Senin, 1 September 2015
1Tes. 4:13-17a.
Mzm. 96:1,3,4-5,11-12,13.
Luk. 4:16-30
DALAM hidup sehari-hari, tidak jarang kita mengalami penolakan, direndahkan, bahkan dipandang remeh oleh orang lain.
Apa yang kita kerjakan sering dianggap sepele, seolah tidak bernilai, hanya karena kita bukan siapa-siapa: bukan anak orang terpandang, bukan anak pejabat, bukan dari keluarga kaya atau berstatus tinggi.
Dunia begitu sering menilai berdasarkan penampilan luar, jabatan, harta, dan status sosial, bukan dari hati yang tulus dan kerja keras yang nyata.
Di hadapan Tuhan, ukuran itu sama sekali berbeda. Allah tidak memandang siapa orang tua kita, berapa banyak kekayaan yang kita miliki, atau setinggi apa jabatan kita.
Yang berharga di mata Tuhan adalah hati yang setia, sikap rendah hati, dan kesungguhan dalam melakukan setiap hal, meskipun kecil, dengan kasih.
Yesus sendiri pernah ditolak, direndahkan, bahkan dianggap tidak layak hanya karena Ia berasal dari Nazaret, sebuah kota kecil yang dipandang sebelah mata. Tetapi dari tempat yang sederhana itulah keselamatan dunia lahir.
Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.”
Kita melihat reaksi keras dari orang-orang yang ada di rumah ibadat. Mereka marah mendengar perkataan Yesus, lalu menghalau-Nya keluar kota, bahkan berniat melemparkan-Nya ke tebing.
Padahal yang disampaikan Yesus bukanlah kebohongan, melainkan kebenaran yang berasal dari Allah.
Inilah kenyataan hidup: kebenaran sering kali tidak mudah diterima. Banyak orang lebih suka hidup nyaman dalam kebiasaan lama, dalam kepalsuan dan kemunafikan.
Ketika ada yang menegur, ketika ada suara yang menyentil hati, reaksi yang muncul justru kemarahan, penolakan, bahkan tindakan kejam.
Sama seperti Yesus ditolak di kampung-Nya sendiri, kita pun bisa ditolak ketika berusaha hidup benar dan menyuarakan kebenaran.
Yesus tidak mundur. Ia tetap melangkah maju, sebab misi-Nya berasal dari Bapa, bukan untuk menyenangkan hati manusia, melainkan untuk menyelamatkan dunia.
Menjadi murid Kristus berarti siap menghadapi penolakan, cemooh, bahkan kebencian, ketika kita memilih untuk setia pada kebenaran dan kasih.
Bagaimana dengan diriku?
Apakah saya berani tetap hidup dalam kebenaran meskipun ada risiko ditolak atau dimusuhi?











































