Hukuman Suspensi, Pembelaan dan Pembinaan Diri Lanjutan

8
4,803 views
Foto ilustrasi (Ist)

KASUS  pemberian hukuman suspensi kepada seorang imam (pastor) masih ramai diperbincangkan. Kali ini, kami mengangkat fokus pembicaraan dari perspektif komunikasi,

Redaksi Sesawi.Net mengontak AM Putut Prabantoro dalam kapasitasnya sebagai mantan wartawan dan Konsultan Komunikasi Publik. Penulis mengenal yang bersangkutan sejak tahun 1978 hingga kini. Narasumber ini juga bergiat aktif di lingkaran paguyuban wartawan katolik Indonesia.

Baca juga: 

Berikut petikan wawancaranya.

Menjadi milik publik

Tanya (T): Sebagai seorang Konsultan Komunikasi Publik, apa pendapat Anda tentang tersebarnya Surat Keputusan Suspensi itu?

Jawab (J): Sungguh amat disayangkan dan memprihatinkan bahwa surat berkategori rahasia itu telah bocor di ranah publik dan goes viral tanpa bisa dibendung ekses komentar-komentar ‘liar’nya.

T: Kesan Anda ketika pertama kali menerima pesan tersebut di jalur medsos?

J: Tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapa pun, saya rasa bocoran itu sekarang telah menjadi ‘milik’ publik. Pertama kali menerima sebaran itu, saya langsung bertanya-tanya: kenapa bisa bocor?

Kemudian saya bertanya kepada beberapa kenalan pastor dan mendapatkan reaksi atau jawaban yang berbeda. Namun pada intinya, surat itu bukan hoax dan isinya memang benar adanya.

Pastor baik dan belepotan

T: Lalu?

J: Sungguh benarlah kata pepatah lama: Nobody is perfect.  Tidak ada orang yang sempurna. Tetapi dengan tersebarnya itu, kemudian di benak saya lalu muncul semacam kesan bahwa di dunia ini telah dua macam kategori pastor: yang sempurna dan yang tidak sempurna; yang suci dan yang belepotan.

Tapi, benarkah demikian halnya?  Terus terang, pikiran saya kemudian menganalisis terutama terkait dengan pertanyaan mengapa bisa bocor.

T: Menurut Anda, itu artinya apa?

J: Dalam konteks ini, Surat Keputusan Suspensi itu sudah kehilangan keangkerannya atau kesakraklannya karena ‘kalah’ oleh kegaduhan umat karena bocoran surat yang juga mereka terima di jalur medsos. Artinya apa? Artinya dengan tersebarnya “Surat Keputusan Suspensi”, maka si Pastor X telah mendapat ‘hukuman sosial’ oleh publik.

Pada hemat saya, hukuman sosial itu dampaknya psikisnya jauh lebih besar daripada hukuman suspensi itu sendiri. Yang lebih disayangkan adalah ‘hukuman sosial’ itu barangkali pertama kali telah dijatuhkan oleh rekan sepanggilannya yakni (para) pastor si penyebar. Rekan pastor pembocor tulah yang telah melemparkan batu pertama kali kepada Pastor X tersebut.

Jatuh tiga kali

J: Kalau diibaratkan dengan Jalan Salib, maka Pastor X telah jatuh tiga kali. Pertama jatuh karena hukuman suspensi yang dijatuhkan oleh Bapak Uskup. Kedua,  ia jatuh karena dihukum rekan pastornya dalam lingkungan Keuskupan yang mungkin saja secara sengaja dan sadar mau membocorkannya. Ketiga, Pastor X dijatuhi ‘hukuman rajam’ oleh umat.

Dengan bocornya surat suspensi itu, saya melihat blessing in disguise – rahmat terselubung, yang mungkin membukakan mata kita semua. Pada hemat saya, para pastor pembocor itu juga telah memperlihatkan  ketidakpatuhan mereka untuk menjaga rahasia.

T: Menurut Anda, kenapa hal itu bisa bocor?

J:  Bagi saya, ada dua pesan utama Bapak Uskup yang tidak dapat dipenuhi oleh (para) pastor. Pesan pertama adalah isi surat itu merupakan informasi terbatas. Artinya hanya (para) pastor di lingkungan Keuskupan yang boleh mengetahui.

Pesan kedua adalah tulisan “dimohon bantuan kepada para pastor agar secara bijaksana keputusan dekrit dijatuhkannya suspensi ini dipegang teguh sekaligus mengupayakan untuk menjaga dan memelihara ketenangan Umat Allah” telah gagal dipenuhi. Umat menjadi heboh, karena ketidakpatuhan para pastor dalam menjaga rahasia.

Melebar kemana-mana

T: Jadi efeknya sampai telah melebar kemana-mana?

