Artikel Pencerah: Seni dalam Keseharian

0
192 views
Tarian budaya khas Tionghoa mewarnai acara pembukaan Jambore Nasional SEKAMI 2018 di Keuskupan Agung Pontianak, Kalbar, 3-6 Juli 2018. (Mathias Hariyadi)

ESTETIKA yang dihayati dalam hidup sehari-hari atau yang induktif itu secara populer disebut estetika dari lapangan. Ketika sosiologi berminat menelitinya sebagai daya hidup dari masyarakat bawah dalam seni, maka ia dinamai pula sebagai estetika akar rumput.

Lagu sederhana bermuatan nasionalisme

Nyanyian mengusir burung-burung emprit di sawah menguning yang diciptakan, ia menjadi contoh karya seni di sawah. Bila Ibu Sud menciptakan lagu bersyair berikut ini:

bunga di dalam tamanku

merah putih kuning ungu

setiap hari kusiram selalu

wangi semerbak baumu

Taman Beraneka Bunga sebagai nyanyi kidung -saat lagu ini ditanyakan ke penciptanya- memang sengaja diciptakan untuk menanamkan nilai keragaman bangsa ini.

Serupa dengan lagu mars Berkibarlah Benderaku. Lagu ini mau menanamkan cinta bangsa, nasionalisme sebagai nilai untuk yang mereka yang masih muda-muda.

Ditambahkan narasi momen (saat) lagu itu dicipta, ternyata diinspirasi melihat bagaimana penjajah mau menurunkan Sang Merah Putih, lalu pemuda berani menolaknya.

Bila estetika induksi kita sebut estetika akar rumput atau dari lapangan (baca: dari bawah), maka yang estetika deduktif atau apriori disebut estetika definisi atau estetika dari atas, estetika kamus.

Namun, pemilahan keduanya hanya oleh logika dikotomi biner, induksi vs. deduksi, bawah vs. atas yang keduanya oase (muara)-nya sama dan satu. Yaitu, dari kehidupan itu sendiri.

Di sinilah titik temu (sumbernya satu yaitu kehidupan) sekaligus titik beda (yang satu dialami dan yang kedua perumusan logisnya dalam definisi atau teori seni).

Ilustrasi: Tarian khas Dayak. (ist)

Sejarah estetika

Di sini pula menyimak sejarah estetika sebagai rumusan menjadi jelas, saat dirumuskan sebagai filsafat tentang keindahan dan seni. Ketika ilmu-ilmu psikologi, ilmu sosial, sejarah dan antropologi menggarap seni, maka kita beruntung.

Itu karena kita lalu bisa mengenali seni itu dari berbagai sudut pandang.

Estetika atau seni sebagai proses kejiwaan seniman mencipta karyanya dan masyarakat yang menerima hasil karyanya dalam apresiasi sebelum menggunakan atau memilikinya. Ini semua diteliti oleh psikologi, khususnya psikoanalisis, psikologi pencerahan (persepsi).

Warna-warni dalam lukisan, kata puisi dan prosa dalam narasi yang oleh linguistik merupakan sistem tanda, maka berkembang penelititannya dalam ilmu semiotika.

Kata-kata kunci dengan istilah-istilah yang menunjukkan ramainya ilmu-ilmu kemanusiaan sosiologi meneliti apa itu estetika membuahkan kajian estetika antropologis, estetika sosiologis, antropologi estetik, estetika psikologis. (bdk. Sananto Yuliman, Estetika yang Merabunkan, ibid., 2020, hal. 217).

Estetika akar rumput

Estetika akar rumput mengajar kembali ke makna ‘akar dasar’ dari estetik yang dalam kata Yunani adalah aisthesis. Dengan arti tentang cerapan atau pencerapan sehubungan dengan pengalaman estetik.

Apa itu pengalaman estetik?

Pengalaman yang didorong oleh stimuli indraan (sensory stimuli) dari luar (cfr. Munro, Thomas, Form and Style in the Arts: An Introduction to Aesthetic Morphology, 1970, hal.12-13).

Proses mencerap senuansa dengan mempersepsi bukan hanya didorong oleh lima indra. Tetapi disertai pula oleh proses-proses psiko fisik seperti menyimak, mengasosiasi, menghendaki, menghayal, dan peran aktif emosi.

