Hari Orang Sakit Sedunia: Hidup Baru dengan “Jantung” Baru (3)

0
206 views
Ilustrasi -- Mengalami kesendirian dan kesepian saat sakit tanpa keluarga (ist)

INI ungkapan syukur atas hidup baru. Dengan “jantung” baru juga.

Kata Liem Tjay sambil mengusap keringat di dahinya: ”Aku sungguh bersyukur atas doa doa, dukungan, dan kesetiaan semua yang menungguiku, khususnya Mbak Ida. Menunggu itu waktu kehadiran seseorang yang penuh dengan kesabaran, perjuangan dan pengurbanan.

Sementara aku sendiri tidak tahu apa apa karena tidak sadarkan diri. Ternyata? Aku sadar dan sadar.

Inilah diriku saat kritis pasca operasi antara mati dan tidak, seperti ibarat berdiri di ujung duri.

Luar biasa cara Tuhan lewat tenaga medis, tim dokter mengobok-obok jantungku dan mengembalikan kembali sehingga berdetak lebih baik dan lancar. Inilah kehidupan kembali bagiku karena kemurahan Tuhan yang masih memberikan ku kehidupan baru.”

Paimin serius mendengarkan

“Yaaah begitulah kisahmu Liem Tjay yang panjang penuh dengan pertaruhan kehidupan. Wow, itu pasti tidak main main-main lho dengan masalah jantung,” tanggap Paimin sambil memberikan peneguhan pada Liem Tjay.

Lanjut Liem Tjay: “Dengan menerima dan sadar akan jantungku yang sudah cacat, aku menjadi makin tenang dengan diriku sendiri. Menerima diri adalah obat dan antibodi yang mujarab untuk penyembuhan.”

Paimin meneguhkan Liem Tjay: ”Salut deh, refleksimu sangat dalam. Kau sampai pada kesadaran dan penemuan hidup yang baru dengan jantung baru pemberian Tuhan. Aku ingat dalam Injil Yesus berbicara tentang anggur yang baru.“ (Mrk 2:22)

Kehadiran, sapaan, doa membawa makna bagi yang sakit. (Dok. Liem Tjay)

Seteguk anggur baru

Liem Tjay meneruskan lagi sharingnya :

“Tuhan selalu mencurahkan anggur terbaik bagiku tiap hari yaitu kehidupan baru. Aku sadar Tuhan memberi seteguk anggur yang baru. Menikmati anggur yang baru berarti menikmati rahmat, berkat dan cinta kasih Tuhan sendiri. Anggur baru itu akan memberiku kekuatan dalam menjalani hidup. Aku hanya menerima hari baru sebagai rahmat Tuhan dan kesempatan lagi untuk menikmati hidup.”

Membuang kantong lama (bdk Mrk 2 : 18-22)

Liem Tjay menyadari pentingnya persiapan diri untuk menerima anggur yang dicurahkan Tuhan.

“Paimin, jika aku masih menggunakan kantong yang lama, maka aku akan kehilangan banyak; berkat yang dicurahkan Tuhan tidak bisa tertampung di dalamnya, dan semua menjadi terbuang percuma. Kantong lama memberi gambaran untuk hati yang membatu, hati yang tidak bertobat. Itulah keadaanku sebelum aku terkena serangan jantung,” Liem Tjay berkisah 

Paimin menambahkan: ”Pasti kantong ini memuat berbagai hal negatif yang sudah berkerak oleh egoisme, irihati, dendam, kebencian, dengki, fitnah, kebohongan dan sejenisnya.”

Refleksi atas empat sumbatan jantung

“Benar sekali, aku merefleksikan makna empat sumbatan yang membuat jantungku kurang bekerja dengan normal alias serangan jantung,“ Liem Tjay menambahi hasil refleksi sebagai berikut:

  • Sumbatan 1 – Kesombongan: merasa diri sehat, kuat sebagai imam, pastor sentris.
  • Sumbatan 2 – Sikap tidak mau tahu soal kesehatan diri, tak perlu kontrol kesehatan.
  • Sumbatan 3 – Hati membatu. Sikap tidak mau mendengarkan masukan dari orang lain.
  • Sumbatan 4 – Sikap apatis terhadap hidup sebagai karunia Tuhan, semau gue, tidak teratur.

Liem Tjay melanjutkan lagi: ”Kantong lama, inilah empat jenis sumbatan dalam hidupku, perlu diganti dengan kantong yang baru. Kantong baru ini adalah hidupku yang telah diubah oleh Tuhan  lewat operasi bypass. 

Jadi pasca operasi bypass, saya sungguh mengalami perubahan hidup dan pertobatan. Hidup baru dengan jantung baru adalah hidup yang penuh dengan kesabaran, kemurahan hati, sukacita, dan kejujura.”

Hidup baru, kantong baru

Paimin memuji dengan bangga sahabatnya Liem Tjay: “Dengan kantong yang baru ini, kita siap menerima anggur baru yang selalu Tuhan curahkan. Ia telah mencurahkan anggur baru, yaitu berkat, rahmat, cinta kasih, dan keselamatan secara maksimal kepada kita semua khususnya keberhasilan operasi by pass mu Liem Tjay.”

Paimin dan Liem Tjay saling berjabat tangan sambil berkata: ”Kita pun menyediakan kantong baru yang mempunyai kapasitas maksimal, sehingga seluruh anggur baru itu bisa tertampung di dalamnya dan kemudian dipergunakan secara maksimal dalam hidup dan pelayanan kita.”

Kehadiran, sapaan, simpati, belarasa dan perhatian sebagai saudara adalah obat yang paling ampuh bagi Liem Tjay untuk penyembuhan dan tetap merasakan makna kehidupan.

Relasi seperti itu dengan orang sakit menemukan sumber motivasi dan kekuatannya dalam kasih Kristus.” (Paus Fransiskus)

Tepian Serayu, Banyumas, 09-02-2021

Nico Belawing

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here