J: Persis, kurang-lebih begitu. Umat katolik dan lainnya yang membaca informasi itu menjadi sangat gaduh. Kegaduhan terjadi karena secara langsung atau tidak langsung, umat lalu menduga-duga tentang alasan dijatuhkannya  hukuman suspensi itu. Dalam kondisi ini, siapa pun –termasuk para pastor– sudah tidak dapat menghentikan beredarnya surat tersebut.

Yang lebih parah adalah (para) pastor tidak dapat mencegah munculnya analisis ‘liar seenaknya’ di kalangan pembaca. Termasuk misalnya kemungkinan hukuman itu telah dijatuhkan karena terkait adanya ‘hubungan terlarang’ antara pastor dan perempuan. Buktinya adalah beberapa nama paroki kemudian terdengar sebagai tempat asal darimana hubungan tidak sehat itu muncul.

T: Mengapa bisa demikian?

J: Pada hemat saya, bisa jadi pihak yang telah menyebarkan Surat Keputusan Suspensi berasal dari korps para pastor itu sendiri. Tanpa mengurangi rasa hormat dan mohon maaf, saya melihat pembocoran surat itu bisa jadi dimotivasi oleh intensi unsur kesengajaan.

T: Mengapa pikiran Anda jadi sangat spesifik begitu?

J: Argumennya begini. Pertama adalah karena surat keputusan yang beredar bentuknya sama. Tidak ada bentuk lain dan juga tidak menyertakan tanda tangan. Kita juga tidak menjadi tahu lanjutan isi dari surat itu apa yang seharusnya memang belum selesai.

Kedua adalah karena surat itu sudah beredar sungguh tidak terlalu lama, ketika Surat Keputusan itu baru saha diberikan kepada Sang Pastor. Dan bahkan ada yang telah menerima sebarannya hanya satu jam setelah diputuskan.

T: Jadi masih meratapi diri, lalu digempur oleh sebaran medsos begitukah?

J: Persis. Saya membayangkan begini. Ketika surat itu sampai pada umat penerima gelombang pertama, maka pada saat yang sama Pastor X itu mungkin tengah meratapi diri. Bahkan, ketika air matanya pun belum kering, sudah ada gempuran dari pihak medsos. Ini hanya bayangan saya untuk mengibaratkan betapa cepatnya ‘aib’  itu beredar melalui WA atau media sosial.

T: Anda punya kesan apa terhadap isi pembelaan sang pastor di jalur FB?

J: Saya bisa merasakan sakitnya Pastor X yang berteriak dalam satu pernyataannya di media sosial terkait soal kecemburan, iri hati; bukan perkara hubungan tidak sehat dan juga soal pohon yang tinggi dll. Dalam konteks itu,  Pastor X memang terkesan sangat arogan, sombong dan tidak tahu diri. Ia tidak tahu diri karena sudah dihukum tetapi masih mencoba untuk membela diri.

Namun sebagai manusia biasa, saya bisa merasakan dunianya hancur  menimpa dirinya dan ia jatuh ke dalam sumur tak berdasar. Tidak ada satu orang pun yang menolongnya. Saya berpikir, jangan-jangan teriakan Romo X itu memang demikian adanya.

Dosa massal: empat kesalahan

T: Lalu mesti bagaimana?

J:  Akibat lainnya, penyebaran Surat Keputusan Suspens” itu juga secara tidak langsung dan tanpa disadari merupakan “ajakan” kepada umat untuk melakukan ‘dosa massal’. Alasannya adalah dengan menerima surat itu, umat kemudian dibiarkan menduga-duga kesalahan Pastor X, tanpa diketahui alasan-alasan utama mengapa hukuman suspense itu mesti diberikan. Tidak ada keterangan yang jelas soal alasannya dikenai sanksi dan rasanya memang tidak mungkin ada.

Oleh karena itu, saya ingin menyebutnya sebagai ajakan melakukan  ‘dosa massal’. Bukankah setiap kali mengikuti misa, kita diajak untuk bertobat bersama-sama karena empat jenis dosa yang kita lakukan yakni perkataan, perbuatan, pikiran, dan kelalaian.  Menduga-duga dan diskusi di WA soal terkait alasan hukuman dijatuhkan bukankah termasuk dalam ‘dosa pikiran’ dan bahkan mungkin termasuk ‘dosa perkataan’?

movie-angels-and-demons_00212319
Wajah setan dan malaikat dalam satu figur seperti tergambar dalam film lawas Angels & Demons dengan bintang Tom Hanks. (Ist)

Angels & Demons

T: Jika rahasia Gereja bocor,  lalu apa yang harus dilakukan?