Melihat itu sebagai proses psikologis bergerak dengan inteligensi untuk mengeksplorasi memilih yang inti, menyarikan, menganalisis, membuat sistesis, membandingkan, mengkategorisasi tanpa lewat pengkonsepan (baca: konseptualisasi) (Arnheim, 1969, Visual Thinking).

Di sini langsung nampak proses melihat yang melibatkan indra dan kognisi. Tetapi juga proses merasakan yang melibatkan rasa.

Nyanyian duet dari dua perempuan beda keyakinan. (Panitia)

Apakah estetika kamus, lalu lebih merumuskan proses melihat dan estetika bawah proses merasa dalam pengalaman estetik?

Pemilihan ini melulu karena akal budi rasionalitas yang memilah untuk komunikasi logis pembedaan. Maka pokok ini dalam Aesthetics A-Z oleh Eran Guter ditaruh dalam estetika kognitif (Guter, ibid, 2010, hal.40).

Yang dirumuskan sebagai estetika yang mengajari kita, bahwa seni itu pengetahuan atau pemahaman dimana karya-karya seni yang kita apresiasi memberi kognisi tentang proses imajinasinya, muatan nilai pengetahuan yang benar itu, estetis dari kehidupan dalam karya seni.

Saya menangkapnya, sebagai pencerahan dengan ciri memberi informasi dari tak tahu menjadi tahu. Bisa pula pemahaman pesan pendidikan dari karya itu.   

Sedangkan estetika emotivis, ditempatkan lawan dari kognitivis karena untuk apresiasi keindahan atau kualitas seni cukuplah bila orang to respond emotionally: mencerapnya dengan rasa.

Posisi ini merupakan posisi David Hume, yang menegaskan secara mendasar unsur subyektif (rasa personal [subjek] penikmat seni) dalam menilai karya-karya seni. Dalam aliran seni estetika ini, muncul sebagai ekspresivisme yang pada saatnya dijadikan aliran ekspresionisme.

Bahwa ekspresi emosi itu mesti menyeruak, misalnya dalam karya lukisan.

Kita punya contoh Affandi, dari ekspresionis awal sampai gelegak ekspresinya ia tuangkan dalam cototan-cototan tube warna, sehingga tampil cuatan-cuatan dahsyat ekspresinya, bahkan jari-jemari ia pakai untuk melukis.

Metode fenomenologi

Karena keduanya bersumber sama yaitu kehidupan seni itu sendiri, maka seni yang mau merawat, memuliakan kehidupan mesti didekati dengan cara membeberkan atau mendiskripsi sebagai gejala yang menghayati hidup sebagai kebijaksanaan dalam melakoninya.

Inilah metodologi fenomenologi yang menengahi antara dikotomi di atas untuk membeberkan sebagaimana adanya kebijaksanaan hidup yang bernilai: life wisdom.

Life wisdom (kebijaksanaan hidup sebagai acuan laku dihayati sebagai peribahasa, pepatah dan nasihat-nasihat hidup, harmoni dengan semesta dan sesama secara horizontal serta dengan langit, yang Ilahi).

Buku koleksi peribahasa

Peribahasa Nusantara merupakan mata air kearifan sebagai bangsa yang diturun-ajarkan, dididik dengan budaya (baca: tradisi) lisan, tutur dongeng dengan kata-kata yang memuat realitas kepulauan Nusantara. Yang pulau-pulau atau daratan serta sungai dan samudera air atau lautan setelah masuk ke budaya tulis, pepatah-pepatah itu dituliskan, diurutkan sesuai abjad karena urutan dipandang sebagai nilai.  Sedangkan ada pula urutan tema lantaran nilai fungsinya ditaruh depan.

Tengoklah peribahasa yang mendiskripsi utuh Nusantara ini: “garam dari laut dan asam dari gunung, bertemu dalam belanga” (tempat masak seperti kuali terbuat dari tanah liat).

Inti nilai yang termuat dari peribahasa ini: orang Nusantara mesti mengenali wajah realitas daratan dan maritim, untuk mengembangkan menjadi tempat hidup dan mata pencaharian.  Namun, tiap kali ibu memasaknya di belanga, memberi bumbu dan memasaknya secara baru dan sehat untuk santapan.

