Apa dan Bagaimana Pekan Doa Sedunia (1)

0
325 views
Suasana semangat bersama dalam Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani di seluruh dunia. (Dok Romo Joko Lelono)

SEJAK tahun 1966, tanggal 18 Januari hingga 25 Januari dirayakan sebagai Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristen. Meski sudah digagas lama sebelumnya, kegiatan ini dilaksanakan berkala dan menjadi komitmen bersama antara Gereja Katolik dengan Dewan Gereja-gereja sedunia sejak tahun 1966.

Kesempatan ini menjadi peluang untuk bersama-sama dengan saudara-saudari dari berbagai denominasi Kristen non-Katolik berdoa untuk kesatuan. Bukan dalam arti benar-benar menjadi satu -karena memang sudah terjadi banyak perbedaan dan itu menjadi bagian sejarah- tetapi dalam arti kesatuan hati dalam mengikuti Kristus.

Lukisan tentang skisman dalam Gereja. (Wiki)

Dua skisma besar dalam Gereja

Sejarah panjang perpecahan Gereja tercermin paling tidak dalam dua peristiwa besar Skisma Timur dan Skisma Barat. Maka, peristiwa dan kesempatan berdoa bersama untuk kesatuan umat Kristiani ini merupakan sebuah kemajuan yang luar biasa.

  • Skisma Timur terjadi tahun 1054, saat Gereja Universal terbagi menjadi dua yaitu Gereja Barat yang berpusat di Roma dan Gereja Ortodoks Timur yang berpusat di Yunani.
  • Skisma Barat terjadi tahun 1517 dalam peristiwa dipasangnya 95 tesis di depan Gereja Wittenberg di Jerman oleh Pastor Martin Luther OSA.

Tesis-tesis atau pernyataan itu melawan ajaran Gereja. Oleh karenanya, dalam perjalanan sejarah menjadi awal dari perpecahan antar Gereja yang di Indonesia dikenal sebagai Gereja Kristen Protestan. Sementara dalam bahasa umumnya dikenal sebagai Gereja Reformasi.

Rupanya Martin Luther membangunkan gelombang perpecahan yang lalu berkembang salah satunya dalam Gereja-gereja Calvinis yang saat ini banyak mendominasi di Indonesia.

Lukisan sosok Martin Luther. (Wiki)

Perhatian lebih kepada Roh Kudus

Sejarah juga membawa kita untuk mengenal Gereja-gereja yang memberi perhatian lebih kepada penghormatan kepada Allah Roh Kudus. Dikenal sebagai Gereja-gereja Pentakosta yang berkembang di awal abad ke 20; khususnya di Amerika.

Mereka berkembang dengan cepat sehingga dalam kurun waktu yang tidak panjang mereka sudah berkembang di banyak tempat. Bahkan, kehadiran mereka turut mempengaruhi Gereja-gereja yang sudah lama berdiri. Sehingga sekarang, kita mengenal komunitas Karismatik di dalam Gereja Katolik dan juga di dalam Gereja-gereja Protestan.

Tentu, tidak mudah bagi kita untuk menjelaskan secara detil tentang tumbuh dan berkembangnya aliran-aliran dalam kekristenan. Mengingat bahwa dalam sejarahnya, Gereja terpecah dalam beberapa kelompok. Maka pemahaman mengenai hal ini terasa penting.

Beberapa keterangan berikut diharapkan bisa membantu:

Setelah peristiwa Pentakosta, Gereja mulai berkembang di Yerusalem. Juga ke berbagai wilayah di sekitarnya; terutama pasca penganiayaan terhadap para pengikut Yesus.

Kitab Kisah Para Rasul mencatat saat pertama kali pengikut Yesus dipanggil sebagai orang Kristen. Di sana dikatakan, “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” (Kis 11: 26).

Kaisar Claudius Nero (37-68) adalah kaisar Roma sejak tahun 54. Delapan tahun pertama pemerintahannya cukup stabil berkat kecerdikan penasihat kaisar. Sesudahnya, Nero tidak dapat dikendalikan lagi sehingga menjadi tidak populer di mata bangsawan maupun rakyat.