J:  Kasus ini mengingatkan saya pada  film berjudul Angels & Demons (2009) dengan bintang Tom Hanks. Dalam film itu, ada ungkapan yang bagus dari seorang Kardinal sepuh untuk menyelesaikan aib yang terjadi di Vatikan.

Di penghujung film, Sang Kardinal sepuh itu lalu mengatakan, “Finish it softly and ensure it inside our wall properly”  – Selesaikan dengan lembut dan pastikan masih berada dalam tembok kita”.

T: Jadi, Anda bicara tentang ‘tradisi’ lama dalam Gereja?

J: Ya.  Gereja Katolik Semesta punya tradisi lama yang amat dibanggakan yakni tradisi menyimpan kerahasiaan dan itu dilakukan atas rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam Sakramen Pertobatan. Namun dalam kasus ini, sekalipun tidak sangat persis tepat, kerahasiaan itu sedikit leleh. Kategori rahasia itu mungkin saja sengaja dibuka oleh (para) pastor yang merasa diri sempurna.  Padahal, kalau mereka ini berani jujur pada diri sendiri dan Tuhan, pastilah mereka ini juga tidak sempurna.

T: L ’esprit de corps (semangat korsa) itu semestinya bagaimana?

J: Seharusnya, sebagai satu korps panggilan menuju kekudusan sebagai kumpulan orang-orang yang tertahbis –anggaplah demikian—maka para pastor itu harus menjaga aib rekannya yang tidak lain adalah “teman sepanggilan”.

Namun ini terkesan bahwa si penyebar merasa menang (yang seharusnya malah prihatin) atas nasib Romo X.  Pertanyaannya adalah, loh ada apa? Ko bisa gitu? Kepada siapa pastor yang merasa diri sempurna itu telah menyebarkannya untuk yang pertama kali?

T: Menurut Anda, mengapa hukuman suspensi itu dikenakan pada Sang Pastor X?

J: Saya tidak dalam kapasitas mampu menjawab pertanyaan itu. Saya bukan siapa-siapa dan saya hanya menyoroti soal efek komunikasi yang terjadi dengan kasus ini.

Kata orang Jawa  ini wis  kadung atau terlanjur diketahui publik.  Sudah kepalang basah karena tidak akan mengubah “malunya” Sang Pastor dan juga otoritas Keuskupan karena bocornya surat itu. Menurut saya pribadi, kedua pihak ini sama-sama menanggung rasa canggung.

Selain itu, di zaman teknologi informasi dan komunikasi yang canggih ini, aneka pelanggaran pastor itu pada waktunya juga akan kelihatan, sekalipun orang berusaha menyimpannya.

T: Hikmah apa yang menurut Anda harus kita jadikan pelajaran berharga?

J: Kita semua membutuhkan pastor. Semoga ini yang pertama dan terakhir kejadian bocornya rahasia Gereja. Selain itu, umat, para pastor dan Gereja Katolik bersama-sama mau bareng menjaga kehidupan para pastornya.

Adalah penting umat menjadi “teman seperjalanan” para pastor dengan tulus dan jujur. Perlu juga ada bina pendidikan lanjut untuk para pastor, sekalipun mereka sudah ditahbiskan imam. Justru karena sudah lama ditahbiskan, maka program bina pendidikan lanjut itu menjadi penting dan perlu.

Saya kira, kejadian ini tidak terlepas dari rahmat Kerahiman Illahi yang bekerja berdasarkan kehendakNya semata.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

 

8 COMMENTS

  1. Jujur saya miris mengikuti berita suspensi ini.
    Pemikiran saya sebagai awam mungkin terlalu sederhana tapi ektrim.

    Sederhananya, Yang Mulia Bapak Uskup pasti sudah mempertimbangkan segala aspek yg akan timbul scr matang. Saya berpendapat mungkin ini juga awal dr Bapak uskup untuk mengambil langkah seperti Bapa Suci Paus, dimana keterbukaan informasi dijadikan sbg bagian dr pengawasan proses perkembangan iman umat. Baik ditunjukkan untuk romo yg berkarya atau untuk umat, sayangnya alasan suspensi tidak diinfokan kembali ke umat. Tidak harus detail, tp paling tidak suatu pernyataan yg bisa meredakan kegaduhan, syukur2 ada unsur pembelajaran juga baik untuk para romo lain maupun ke umat.

    Mirisnya lagi, romo yg terkena suspensi-pun seakan menambah kegaduhan umat makin menjadi. Saya mendapat screenshot pernyataan romo yg terkena suspen tersebut dengan menyatakan bahwa kejadian yg terjadi hanya krn kecemburuan.
    Kecemburuan siapa terhadap apa tidak dijelaskan, tp yg menggelitik saya sebagai awam yg menyikapi kalimat tersebut jd berasumsi apa iya bapak uskup memutuskan memberikan suspensi krn cemburu, rasanya tidak mungkin. Atau apakah ada pembisik yg cemburu lantas melapor ke bapak uskup hingga akhirnya suspensi dikeluarkam…ini rasanya juga sangat tidak mungkin.

