Dirjen Bimas Katolik Bayu Samodro Ajak PWKI Ikut Garap Katekese Kebangsaan Digital

0
178 views
Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI Yohanes Bayu Samodro (kemeja putih) berbagi pandangan dengan PWKI (Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia) tentang pentingnya katekese digital dan katekese kebangsaan. (Mathias Hariyadi)

INI berangkat dari dunia nyata. Ya masa sekarang ini. Di mana-mana pewartaan konvensional dirasakan sudah tidak memadai lagi. Dianggap sudah tidak mampu memenuhi permintaan “pasar”. Dan pasar itu adalah generasi millennial. Yang sejak kecil sudah mengakrabi alat-alat komunikasi nirkabel serba digital.

Dulu dan sekarang

Sekedar perbandingan. Dulu sekali, pewartaan iman melalui praktik katekese secara “tradisi” selalu terjadi dan berlangsung melalui pertemuan-pertemuan konvensional.

Taruhlah itu seperti sesi pelajaran agama yang diselenggarakan paroki. Terjadi setiap kali usai misa atau pada kesempatan lain. Melalui pertemuan-pertemuan tatap muka antara pihak pemberi materi dan target audiens penerima. Tatap muka antara pastor, bruder dan suster sebagai pemantik materi pengajaran dan para katekumen, calon baptisan baru dan lainnya sebagai audiensnya.

Kini, di zaman teknologi nirkabel digital, panggung katekese sudah bergeser. Dari semula hanya bisa mengandalkan pertemuan-pertemuan tatap muka secara fisik, kini baik pemberi materi dan audiens merasa diri lebih “suka” kalau “pertemuan” itu terjadi di panggung virtual.

Suka tidak suka, zaman sudah berubah. Generasi millenial lebih merasa “asyik” berkutat dengan gadget-nya daripada diajak bertemu muka dengan kerabat keluarganya.

Karena itu, mental manusia modern untuk mau beradaptasi dengan “panggung virtual” juga telah menjadi sebuah keniscayaan. Menimpa dan terjadi di bidang kegiatan katekese atau pewartaan iman.

Mengisi konten juga penting

Itu baru bicara tentang sistem metode eksekusinya. “Mengingat generasi milenial adalam masa depan bangsa, yang tidak kalah penting adalah mengisi kontennya,” kata Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro di ruang kerjanya Kantor Kemenag RI Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa siang (27/10/2000).

Bayu menggagas paparan penting ini bersama sejumlah pengurus PWKI (Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia). Mereka datang menemui Bayu Samodro dan mengajak berdiskusi tentang masalah-masalah strategis kebangsaan. Rombongan PWKI terdiri dari Putut Prabantoro, Asni Ovier DP, Rosi Sihombing, Setyo “Tomi” Hutomo, Aloysius Tedi Satrio Dirgantoro, Yohanes Eko Wahyu Ardiyanto, dan Mathias Hariyadi.

Dan pada kesempatan yang baik itulah, Dirjen Bimas Katolik Bayu Samodro memandang penting dua hal strategis yang layak menjadi perhatian Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik dan PWKI sebagai mitra kerja potensial yang dianggapnya mumpuni menggarap dua hal strategis itu.

Sistem metodenya adalah katekese digital. Konten tidak hanya persoalan iman dan ajaran Gereja Katolik saja di sekitar altar, tetapi justru di ‘pasar’, dalam konteks sosial masyarakat riil Indonesia yang majemuk. “Maka perlu juga mengandung nilai-nilai kebangsaan,” kata Bayu Samodro.

Ia mengatakan gagasan penting ini guna menyambung paparan “PWKI Menuju Masa Depan” yang disajikan oleh Putut Prabantoro sebagai pendiri PWKI dan kemudian ditambahi sejumlah poin penting lainnya oleh Asni Ovier DP selaku Ketua PWKI sekarang.

Pendiri PWKI (Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia) Putut Prabantoro bicara tentang peran PWKI di masa depan dalam konteks merajut semangat kebhinnekaan dan persatuan bangsa. (Mathias Hariyadi)

Produk sistem rekrutmen baru

Yohanes Bayu Samodro mengakui dirinya benar-benar “orang baru” di lingkungan Aparatur Sipil Negara dan tentu saja di lingkungan Kemenag RI; khususnya di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik. Ia tampil sebagai Dirjen Bimas Katolik yang benar-benar grès karena berasal dari “luar”. Dari kalangan swasta murni dan bukan juga seorang ASN.

Bayu Samodro adalah hasil produk sebuah sistem rekrutmen model baru yang mulai dipraktikkan oleh negara dan pemerintah. Tiada lain adalah sistem lelang jabatan secara publik dan terbuka.

Dalam lelang jabatan secara publik dan transparan ini, Bayu terpillih menjadi Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI. Dilantik oleh Menag RI Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi tanggal 10 Agustus 2020 lalu. Namun, sejak mengampu fungsi dan jabatan Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI inilah, Bayu langsung tancap gas.

Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI – Yohanes Bayu Samodro (Ist)

Ia sering bicara tentang gagasan besar: Katekese Kebangsaan. Tak dinyana, atas perkara ini, banyak yang lalu melayangkan kritik mereka. Kata mereka, katekese adalah “wilayah kerja” para imam. Singkatnya, hirarki. Bukan ranahnya Dirjen Bimas Katolik.

Tapi, benarkah demikian?

