Datang dan Lihatlah: Nafas pun Jadi Mahal untuk Pak Juki

0
165 views
Datang dan melihat kondisi hidup sehari-hari Pak Juki yang mengalami sakit gagal ginjal sejak tahun 2018. (Esti)

AKU melintasi kompleks areal Kuburan Kramat. Berboncengan motor dengan seorang temanku. Namanya Bu Venny. Ini mengikuti arahan Chandra, temanku yang lain, yang juga bermotor namun posisinya ada di depan kami.

Tak habis aku berpikir sekaligus heran. Di ujung kompleks kuburan ini, ternyata tersembunyi komplek lain yang lebih kecil. Yakni sebuah permukiman penduduk.

Permukiman penduduk kini berbaur dengan kuburan. Bahkan kulihat beberapa nisan kuburan malah sudah “menjadi bagian” rumah mereka.

Dan hari ini, kami sengaja datang ingin mengunjungi orang yang lagi membutuhkan bantuan donasi. Memberi bantuan uang amal untuk pembelian oksigen secara rutin.

Nama orang itu adalah Juki Handarin.

Nafas itu gratis, tapi berat untuk Juki

Bisa bernafas bebas tentu akan membuat kita tetap hidup dan mampu beraktifitas. Sayangnya tidak semua orang bisa bernafas dengan bebas.

Oksigen kini sudah menjadi barang sangat mewah. Terutama bagi Pak Juki yang sudah mengalami gagal ginjal sejak tahun 2018.

Hingga kini, ia masih sangat membutuhkan bantuan asupan oksigen setiap saat. Di usianya 33 tahun ini, ia terpaksa hanya bisa tidur sepanjang hari. Itu pun harus tetap dipasang selang oksigen di lubang hidungnya.

Pak Juki saat masih sehat bersama isteri dan anak tunggalnya sebelum akhirnya tahun 2018 mulai sakit karena ginjalnya tidak lagi bisa berfungsi dengan baik. (Esti)

Kisah sakit

Awalnya, Pak Juki hanya mengalami pusing-pusing saja. Tidak bisa tidur. Mengalami mual sangat hebat dan lalu mengalami bengkak di pipi. Dokter yang menangani memintanya untuk cuci darah sepekan dua kali. Namun setahun terakhir ini, ia harus cuci darah sepekan tiga kali.

Untuk urusan cuci darah, ia masih beruntung karena biayanya ditanggung menggunakan Kartu Indonesia Sehat bagi Keluarga Prasejahtera miliknya. Namun Pak Juki punya tanggungan. Isteri dan seorang anak yang harus dipikirkan kelangsungan hidupnya.

Pekerjaan Pak Juki sebelumnya sakit adalah menjadi juru parkir. Kini, kerjaan tak tetap ini terpaksa dia tinggal karena sakit.

Kini, isterinya menggantikan fungsinya. Menjadi tulang punggung keluarga. Bekerja menjaga gerobak pisang goreng milik orang lain. Hasilnya sudah barang tentu tak mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Apalagi harus membeli isi oksigen di tabung pinjaman dari rumah sakit.

Anak kandung Pak Juki bernama Damar. Ia juga mengalami  gangguan tuna laras yang membutuhkan perhatian dan terapi khusus.

Namun semenjak Pak Juki sakit, terapi terpaksa dihentikan, Damar pun menjadi tak terkontrol emosinya.

Rumah tempat tinggal keluarga Pak Juki di areal pekuburan. (Esti)

Warisan orangtua

Di Kampung Kramat, mereka juga hanya menempati sebuah kamar di rumah milik orangtua Pak Juki. Rumah kecil dan kamar apa adanya.

Hanya dilengkapi sebuah kamar mandi untuk mereka gunakan bergantian antara keluarga Pak Juki dan ibunya.

Kondisi rumahnya jauh di bawah kata sederhana. Juga tak bisa disebut rumah yang sehat dan layak bagi proses kesembuhan Pak Juki.

Inilah potret kemiskinan di negara kita yang tak pernah selesai ditangani.

Kemiskinan berlipat-lipat dari kemiskinan absolut (pendapatan di bawah garis kemiskinan sehingga tak mampu mencukupi kebutuhan pokok) yang saling tumpang tindih dengan masalah lain.

Kondisi keseharian hidup Pak Juki menggambarkan situasi itu.

“Datang dan lihatlah”

Pesan Paus Fransiskus berbunyi “Datang dan Lihatlah, Berkomunikasi dengan Menjumpai Orang Lain Apa Adanya” (Yoh.1:47),

Ini disampaikan di Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-55.

Pesan pastoral Paus Fransiskus ini langsung membuka mata hatiku.

Dengan hadir langsung dan kegiatan menghimpun donatur dengan berbagai cara, sebagai orang Katolik, aku merasa ditantang turut merasakan penderitaan sesama kita.

Mungkin kita bukan orang berkecukupan. Namun, kita punya kemampuan untuk bekerja mencari donatur bagi orang yang membutuhkan.

  • Mungkin kita mampu menjadi pendoa untuk kesembuhan dari sakit mereka.
  • Mungkin kita perlu menyendengkan telinga guna bisa mendengarkan jeritan mereka yang mulanya tak mampu mereka ungkapkan.
Lukisan graffiti menarik di permukiman penduduk di areal kuburan. (Esti)

Setidaknya, kelegaan terjadi ketika ada orang yang peduli dan menyentuh mereka secara langsung di rumah-rumah mereka.

Kitalah “rasul-rasul” kecil Tuhan di masa kini.

Itulah tugas kita mengemban amanat pengutusan-Nya.

Datang dan melihat sendiri  kondisi hidup Pak Juki merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kami.

Kami hanya rasul kecil menjembatani antara yang berpunya dan yang membutuhkan. Sebentuk mandat dari para donatur yang mungkin tak seberapa bagi mereka, namun sangat berarti bagi Pak Juki.

Semoga di hari yang indah ini, Pak Juki dapat bernafas lega merayakan kemenangan bersama isteri dan anaknya.

Ucapan Bu Venny mengakhiri kunjungan kami. “Pak, setiap oksigennya habis, bapak tinggal minta kirim dari tokonya ya, sudah ada donatur yang membayar.”

Senyum Pak Juki tersungging lamat-lamat sembari membaca teks Kitab Suci yang di lafalkan anaknya: Damar.

Damar ini pula yang mengantar kami keluar rumah dan berpamitan.

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. (Yoh 15: 12)

Malang, Mei 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here