, 5 Agustus 2021

Bil.20:1-13.
Mat.16:13-23

SUATU hari, saya dimintai bantuan oleh Pastor Paroki tetangga untuk melayani misa arwah.

Banyak pelayat sudah berkumpul di rumah duka. Tetapi tidak satu pun yang saya kenal. Dan kelihatannya, mereka juga tidak mengenali saya.

Waktu yang diberitahu kepada saya adalah pukul 12.00 WIB siang misa arwahnya.

Sekitar jenazah, saya lihat keluarga dengan suasana duka dan beberapa orang yang sedang berdoa Rosario.

Sambil menunggu doa Rosario selesai dan waktu misa, saya duduk dengan beberapa pelayat. Sambil mendengarkan obrolan mereka.

“Kasihan, masih muda sudah meninggal,” kata seorang bapak.

“Anaknya masih kecil-kecil belum ada yang ‘mentas’ (mandiri),” sahut yang lain

“Padahal sepekan yang lalu masih ikut gotong royong dan kelihatan sehat-sehat saja,” sahut yang lain lagi.

“Ini sudah hampir pukul 12.00 WIB, kok romonya belum kelihatan datang,” salah satu bapak menyela sambil melihat jam.

“Iya biasanya romo langsung ke dalam. Tapi dari tadi saya belum lihat romo masuk ke dalam rumah duka,” kata yang lain.

Mendengar itu, saya diam saja. Hanya melirik jam di tanganku. Hampir pukul 12.00 WIB, dan doa Rosario sudah selesai.

“Mari, Pak, saya ke dalam dulu,” kataku pada mereka.

“Silahkan Mas,” sahut mereka.

Saya langsung mendekati peti jenazah. Di situ saya berdoa sebentar lalu menyapa keluarga sambil memperkenalkan diri.

Dan kemudian menuju meja yang disiapkan menjadi altar. Lalu mempersiapkan diri untuk memimpin misa.

“Selamat siang Romo. Maaf tidak mengenali Romo dari tadi. Selamat datang dan banyak terimakasih atas kesediaan memimpin misa arwah siang ini,” kata seorang bapak yang tadi juga ada di dekat saya duduk di depan rumah duka.

“Tidak apa, Pak. Jika sudah siap, kita mulai misa,” jawabku.

Bukan hanya bapak itu, tetapi beberapa bapak yang tadi saya ikut duduk dan ngorbrol, mungkin sama sekali tidak menyangka bahwa saya adalah romo yang mereka tunggu.

Mereka tidak mengenal saya, karena saya tidak mengenakan jubah atau atribut lainnya.

Saya berpakaian seperti pelayat lainnya.

Kadang orang hanya mengenal bagian sisi luar hidup kita. Namun tidak mengenal lebih dalam apa yang sebenarnya hidup di dalam hati kita.

Santo Petrus mendapat karunia pengenalan akan Kristus lebih daripada murid yang lain dan orang banyak yang mengikuti Yesus.

Jika orang banyak ikut Yesus karena mukjizat penyembuhan, pengusiran setan, penggadaan roti, dan tanda ajaib lain yang Tuhan kerjakan.

Tidak demikian dengan Petrus yang mengikuti Yesus karena dia yakin bahwa Yesus adalah Mesias, Putra Allah yang hidup.

Pengenalan akan Kristus adalah sebuah anugerah yang datang dari Allah sendiri.

Bagaimana caranya supaya aku bisa menerima rahmat pengenalan akan Tuhan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here