Benih yang Ditabur di Pasang Surut

0
192 views
Ilustrasi: Rekoleksi para imam dan frater calon imam diosesan Keuskupan Agung Palembang di wilayah terpencil kawasan rawa-rawa di Paroki Pasangsurut, Kabupaten Banyuasin. (Ist)

Puncta 23.07.21
Jum’at Biasa XVI
Matius 13: 18-23

SETELAH ibu meninggal, bapak sering bercerita tentang perjuangannya di Pasang Surut, Sumatera Selatan.

Selain harus babat hutan untuk buka ladang, bapak juga berjuang untuk memelihara iman di tempat yang baru.

Bersama keluarga-keluarga muda seperti Mas Dalino, Om Topo, Pak Marno dan beberapa orang lagi, mereka berkumpul saling meneguhkan iman di pelosok daerah transmigrasi. Sangat jauh dari Kota Palembang di Sumsel.

Bapak sering diminta memimpin ibadat sabda dan upacara-upacara hajatan.

Satu tahun lebih mereka rindu ikut ekaristi. Bapak menghubungi Romo Abdi SCJ di Palembang.

Akhirnya Romo Abdi mengunjungi domba-domba di Pasang Surut secara rutin.

Bapak sering diajak Romo turne ke stasi-stasi yang jauh. Kadang harus menginap berhari-hari di stasi.

Bapak menjelajahi Stasi Air Saleh 1 sampai Air Saleh 5. Juga umat di Jalur 14 dan Jalur 20.

Nama Pak Sridadi tidak asing bagi umat di jalur itu. Benih yang ditabur 40 tahun yang lalu kini sudah berbuah.

Senyum bapak mengembang, ketika diberitahu Pasang Surut menjadi tanah subur panggilan biarawan-biarawati.

Ada Sr. Marlisa CB dan Sr. Liani CB yang kakak beradik.

Lalu muncul lagi Sr. Thifani FCh, Sr. Tadea FCh. Yang menjadi imam ada juga yakni Romo Widi Pr dan Romo Yunus Pr.

“Puji Tuhan, benih yang ditaburkan di Pasang Surut kini sudah berbuah” gumam bapak dengan wajah menerawang jauh di sana.

Aku ikut menerawang, mengenang bapak dengan mata berkaca-kaca.

Aku jadi rindu cerita-cerita petualangan bapak.

Yesus berbicara tentang penabur, benih dan tanah dimana benih itu ditaburkan.

Ada tanah yang subur, tetapi juga ada tanah berbatu, penuh semak duri dan gersang. Tanah yang subur bisa menghasilkan buah berlipat ganda.

Ada juga penghalang yang membuat benih tidak tumbuh berkembang.

Hidup kita ini layaknya tanah, tempat Tuhan menaburkan benih. Hidup yang baik adalah tanah yang subur.

Hidup yang menjadi berkat bagi banyak orang ibarat tanah yang menghasilkan banyak panenan.

Mari kita menyediakan diri menjadi tanah yang baik, agar hidup kita menjadi berkah.

Jadilah lahan subur sehingga hidup dapat jadi pujian syukur bagi Pemilik Kehidupan dan berkah melimpah bagi sesama yang mengharapkan.

Naik sampan di Waduk Gajah Mungkur.
Terus menyusuri pantai selatan yang indah.
Hidup ini akan menjadi pujian syukur,
Jika kita mau berkorban dan berbagi berkah.

Cawas, hati merindu….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here