Doa bagi Rakyat Myanmar dan Kecaman untuk Junta Militer

0
125 views
Sr.Irena Handayani OSU, mengucapkan doa mewakili umat Katolik dalam doa bersama lintas iman untuk rakyat Myanmar. Foto : Screenshot.

Malam ini, Jumat (23/4/2021) doa bersama komunitas lintas iman berlangsung secara virtual dan dihadiri berbagai kelompok. Masing-masing perwakilan dari kelompok Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Sunda Wiwitan, Kong Hucu, dan Islam melantunkan doa dan permohonan agar Tuhan melimpahkan damai dan kasihNya bagi semua saudara di Myanmar yang telah menjadi korban kekerasan dan meninggal serta mereka yang masih hidup dan menderita.

Para pendoa ini juga melantunkan permohonan agar kondisi Myanmar semakin kondusif, Myanmar dianugerahi kedamaian dan kekerasan serta kejahatan disingkirkan dari negeri yang pernah dikenal dengan sebutan Burma.

“Besok, ada rapat ASEAN untuk mengaddress isu di Myanmar. Kita tidak akan mendoakan junta militer. Tapi ingin menunjukkan sikap solidaritas, mendukung lebih dari 700-an rakyat Myanmar yang telah menjadi korban kekerasan junta militer. Doa kita intensikan untuk mereka yang tertindas, yang selama ini mengalami represi, selama ini tidak ada ekspresi. Acara malam ini merupakan bentuk pemberian semangat bagi keluarga korban dan spirit bagi demokrasi di Myanmar,” ujar Daniel Awigra dari HRWG Indonesia, Jumat (23/4/2021).

Sebelum pembacaan doa, wakil dari berbagai komunitas menyerukan kecaman dan pernyataan sikap. Semua komunitas dengan tegas mengutuk kejadian kekerasan yang dialami rakyat Myanmar oleh junta militer. Juga menyerukan kepada para pimpinan negara-negara ASEAN untuk menghormati hak asasi manusia, khususnya bagi perempuan dan anak-anak. Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Jokowi diminta bersikap tegas dan bersama pemimpin ASEAN lain mencari solusi konstruktif, tindakan konkret bagi Myanmar.

Akses Bantuan

Salah satu inisiator kegiatan doa ini, Romo Adrianus Sujadi SJ menyebutkan, kegiatan doa ini merupakan upaya yang bisa kita lakukan karena ketika diminta teman-teman dari Myanmar, dirinya tidak tahu harus berbuat apa. “Salah satu cara adalah dengan doa. Kita tidak tahu apakah junta militer akan datang atau tidak. Kita berdoa supaya ada akses untuk bantuan kemanusiaan dan kesehatan untuk rakyat Myanmar,” ujarnya.

Sementara itu dalam pernyataannya, Suster Geno Amaral SSpS, dari Vivat International dengan tegas meminta agar teman-teman aktivis membuat pernyataan bersama untuk bisa disampaikan ke komunitas internasional selain dukungan dan mendoakan rakyat yang menjadi korban kekerasan di Myanmar.

Sementara Koordinator Gerakan Perempuan Peduli Indonesia (GPPI) Rita Serena Kolibonso menyerukan agar upaya pencarian jalan keluar bagi Myanmar tidak meninggalkan suara dari rakyat Myanmar dan tidak membiarkan kejahatan terhadap kemanusiaan ini tidak diselesaikan secara berkeadilan bagi semua.

“Saya serukan supaya dalam mencari jalan keluar untuk penyelesaian masalah Myanmar harus dibangun zona aman untuk rakyat Myanmar juga mereka yang ingin melakukan aktivitas untuk kerja kemanusiaan dan memberikan bantuan dan komunikasi dari sesama warga ASEAN baik dari masyarakat sipil maupun tenaga rohaniwan serta tenaga kemanusiaan,”ujar Rita Kalibonso.

Beberapa kelompok yang hadir dalam acara ini antara lain BHATIDA, AJAR, JPIC-OFM, Vivat Internasional, Talitakum, Sunda Wiwitan, Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, HRWG Indonesia, serta beberapa komunitas lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here