Katekese kebangsaan

Kalau menyimak diskusi selama 2,5 jam dengan sejumlah pengurus PWKI yang berlangsung Selasa siang tadi, maka kritik terhadap Bayu Samodro tentang ide besar soal Katekese Kebangsaan rasanya lebih disebabkan karena kurang pahamnya mereka tentang peran Direktorat Jenderal Bimas Katolik.

Sebagai lembaga pemerintahan, demikian kata Bayu Samodro, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kemenag RI ini punya sejumlah lembaga pendidikan formal “pencetak” katekis. Mulai dari level SMA sampai perguruan tinggi.

“Memang tidak banyak, tapi lembaga pencetak guru-guru agama Katolik produk Direktorat Bimas Katolik itu ada dan kami sangat peduli dengan mutu pendidikan mereka,” terang Bayu Samodro sangat semangat.

Lembaga-lembaga pendidikan formal itu “milik” Direktorat Jenderal Bimas Katolik Kemenag RI ini sungguh nyata ada. Masih eksis sampai sekarang. Juga butuh “pengembangan” lebih lanjut. Agar sesuai perkembangan dan tuntutan zaman –utamanya dunia teknologi komunikasi digital.

Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI Yohanes Bayu Samodro mengajak PWKI ikut berperan dalam katekese digital dan katekese kebangsaan karena punya kapasitas profesional menggarap dua hal strategis itu. (Mathias Hariyadi)

Maka, dalam konteks skala global inilah, Dirjen Bimas Katolik lalu merasa penting memunculkan pemikiran betapa strategisnya perkara katekese ini.

“Kalau bicara masa kini, maka salurannya jelas yakni katekese digital. Ini dunia dan panggung eksistensi generasi millenial saat ini. Kami harus memikirkannya sekarang. Tapi karena konteksnya, kita ini lahir dan hidup di Indonesia, maka pewartaaan-pewartaan iman Kristiani ini juga harus membumi. Kontekstual dengan sikon Indonesia di mana kita sekarang ini berada,” papar Bayu Samodro.

Konteks ke-Indonesia-an itu, kalau mau ditelaah lebih lanjut, titik relevansinya ya harus cocok dengan kondisi dan tantangan hidup sosial-kemasyarakatan akhir-akhir ini di Tanahair tercinta.

Dan menyambung gagasan besar atas paparan PWKI yang dipresentasikan sebelumnya, maka “katekese kebangsaan” itu semestinya harus perhatian bersama. Antara Direktorat Bimas Katolik Kemenag RI dan PWKI.

Dari altar ke pasar

Ini sekedar ilustrasi.

Sakramen Inisiasi seperti Sakramen Babtis itu tidak boleh berhenti hanya pada tindakan mencurahkan air suci di dahi penerima babtis. Melainkan harus berlanjut pada pendidikan moral kristiani. Harapannya adalah agar di kemudian hari para babtisan baru itu bisa berkembang menjadi pribadi-pribadi yang matang secara iman kristiani sekaligus menjadi warga negara yang baik dan berintegritas.

Di titik perhatian inilah, gagasan besar tentang katekese digital dan katekese kebangsaan lalu mendapatkan tempatnya.

Jadi, sama sekali bukan menggeser hirarki atau mengubah “tatanan” pola baku materi katekese seperti yang sempat ditudingkan melalui medsos. Melainkan, gagasan ini sebenarnya hanya mau mengajak Gereja, yaitu hirarki dan terutama awam yang memang hidup langsung di tengah masyarakat, memikirkan tindak lanjut nyata pasca penerimaan Sakramen Inisiasi yakni pembabtisan.

Pada konteks inilah, Direktorat Jenderal Bimas Katolik berkepentingan ingin bisa menghasilkan katekis-katekis andalan. Secara keilmuwan dan intelektual punya kapasitas melakukan katekese digital –sesuai tuntutan zaman. Juga mampu mengemasnya secara kontekstual dan menarik agar harapan-harapan baik itu bisa diretas mulai sekarang.

Tantangan di depan ada. Termasuk bagaimana menjadikan keberadaan Direktorat Bimas Katolik Kemenag itu terasa eksis di masyarakat. “Pertama-tama di lingkungan internal kita sendiri yakni di hadapan hirarki dan umat Katolik,” papar Bayu Samodro.

Jatidiri Katolik itu perkara spirit

Menanggapi sejumlah pertanyaan dan tanggapan para pengurus PWKI dalam sesi diskusi terbuka itu, Dirjen Bimas Katolik Bayu Samodro dengan tegas mengatakan, sebagai umat Katolik di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas non Kristiani, maka identitas ke-Katolik-an kita itu bukan pertama-tama soal “agama”.

Bayu lebih mau memaknai sebagai spirit. “Jatidiri sebagai orang Katolik terletak di hati,” kata Bayu Samodro sembari menunjukkan ulu hatinya.

Dengan demikian, fakta bahwa umat Katolik ini menjadi minoritas di tengah mayoritas menjadi kurang relevan lagi untuk selalu diperdebatkan atau dipersoalkan.

Meski jumlahnya sangat kecil –katakanlah tidak sampai 10 juta dari total seluruh jumlah penduduk Indonesia– demikian kata Bayu Samodro, “Namun kalau jumlah yang sangat kecil ini jika bermutu baik, maka keberadaan kita sudah mampu menjadi ‘terang dan garam’ dalam masyarakat. Memberi pengaruh baik di masyarakat, itulah misi kita semua.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here