Demi Kemanusiaan

0
461 views
Ilustrasi - Belarasa. (Ist)

Kamis, 1 Desember 2022

Peringatan Wajib Beato Dionisius dan Redemptus

  • Yes. 26:1-6.
  • Mzm. 118:1,8-9,19-21,25-27a;
  • Mat. 7:21,24-27.

SEBUAH peristiwa yang cukup memprihatinkan terjadi saat suasana duka dan sedih karena gempa yang mengakibatkan korban jiwa dan harta benda, beberapa pemuda yang mengatasnamakan salah satu ormas, merobek tulisan identitas Gereja yang ada di tenda sumbangan peduli kemanusiaan.

Akibatnya, tenda-tenda menjadi bocor saat hujan tiba, hingga menambah kesusahan para korban yang berteduh di dalamnya.

Atas nama agama dan paham yang berbeda ada orang yang tidak peduli akan kesusahan para korban gempa.

Agama yang mestinya membantu kita untuk semakin bertindak beradab malah menjadi pendorong orang menciptakan penderitaan baru bagi orang lain.

“Pencopotan atribut gereja di tenda menunjukkan bahwa masih ada orang yang belum dewasa dalam beriman,” kata seorang bapak.

“Mestinya orang bisa membedakan mana aktivitas kemanusiaan, sosial, dan mana aktivitas syiar agama atau kristenisasi,” tegasnya.

“Sering kali dalam situasi darurat membuat banyak pihak melakukan aksi tanggap darurat dan menurutnya, pihak Gereja hanya berniat memberi bantuan semata dalam rangka kemanusiaan sesama saudara setanah air, tidak ada niat lainnya,” tegasnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.”

Injil hari ini kiranya jelas mengajak kita kearah mana. Membangun rumah iman seperti membangun sebuah rumah tinggal.

Jika dasarnya kuat, maka rumah iman kita juga akan kuat.

Sebesar apapun terpaan badai yang melanda, bangunan kita tetap akan mampu berdiri kokoh kuat. Membangun dasar yang kuat tentu juga memerlukan perjuangan yang tidak mudah.

Membangun dasar iman yang kuat itu bukan soal hanya berseru kepada-Nya. Membangun dasar iman soal kemauan untuk bergerak dan bekerja yang diresapi oleh kasih dan Sabda Tuhan.

Hanya berseru kepada-Nya tetapi tidak melakukan apapun, itu bukan membela Tuhan tetapi justru menistakan Tuhan.

Berseru dan bekerja, itulah tindakan nyata membangun rumah diatas wadas yang kuat.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah yang aku serukan pada Tuhan juga aku lakukan dalam hidup ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here