Anak Bungsu Naik Rubicon

0
313 views
Pamer by Faultable

Puncta 11.03.23
Sabtu Prapaskah II
Lukas 15: 1-3.11-32

BEBERAPA waktu lalu ada banyak “orang kaya baru” memamerkan kekayaannya. Mereka menyebut diri sebagai the rich man atau sultan yang kekayaannya luar biasa.

Pameran gaya hidup mewah itu disebut “flexing”. Banyak orang heran dari mana mereka mendapatkan harta sedemikian, padahal usia mereka masih muda.

Pada akhirnya kita baru tahu saat mereka berurusan dengan penegak hukum. Tidak sedikit dari the rich man itu pada akhirnya masuk penjara karena kasus penipuan, penggelapan, investasi bodong, game online dan lainnya.

Sekarang ini ada pola baru yang terkuak di media. Ada anak-anak yang tergelincir pada kasus pamer kekayaan. Bahkan sampai melakukan tindak kriminal.

Dari kasus anak yang menyombongkan kekayaan, ditelisiklah harta kekayaan orangtuanya. Kendati mereka hanya ASN golongan menengah, tetapi kekayaannya luar biasa. Ditelusurilah dari mana kekayaan yang bermilyar-milyar itu.

Kekayaan yang disimpan dengan rapi pada akhirnya terbongkar oleh kelakuan anak-anak yang sombong atau oleh isteri yang sok pamer kuasa tak modal etika.

Ada sesuatu yang memang bisa dibeli dengan uang, tetapi ada banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Misalnya kerendahan hati, etika dan kesopanan, nama baik keluarga, kesehatan dan kebahagiaan.

Kita bisa membeli ranjang mahal, tetapi tidak bisa membeli waktu tidur nyaman dan enak. Kita bisa membeli rumah mewah, tetapi tidak bisa membeli suasana harmoni, damai dan tentram di rumah. Kita bisa membeli obat-obatan, tetapi tidak bisa membeli kesehatan.

Ada orang yang memuja harta kekayaan dan uang, tetapi kelakuannya tidak terpuji, kasar, sombong dan suka melanggar aturan.

Dalam bacaan Injil hari ini, si anak bungsu nampaknya sebagai pemuda yang memuja uang dan kekayaan.

Ia memaksa ayahnya membagi warisan. Ia menganggap ayahnya sudah mati. Sebab membagi warisan baru bisa terjadi kalau orangtua sudah tidak ada.

Ia kemudian menjual segala warisannya dan pergi berfoya-foya di kota besar. Ia ingin hidup bebas tidak dikekang ayahnya. Ia menjauh dari kasih ayahnya.

Ketika hidup tak bisa dikendalikan lagi, habislah seluruh hartanya. Harta tidak mampu memberi jaminan kebahagiaan. Ia jatuh melarat dan menderita.

Dalam keadaan terpuruk, hancur habis-habisan, ia baru ingat ayahnya. Kita juga sering begitu. Ketika dalam kondisi paling menderita, kita baru ingat Tuhan, gereja dan doa.

Ketika sedang berada di puncak ketenaran, kesuksesan dan kenyamanan, kita lupa kepada Tuhan, abai doa dan ke gereja.

Anak sulung pun tidak lebih baik kelakuannya. Walaupun ia berada di rumah dan dekat dengan ayahnya, tetapi kelakuannya tidak lebih daripada seorang hamba atau budak.

Ketika ada pesta penyambutan adiknya, ia tidak mau masuk ke rumah. Hatinya dikuasai perasaan iri, cemburu dan sakit hati karena ayahnya dianggap pilih kasih.

Kata-katanya menggambarkan kekecewaan kepada ayahnya.

“Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa, dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa, tetapi kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing pun untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.”

Anak sulung ini kecewa, iri hati dan merasa dibedakan. Jerih payah dan jasanya tidak dipedulikan oleh ayahnya.

Ia berada di rumah sendiri tetapi menganggap dirinya sebagai pekerja yang harus diupah. Ada lho pelayanan di gereja untuk mencari upah, keuntungan atau proyek .

Di gereja kadang kita juga merasa paling berjasa dan paling penting, sudah bekerja dengan keras. Kalau tidak dihargai lalu sakit hati, merajuk dan “ngambeg.”

Kalau pastor memberi perhatian kepada orang atau kelompok lain, merasa cemburu, iri hati, disisihkan, lalu tidak mau ke gereja.

Belaskasih Allah nampak dari sikap Bapa yang mengampuni anak bungsu dan kakaknya.

Bapa mengambil inisiatif lebih dulu. Ia lari menjemput si bungsu dan keluar rumah mengajak si sulung untuk masuk. Kasih Bapa lebih besar daripada dosa anak-anaknya.

Ia menjamin keselamatan mereka dengan berkata, “Segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”

Demikianlah cinta Allah kepada kita anak-anak-Nya.

Bulan purnama bersinar dengan terang,
Tak satu pun awan yang menghadang.
Tidak semua bisa dibeli dengan uang,
Lebih baik diganti dengan kasih sayang.

Cawas, kenakan kasih dan kerendahan hati…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here