Bung Iman Budhi Santosa dengan induktif mengumpulkan peribahasa-peribahasa dari Nusantara yang dihayati, dididikkan dari seluruh Nusantara dan menuliskannya menjadi buku. Dengan meniti menurut penghayatan yang melalui tradisi lisan, lalu ia mengelompokkan berdasarkan isi nilai yang jadi acu panduan hidup masyarakatnya.

Iman Budhi Santosa merajutnya jadi buku Peribahasa Nusantara: Mata Air Kearifan Bangsa, 1650 halaman, 2006.

Dalam pengantarnya, ia tulis konteks tujuan penyusunan dalam rangka pendokumentasian, rangkuman yang menyajikan sebagian kecil nilai-nilai kearifan lokal dari berbagai suku bangsa sebagai aforisme (peribahasa) suku-suku bangsa di seluruh tanah air (Peribahasa Nusantara, 2006, hal. ix). 

Ilustrasi: Segenap OMK diimbau aktif terlibat dalam kegiatan bernarasi positif di panggung medsos. (Sr. Maria Seba SFIC)

Deskripsi apa itu peribahasa (aforisme) menurut Iman Budhi Santosa berwujud kalimat padat, singkat, puitis dan berdaya tarik untuk mudah diingat dan dihafal masyarakatnya. Isinya: prinsip hidup, nasihat, aturan tingkah laku yang dipujikan sebagai baik dan dilarang menurut adat tradisi setempat.

Proses induksi menggalinya dari simpul-simpul pandangan hidup dalam agama, kepercayaan, mitos, religi, falsafah serta ajaran pujangga, datu, wali atau cerdik cendekia yang ‘empiris’ berdasar pengalaman menjadi pedoman hidup. (Iman Budhi Santosa, Peribahasa Nusantara, 2006, hal. viii).

Dalam daftar isi bisa diacu pengelompokkan per tema nilai:

  • ada tema kejujuran, kebenaran dan kebajikan (hal. 205 dan seterusnya);
  • ada tema kepercayaan dan religiositas (hal. 389 dan seterusnya);
  • ada tema kepribadian dan harga diri (hal. 483 dan seterusnya).

Langsung jelas secara fenomenologis, deskripsi dari induksi ajaran-ajaran sebagai fenomen-fenomen pedoman hidup dalam peribahasa via tradisi tutur lisan, lalu ditulis dibukukan sebagai teks (deduksi) tematis.

Berbagai peribahasa

Menarik membaca peribahasa dengan panduan hidup mengenai kejujuran. Peribahasa Bali: “Astiti bakti dasarin antuk Nirmala”, artinya bakti yang tulus dilandasi hati yang suci bersih, hendaknya dipedomani dalam berbakti (Iman Budhi Santosa, ibid. hal.206).

Di Banjar, diungkap: “Asal membawa bujur lawan banar, Salamat”. Artinya, asal bersikap jujur dan benar akan selamat (hal.207).

Di Flores peribahasa untuk jujur diungkap: “Tukan titen tenu titen”, maksudnya, hidup dengan jujur dengan memakan yang jadi miliki sendiri dan meminum dari milik sendiri pula (hal. 210).

Madura: “Orèng jhujhur matè ngonjhur” artinya, orang yang jujur mati di tempat tidur, gambaran mati yang tenang, tentram, sempurna (hal.213).

Karena cirinya yang dihayati dan diajarkan langsung dijadikan laku hidup dalam langkah-langkahnya, maka peribahasa memberikan deskripsi life wisdom informations. Ini tidak tercantum dalam kamus atau ensiklopedi. Karena tutur ajar mengajarnya kelisanan; belum ada tradisi tulis, apalagi dirumuskan dalam kamus.

Kejujuran, merawat hidup, kebaikan sebagai beberapa contoh dalam peribahasa yang mengajarkan kebijaksanaan hidup, laku hidup yang bijaksana.

Inilah yang berharga dan bermakna dalam laku hidup, demikian peribahasa-peribahasa mau bersuara, mengajar, menasehati masyarakat.

Inilah nilai hidup dalam deskripsi, pembeberan peribahasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here