Belajar dari Cak Lontong

0
223 views
Cak Lontong. (Harian Surya Malang)

Puncta 30.03.23
Kamis Prapaskah V
Yohanes 8: 51-59

SAYA senang dengan gaya lawakan Cak Lontong yang aslinya bernama Lies Hartono. Dia sangat piawai memainkan logika dan silogisme dengan guyonan-guyonan segar dan menghibur.

Selain itu dia juga menyelipkan motivasi-motivasi yang memberi semangat bagi penontonnya.

Dalam acara Waktu Indonesia Bercanda (WIB), Cak Lontong sering bikin gemes, jengkel, marah pasangan lawaknya. Wendy dibikin nangis, karena tidak mau menerima jawaban-jawaban Cak Lontong yang menggemaskan.

Denny Cagur juga dibuat emosi dengan jawaban-jawaban lucu Cak Lontong.

Diskusi bahkan debat yang terjadi di antara mereka kendati perbedaannya rumit dan tidak masuk akal, tetapi dilakukan dengan penuh canda tawa.

Cak Lontong selalu menyajikan logika-logika yang menyegarkan. Penonton dibuat tertawa dan mengangguk-angguk menyetujui cara pikir Cak Lontong.

Walau terjadi perdebatan tajam bahkan bisa bikin jengkel, marah, dan emosi, tetapi Cak Lontong bisa membawakan dengan gaya humor yang segar.

Cak Lontong juga hadir di acara komedi Indonesia Lawak Klub (ILK). Acara ini adalah parodi dari Indonesian Lawyers Club (ILC) yang penuh dengan debat kusir.

Semua peserta mau menangnya sendiri, merasa paling pinter, paling benar. Bahkan malah mempertontonkan sikap permusuhan dan kebencian.

Dalam bacaan Injil hari ini, saya membayangkan perdebatan Yesus dengan orang-orang Yahudi sangat keras.

Bankan mereka menuduh Yesus sampai kerasukan setan. Mereka marah dan berusaha mengambil batu untuk melempari-Nya.

Mereka tidak menemukan titik temu dan solusi. Perbedaan pandangan sangat tajam. Yesus menjelaskan bahwa Dia datang dari atas, mereka dari bawah. Yesus bukan dari dunia, mereka berasal dari dunia. Yesus ada sebelum Abraham, tetapi mereka tidak percaya.

“Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” kata orang-orang Yahudi dengan marah.

Kata Yesus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, aku ada.” Kebencian mereka makin menjadi-jadi. Mereka mengambil batu untuk melempari Dia.

Apakah Yesus seorang humoris? Pasti, kalau tidak tentu ajaran-Nya tidak disukai banyak orang. Ia punya banyak follower dimana-mana.

Ada banyak orang berbondong-bondong ingin mendengarkan Dia. Anak-anak pun datang kepada-Nya. Bahkan orang sekaya Zakeus pun berlari dan tanpa malu memanjat pohon untuk menembus kerumunan orang banyak untuk mendengarkan Yesus.

Namun dalam hal mengatakan kebenaran, Yesus tidak bercanda. Kebenaran harus dinyatakan sebagai kebenaran.

Ia berkata, “kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Dia berasal dari Allah dan datang sebagai Utusan Allah itulah kebenaran yang disampaikan-Nya. Dialah Firman yang keluar dari Allah.

Sebagaimana Allah menciptakan dengan firman-Nya, demikianlah Yesus ada sebelum Abraham ada. Percayakah kita dengan apa yang disampaikan-Nya?

Menikmati jalan kenangan,
Sambil lihat bunga di taman.
Sabda-Nya adalah kebenaran,
Percaya Dia akan dapat jalan.

Cawas, hari yang indah…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here