Kebakaran yang menghanguskan separuh Kota Roma (64) membuat popularitasnya merosot. Sebab, terdengarlah desas-desus bahwa kaisarlah yang memerintahkannya untuk membebaskan tanah bagi pembangunan istananya.

Dengan lihai dan liciknya, rupanya Nero menimpakan kesalahan kepada orang Kristen sehingga banyak dari antara mereka ditangkap dan dibunuh secara biadab. Sikap ‘anti-Kristen’ ini diteruskan oleh beberapa kaisar pengganti Nero, sampai Konstantin Agung (247-337) naik tahta dan menjadi Kaisar Kristen pertama. (bdk. A. Heuken SJ, Ensiklopedi Gereja VI, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2005).

Konstantinus Agung (274/280-337) adalah seorang panglima yang dimaklumkan sebagai kaisar oleh tentara ayahnya pada saat ayah itu meninggal (306). Dalam pertarungan memperebutkan tahta kekaisaran di Roma, ia keluar sebagai pemenang di bagian barat. Sebelum pertempuran yang menentukan itu, ia memasang tanda salib pada panji-panjinya sesuai dengan pesan yang diperolehnya dalam suatu penampakan dalam mimpi tentang kemenangan.

Pada tahun 313, Konstantin dan Lucinius (yang memerintah Kekaisaran Bagian Timur) mengumumkan kebebasan sepenuhnya bagi Umat Kristen (Pernyataan atau Edik Milano).

Sejak itu Gereja menikmati berbagai keuntungan, misalnya pengembalian harta-benda yang pernah disita, dibebaskannya pada imam dari jabatan-jabatan profan yang turun temurun, bantuan keuangan dan wewenang uskup dalam hukum sipil. (bdk. A. Heuken SJ, Ensiklopedi Gereja V).

Dalam perjalanan sejarahnya, Gereja mengalami pemisahan diri dari persaudaraan (kesatuan). Pemecahan ini biasa dikenal sebagai skisma. Alasan perpecahan ini biasanya bercorak politis, pribadi atau kebudayaan.

Ilustrasi: Pernyataan Milano atau Edict of Milan. (World Atlas)
Ilustrasi: Edict ofMilan. (Wiki)

Skisma Timur dan Barat

Terdapat dua skisma besar yang terjadi yaitu Skisma Timur pada tahun 1054 yang melahirkan kelompok Gereja Timur di bawah kepala kehormatan batrik di Konstantinopel.

Skisma besar lainnya adalah Skisma Barat (1517). Krisis dalam tubuh Gereja itu disebabkan oleh kepentingan nasional raja-raja yang diperjuangkan oleh sementara anggota dewan kardinal. Skisma ini sangat merugikan Gereja dan ikut menyebabkan keadaan yang mencetuskan pecahnya Reformasi yang di Indonesia lebih kita kenal sebagai Kristen Protestan. (bdk. A. Heuken SJ, Ensiklopedi Gereja VIII).

Bagan skema sejarah tentang perpecahan agama kristen atau yang sering disebut Skisma Gereja. (Romo Joko Lelono Pr)

Apa yang saat ini disebut sebagai Gereja Katolik merupakan pengertian yang ‘sempit’ yang diperuntukkan bagi Gereja Katolik di Barat untuk membedakannya dari Gereja Ortodoks (pecahan pada tahun 1054) di Timur dan dari Gereja-gereja Reformasi (di Indonesia lebih dikenal sebagai Gereja Protestan, pecahan pada abad ke-16).

Tentu saja, para teolog Ortodoks dan sebagian teolog Reformasi membela Gereja-gereja mereka sebagai ‘Katolik’. Dalam arti mempertahankan ‘ajaran murni yang semula serta Sakramen-sakramen yang diadakan Kristus seperti terdapat dalam Injil’.

Saat ini, istilah Katolik lebih disempitkan lagi dalam arti ‘Katolik Roma’ yaitu istilah yang dimaksudkan untuk menekankan bahwa Gereja Katolik mengakui Uskup Roma atau Paus sebagai pengganti St. Petrus yang ditamakan Kristus di antara ke-12 rasul-Nya (bdk. A. Heuken SJ, Ensiklopedi Gereja IV). (Berlanjut)

Baca juga: Konsili Vatikan II dan Gerakan Ekumenis (2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here