Evangili.id Ajak Orang Muda Temukan Jatidiri di Tengah Pandemi

0
224 views
Jatidiri di Tengah Pandemi.

REMAJA Italia yang baru-baru ini menjadi beato, Carlo Acutis, seolah mengingatkan banyak orang, khususnya umat Katolik, akan potensi diri orang muda. Akan tetapi, sering kali energi orang muda terserap dalam memenuhi tugas perkembangannya untuk menemukan jati diri.

Proses khas yang dialami para remaja dan orang muda ini -jika tidak menemukan media pendampingan dengan tepat- dapat berlalu begitu saja. Tidak jarang kebutuhan seseorang menemukan kesejatian dirinya tidak terpenuhi hingga dewasa bahkan lansia.

Kebutuhan ini dengan baik ditangkap oleh komunitas orang muda Katolik, Evangili.id, yang pada hari Jumat 20 November 2020 memfasilitasi para orang muda dari 23 provinsi di Indonesia melalui fellowship virtual bertema “Berani Menjadi Diri Sendiri”.

Promosi yang dilakukan Evangili.id terasa pas dengan apa yang seringkali dirasakan orang dalam proses pencarian jati diri. “

Sering merasa insecure menjadi diri sendiri?, merasa dituntut menjadi orang lain?, gak bebas, jadi apa adanya?. Semua itu menjadi pembuka ajakan registrasi fellowship yang dibagikan di WAG.

Kutipan dari Beato Carlo Acutis, All people are born as originals, but many die as photocopies” di e-flyer fellowship menyadarkan pentingnya bagi orang muda untuk menemukan dirinya yang sejati.

Sebanyak lebih dari 50 peserta, dengan rentang usia termuda 14 tahun hingga tertua 63 tahun, dengan sungguh-sungguh mengikuti fellowship berdurasi kurang lebih 1,5 jam.

Membuat bahagia

Romo Petrus Sunu Hardiyanto SJ sebagai narasumber membuka topik dengan bertanya kepada para peserta, “Apa yang membuatmu bahagia?”.

Ada beberapa peserta menjawab bahwa makanan dan pertemuan fellowship virtual adalah hal yang membuat mereka bahagia.

Romo Sunu kemudian membantu menemukan, sebenarnya rasa kenyang dan perjumpaan dengan orang lain adalah hal yang membuat kedua peserta tersebut bahagia.

Menarik

Para peserta kemudian diantar oleh Romo Sunu untuk mengingat-ingat saat kapan dan di mana mereka belajar menjadi diri sendiri.

Materi spiritualitas Ignatian terasa sangat sederhana dan mudah dipahami karena setiap penjelasan disertai dengan contoh konkret. Bahkan cerita hidup Romo Sunu sendiri.

Jatidiri atau dengan kata lain keunikan diri dapat lebih mudah ditemukan, jika seseorang mengenali apa yang senang ia lakukan sejak kecil.

Selain itu, bisa juga dengan mengenali keunikan berbagai orang yang signifikan dalam hidup. Baik itu kakek, nenek, kedua orangtua, paman dan bibi, atau sahabat.

Seseorang membangun diri melalui proses menangkap berbagai hal di sekitarnya. Entah itu melalui pengamatan, pendengaran, dan sebagainya.

Sesi tanya jawab menjadi sesi yang panjang. Namun terasa sangat singkat, karena banyaknya pertanyaan menarik yang diajukan oleh para peserta.

Herlina sebagai moderator dengan sabar membacakan pertanyaan peserta yang sudah diajukan, ketika pendaftaran maupun pertanyaan dari kotak pesan zoom.

Di awal pertanyaan tentang cara mengetahui jika orang sudah menemukan jatidirinya, Romo Sunu menganalogikan orang yang telah menemukan jatidiri akan merasa “at home” dengan dirinya sendiri.

Setiap orang unik

Orang tersebut dapat menceritakan dirinya dengan rasa aman dan nyaman. Keunikan diri yang ia miliki pun sifatnya bermutu tidak merugikan orang lain.

Di pertengahan sesi tanya jawab, pertanyaan peserta terdengar semakin rumit. Ada peserta yang menanyakan cara untuk menghentikan dorongan bunuh diri atas perasaan gagal yang dihadapi.

Romo Sunu dengan inspiratif mengatakan, teman keberhasilan adalah kebermaknaan. Penting bagi orang memiliki kebutuhan untuk berhasil, menemukan makna keberhasilannya.

Dengan terampil menemukan makna, orang akan lebih terbantu di saat krisis. Yaitu, saat memilah, memilih, atau memutuskan.

Romo Sunu yakin dan sangat terbuka mendampingi penyintas bunuh diri, karena percaya bahwa setiap pengalaman masa lalu bisa diolah menjadi rahmat. Para penyintas tersebut adalah penolong bagi orang lain yang mengalami hal serupa.

Sebenarnya masih banyak pertanyaan bermunculan, seiring semakin dalam penjelasan narasumber.

Herlina menutup sesi dengan gagasan untuk menciptakan ruang pertemuan serupa di masa mendatang. Karenamengingat banyaknya pertanyaan mengenai bentuk latihan doa dan intensive journal.

Profisiat tim Evangeli.id karena telah berhasil mengajak dan mempertemukan para orang muda Katolik dari berbagai provinsi untuk menemukan jati diri di tengah masa pandemi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here