Ambisi Membawa Petaka

0
558 views
Ilustrasi (Ist)

Jumat, 18 Maret 2022

  • Kej. 37:3-4.12.13a.17b-28.
  • Mzm: 105:16-17.18-19.20-21;
  • Mat. 21:33-43.45-46

AMBISI yang tak terkontrol bisa membuat kita rakus, tamak, dan kejam dengan sesama bahkan dengan saudara sendiri.

Ambisi itu bisa terlihat dalam keinginan dalam usaha untuk memiliki dan berkuasa.

Orang bisa lupa diri akan tugas serta tanggungjawabnya untuk hidup adil dan baik dengan sesama, karena sibuk melayani kepentingannya sendiri.

Sebab itu, masing-masing kita harus ingat akan tanggungjawab kita kepada Tuhan atas hidup dan segala karunia yang telah kita terima.

Semuanya itu milik Tuhan dan patut dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

“Nasi sudah jadi bubur, bentangan sawah yang luas menghijau itu bukan milik kami lagi,” kata seorang bapak kepada temannya semasa kecil yang baru pulang dari rantau.

“Mengapa bisa begitu?” tanya temannya.

“Sedikit demi sedikit kami jual, untuk kebutuhan hidup anak-anak,” jawab bapak itu.

“Untuk biaya sekolah?” tanya temannya lagi.

“Awalnya untuk biaya sekolah. namun kemudian anak minta dibelikan motor. Saya tidak punya pilihan, selain menjual sawah ini,” jawab bapak itu dengan sedih.

“Setelah saya belikan motor anakku berulah, alih-alih belajar dengan rajin malah suka membolos, jarang pulang hingga terlibat dalam kenakalan. Sekolahnya pun gagal,” katanya dengan getir.

“Jika saja waktu bisa diulang, saya tidak akan pernah menjual sawah untuk apa pun, karena sawah tempat kami mencari makan dan menyediakan makan untuk kami sekeluarga,” lanjutnya.

“Ini semua karena kegagalan kami mendidik anak, hingga dia menjadi anak yang manja dan tidak tahu disayang. Anakku justru tega melihat kami, orang tuanya menderita, tanpa ada rasa bersalah. Akibat kelakuaannya, kami sekarang sangat menderita dan susah,” kata bapak itu.

“Saya malu dengan almarhum bapak dan ibuku, yang memberi sawah ini kepadaku, tetapi tidak bisa saya jaga dan saya oleh dengan baik,” sambungnya.

“Saya tidak bisa bertanggungjawab atas apa yang dipercayakan oleh orangtuaku dalam kehidupan ini,” katanya dengan sedih.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian:

Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.”

Perumpamaan dalam Injil hari ini menceritakan bahwa Allah, sebagai pemilik kebun anggur, melakukan begitu banyak hal baik bagi manusia.

Namun, sungguh ironis, manusia dalam kekerasan hati, ketamakan, kerakusan, serta kesombongan rohaninya tidak bisa melihat kebaikan Allah.

Ambisi diri membuat mereka lupa diri. Rasa iri dan benci juga telah menggores hati para penggarap kebun anggur itu, hingga mereka pun bersekongkol untuk mengusir, memukul bahkan membunuh orang suruhan si pemiliknya.

Ambisi memuncak hingga makan kurban anak kandung si pemilik kebun anggur yang dibenci kemudian dibunuh.

Iri dan benci itu bagai api dalam sekam.

Ia dapat menghanguskan hati siapa saja, ia dapat menyalahkan amarah orang-orang baik sehingga segala rencana jahat bakal tumbuh di hati mereka dan orang-orang yang baik bisa melakukan yang jahat.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku bertanggungjawab atas apa yang dipercayakan padaku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here