Film “Unknown”, Problem Identitas Diri “Dimakan” Amnesia

0
2,064 views

film Unknown1

BERLIN Tegel “Otto Lilienthal”Airport adalah lokasi awal darimana semua masalah itu bermula.
Gara-gara disentil istrinya Liz (January Jones) agar segera masuk taxi bandara menuju hotel, Dr. Martin Harris (Liam Neeson) tak sadar membiarkan kopor berisi barang-barang berharga ketinggalan di lapangan parkir. Sadar kopor berharganya hilang, ia buru-buru kembali ke aiport naik taksi yang disopiri Gina (Diane Kruger) tanpa sempat memberitahu istrinya yang telah dulu masuk hotel untuk check-in.

Malang tak bisa ditolak. Taksi yang ia tumpangi menabrak pagar jembatan dan terjun bebas ke sungai. Dr. Harris selamat dan masuk rumah sakit, namun memorinya hilang.  Gina –sang sopir—memilih  melarikan diri, karena sadar sebagai imigran gelap urusan dengan polisi adalah perjalanan panjang yang tak mengenakan.

“Face-off”

Perlahan kesadaran dirinya mulai pulih, namun di ujung sana sudah menanti banyak “musuh” yang sejak lama mengincarnya. Dr. Harris kaget, ketika Liz istrinya tiba-tiba sudah tidak (mau) mengenalnya lagi. Belum lagi, ketika mendapati Liz bermesraan dengan pria lain yang juga mengaku bernama Dr. Martin Harris, lengkap dengan semua portofolio pribadi.

Sedikit nyaris sama dengan film Face-off yang dibintangi John Travola dan Nicholas Cage  beberapa tahun silam, Unknown besutan sutradara   Jaume Collet-Serra justru berkutat dengan masalah yang lebih rumit. Unknown bicara tentang problem  memori diri hilang ditelan amnesia dan ketika mulai pulih, justru identitas dirinya sudah “diambil alih” orang lain.

Meski mengusung label film action thriller, namun jangan harap Unknown banyak mengumbar adegan dar-der-dor. Jauh dari kesan garang, Liam Neeson justru dikasting sebagai intelektual yang terpaksa merangkak sana-sini untuk menelisik kembali jejak-jejak langkahnya guna bisa “membangkitkan” memori dan identitasnya.

Pertemuannya dengan Gina –sopir imigran gelap dari Boznia— dan Herr Jürgen (Bruno Ganz) –seorang pensiun polisi rahasia era komunisme di Jerman Timur—membawa Harris pada persoalan penting. Ternyata, dia sudah lama dikasting agen-agen rahasia untuk menjadi “bom waktu” dengan target membunuh Professor Bressler (Sebastian Koch) —spesialis ahli pengembangan budidaya tanaman pangan.

Plot pembunuhan

Kedatangannya ke Berlin bersama istrinya Liz tak lain adalah untuk menemui Prof. Bressler. Bersama ilmuwan Jerman ini, Dr. Martin Harris merencanakan hadir dalam sebuah simposium internasional yang disponsori Pangeran Shada dari Arab Saudi guna merancang bangun projek pengembangan pangan. Alih-alih bisa bertemu dengan Prof. Bressler, Dr. Harris malah mendapati “manusia kembarannya” (Aidan Quinn) telah mencuri seluruh jatidirinya, termasuk memori manisnya beristrikan Liz.

Plot pembunuhan ternyata sudah dirancang jauh-jauh hari.  Ikut dibidik dalam projek pemusnahan ini tak lain Dr. Martin Harris asli, Prof. Bressler. Keduanya dianggap oleh mafia sebagai perintang, karena mereka ingin mempertahankan posisi Afrika senantiasa tergantung kepada negara-negara maju. Mesin-mesin pembunuh sudah disiapkan oleh agen-agen mafia ini. Selain istrinya sendiri Liz, Dr. Martin Harris palsu, juga Prof. Rodney Cole (Frank Langella) yang tak lain sahabat karib Dr. Harris sendiri.

Korban pun mulai berjatuhan. Mulai dari Biko (Clint Dyer) –kawan akrab Gina—hingga Herr Jürgen sampai sang perawat baik hati bernama  Gretchen Erfurt (Eva Löbau). Namun, untuk menegakkan kebenaran, Dr. Harris tak surut semangatnya memburu para pemalsu identitasnya sekaligus “menganulir” rencana penyerangan bom yang awalnya melibatkan dia juga.

Namun, perjalanan waktu telah mengubah Dr. Martin Harris untuk bertobat. Meninggalkan masa lalunya yang kelam –menyaru sebagai ilmuwan namun diam-diam menjadi agen ganda dengan kepentingan berbeda—adalah pilihan terkini yang mesti dia ambil. Pertemuannya dengan Gina yang tanpa pamrih menolong dia membuka hati Dr. Harris bahwa metanoia  (berbalik arah menuju arah yang berlawanan) itu tidak mustahil.

Unknown tidak saja menyuguhkan akting besar dari seorang aktor kawakan Inggris Liam Neeson, melainkan juga skenario yang bagus tanpa harus banyak menyuguhkan rentetan tembakan atau jotosan adu kuat.

Mathias Hariyadi, penulis dan anggota Redaksi Sesawi.Net.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here