Fenomena Burung Plover: Win-win Solution

0
174 views
Burung Plover. (Ist)

DRAMA lalu-lintas di jalanan kota besar semakin horor. Lihat saja Jakarta. Macet di mana-mana. Tak kenal waktu, tak pandang cuaca.

Tadi malam, Arum, perempuan profesional yang karirnya sedang melejit, setengah curhat. Waktu tempuh dari kantornya di Plumpang ke rumahnya di kawasan Bintaro, hampir tiga jam. Sebelum pandemi, paling lama satu setengah jam.

Efek lain dari hiruk-pikuk ini melebar ke mana-mana.

Orang bertambah beringas. Konflik tipis gampang meledak menjadi interaksi kriminal.

Kebiasaan jam karet menjadi-jadi. Ingkar waktu semakin membudaya. Terlambat datang menjadi sah oleh alasan kemacetan, dibumbui rasa tak bersalah.

Enny, perempuan setengah baya, bercerita sambil setengah menangis. Dia menunggu dokter yang terlambat praktik lebih dari tiga jam. Akhirnya memutuskan untuk “pergi dan tak akan kembali”.

Harap maklum, dia mengantar sang suami, pasien pasca stroke dan jantung, untuk mengobati keluhan prostat yang semakin mengganggu.

Singkat kata, kemacetan lalu-lintas semakin kronis. Apalagi ditambah perilaku pengendara yang semakin amburadul. Belum suara bising dari sirine dan lampu strobo yang menyilaukan mata, saat “orang penting” memaksa jalan duluan.

Ada anomali yang mudah diamati. Semakin macet jalanan, mobil berbadan besar semakin banyak bersliweran.

Padahal semakin besar badan mobil semakin sulit pula beringsut di jalanan yang tambah sesak. Apalah arti nyaman bila harus berdesak-desak di jalan sampai berjam-jam?.

Seorang teman yang tertarik dengan problematika jalan raya, sebut saja namanya Iful, menduga faktor lain yang membuat orang lebih suka dengan mobil besar.

Iful menduga, mobil besar menumbuhkan PD bagi si pengendara. Lawan di sebelah sana otomatis “mengalah” ketika sang besar minta jalan untuk memotong atau melintas si kecil.

Saya setengah percaya sinyalemen Iful. Tapi beberapa pendapat dan teori mendukungnya.

Ini salah satunya :

Asu gede menang kerahe.” (Anjing besar menang dalam perkelahian).

Tapi, “Iful theory” banyak kontranya. Ada banyak kisah yang membuktikan sebaliknya.

David (atau Daud), seorang penggembala Israel, yang berbadan kecil dan tak biasa berantem mampu membunuh Goliath, panglima perang Filistin.

Goliath sudah mengenakan pakaian perang dan bersenjata lengkap. David hanya berbekal ketapel dan lima batu bulat yang diambil dari dasar sungai.

Peperangan David melawan Goliath adalah cara Kitab Suci mengajarkan bagaimana si kuat dan besar tak selalu menang melawan sang lemah dan kecil. Satu-nol untuk “si badan kecil”.

“Badan besar” bukan berarti hanya fisik saja. Ia bisa berwujud ketampanan, kecantikan, kepandaian, kekayaan dan bahkan juga “kebaikan”.

Sangat pas saat Malcolm Gladwell, penulis buku David dan Goliath: Ketika si Lemah Menang Melawan Raksasa (2013), mengutip 1 Samuel 16:7, dan dipampang pada bagian depan bukunya :

“Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel: ‘Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”

Saat ini, tak lagi pas untuk mendikotomi “besar” versus “kecil”. Apalagi sambil memegang adegium bahwa yang besar pasti menang dan yang kecil selalu kalah.

Fenomena yang lebih bijak adalah “penyelesaian menang-menang” (win-win solution).

Besar dan kecil bisa hidup bersama dan saling menguntungkan. Mereka bersahabat dan bercengkerama untuk menikmati indahnya dunia ini.

Itu yang ditunjukkan oleh sinergi antara burung plover (cerek kernyut, pluvialis fulva) dengan buaya.

Si plover sering terlihat berada di dalam mulut buaya yang sedang menganga. Tapi, buaya tak mau menutup mulutnya untuk mengunyah makanan lezat yang sudah terhidang gratis.

Buaya paham, plover sedang membersihkan sisa makanan di antara gigi-gigi buaya. Buaya tahu bahwa slilit, berupa daging busuk, bisa merusak giginya. Sementara plover mendapat “keuntungan” makan cuma-cuma dari mulut buaya.

Di lain kesempatan plover melompat ke punggung buaya dan membersihkan serangga nakal yang sering membuat kulit buaya gatal. Sekali lagi, buaya diam saja, seakan menikmati patukan-patukan kecil yang membuatnya nyaman dan tekluk-tekluk.

Sinergi plover – buaya membuktikan bahwa “besar dan kecil” tidak harus saling memusnahkan. Besar tak harus menang dan kecil tak selalu kalah. “Simbiose mutualitis” menjadi jawaban bagaimana “win-win solution” terwujud.

Win-win adalah jalan keluar yang paling oke. Selain kedua pihak sama-sama diuntungkan, ia mempunyai rentang waktu yang panjang. Win-lose atau lose-win tak berusia lama karena akan segera menjadi lose-lose.

Mobil besar di jalan raya, dokter di RS atau buaya di tepi muara sungai tak bisa eksis tanpa bermitra dengan si kecil atau si lemah. Tak hanya itu, mereka bahkan mendapat berkat lantaran sang lemah ada di sekitarnya.

“Tidaklah kalian diberi pertolongan dan rezeki kecuali karena keberadaan orang-orang yang lemah di antara kalian”. (HR Bukhari)

@pmsusbandono
22 Juni 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here