Cinta Kasih di Atas Segalanya

0
155 views
Ilustrasi: Bantuan kemanusiaan berupa paket makanan dari jaringan Karmelit di Peru untuk masyarakat lokal. (Ist)

Rabu, 20 Januari 2021

Bacaan I:Ibr 7:1-3.15-17
Injil: Mrk 3:1-6

MUSIM paceklik, kadang dialami oleh umat di pedalaman khususnya pada saat musim hujan. Pada saat itu mereka sulit mendapatkan hewan buruan, dan stok makanan menipis.

Pada musim penghujan gabah susah dijemur, meski punya stok gabah namun tidak bisa ditumbuk menjadi beras.

Pada saat packelik seperti itu, biasanya jika kami turne kunjungan umat, kami membawa perbekalan yang cukup banyak. Bahan makanan, yang terdiri dari beras, minyak, garam, kecap, telur bahkan ayam potong hidup kami bawa.

Setelah sampai di stasi, pemimpin umat akan mengurusnya, untuk dimakan bersama dan mana yang akan diberikan pada umat yang perlu mendapatkan bantuan bahan makanan.

Setelah rangkian stasi-stasi yang kami kunjungi, di stasi terakhir bahan makanan sudah menipis, beras tinggal 10 kg, dan 60 biji telur. Perjalanan ke stasi terakhir ini cukup jauh dan sangat melelahkan, karena medannya sulit sekali.

Kondisi kami waktu itu sangat lelah, juga lapar. Maka muncul keinginan untuk makan dengan nasi panas, dan telor dadar, serta sambel, pasti enak.

Waktu makan malam tiba, yang dihidangkan hanya singkong rebus. Saya hanya pikir mungkin ini baru snack, setelah itu pasti makan malam. Maka saya hanya makan ala kadarnya.

Setelah singkong habis, kami ngobrol, tapi saya merasa heran, mengapa semua orang ikut ngobrol dan tidak ada yang di dapur. Akhirnya saya tahu bahwa singkong tadi itu makan malamnya, karena sampai malam, tidak ada makanan lagi.

Malam itu akhirnya puasa, namun bunyi perut semalaman menjadi sangat meriah.

“Beras dan telur kemarin dibagi atau masih di simpan?,” tanyaku pada ketua umat.

“Maaf Pastor, saya sudah bagi ke 4 (empat) keluarga yang punya anak kecil,” jawabnya.

“Kita bisa makan singkong atau makanan yang lain, tetapi anak-anak itu hanya bisa makan bubur,” biar anak-anak sehat ya pastor, jelasnya dengan meyakinkan.

Ketua stasi itu, berpikir bijak yang berlandaskan cinta kasih dan demi kebaikan.

Dalam bacaan Injil kita dengar, “Yesus berkata kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada Hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” 

Pilihan ada pada tangan kita, mau berbelaskasih atau menutup mata terhadap kepentingan saudara kita yang lemah?

Selamat pagi dan berkah dalem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here