    Hidup makin hari makin sulit untuk dilalui, pikiranpun makin mudah kalut sehingga dibutuhkan iman yg kuat untuk menyikapi & menghadapinya.
    Semoga inilah awal revolusi mental untuk gereja & semoga Roh Kebijaksanaan berkarya didalamnya.
    Semoga

  2. Menurut hemat kami Bapa Uskup menjatuhkan suspensi pasti dengan beberapa pertimbangan yang matang dan sulit untuk diterima namun dengan semakin majunya teknologi kebocoran rahasia hingga ke publik bisa jadi bukan unsur kesengajaan,kami percaya para Pastor adalah orang saleh dan tidak pantaslah mempunyai sikap iri hati dan lain sebagainya terhadap Pastor X, apalagi teman seangkatan ataupun sekeuskupan.Sesuatu yang terbuka dan sudah terjadi ini adalah jalan dari Kristus untuk mengingatkan kita sebagai awam dan Pastor bagaimana menempatkan diri pada posisi masing-masing.Ada Pastor yang memang hidup benar-benar selibat dan murni melayani,namun ada juga Pastor yang sudah menduniawi dengan nafsu dan materi.Semoga dengan bocornya suspensi yang jatuh pada Pastor X bisa memberikan makna bagaimana sikap awam dan para Pastor untuk melangkah lebih baik dalam melayani dengan tulus,ikhlas tanpa ada tujuan negatif,ingatlah betapa Tuhan maha Rahim yang selalu mengasihi kita semua.Salam Damai Kristus

  3. Uraian wawancara yang sangat menarik dan mencerahkan. Bagi saya pribadi yang harus dilakukan adalah, “menjaga dan merawat” para Imam Rohaniwan rohani wati dengan dukungan, doa, teguran jika melihat mereka berlebihna, saya biasa lakukan itu utk saudara dan anggota keluarga saya yang Imam, Suster, bruder bahkan yang masih calon Imam. Siapapun boleh berkomentar, tetapi yang pasti, Si PAstor X harus tahu apa yang menyebabkan hukuman itu. Semua kita belajar, ya Imam, Umat, awam dan rohaniwan/wati…kalau kita dipuji karena satu kehebatan kita dan keluarga akan sangat bangga dan bisa jadi sombong, mari kita juga SIAP jika ada sesuatu yang harus kita tanggung karena hal yang buruk menimpah kita. MAri berusaha jadi Umat yang saling menjaga seperti Yesus menjaga kita. Amin

  4. Sesawi.Net ytk. Ini bukan kejadian pertama kali. Tetapi kejadian yg selalu berulang. Mungkin benar yg menjadi harapan nara sumber “moga ini kejadian yg pertama dan terakhir”. Benar tp dengan batasan hanya tahun ini saja. Krn hal yg sama pasti akan terjadi hal yg sama.Yg bocorin sesama imam, mungkin ada relasi personal yg kurang ok. Susahnya and sedihnya hal semacam justru yg membuka aib adalah seorang bapak yg memiliki para imam yaitu uskup. Yg berefek sosial hingga saat
    ini bagi ybs sebagai korban kriminalisasi seorang uskup. Lalu bgm……?

  5. Keputusan pemberian suspensi menurut saya merupakan hal biasa dan lumrah. Justru ini bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua, terutama para imam. Kita sebagai gereja ditantang untuk saling menjaga “rumah” Allah yang bernama Gereja ini. Umat awam diharapkan mau menjaga dan mendoakan agar para imam semakin murni dan kuat panggilannya. Serta para imam sebagai gembala diharapkan bisa berintrospeksi diri dalam tugas penggembalaan dan pelayanannya. Mari kita saling merawat dan menjaga Gereja kita agar semakin maju dan berkembang.

  6. Biarlah roh kudus yang memperbarui Gerejanya. Manusia boleh ikut menyelesaikannya, tetapi harus dengan hati dan niat tulus dan bebas dari kepentingan pribadi. Bapak Uskup pasti sangat sulit dalam mengambil keputusan itu, apalagi keputusan untuk “anak” nya sendiri, seorang imam dalam Gereja. Kita yakin keputusan itu diambil dalam doa dan terang roh Kudus.

  7. Terkait dengan suspensi imam ini, saya paling suka mengaitkannya dan merenungkan dalam terang Lukas 13: 1 – 5.

Leave a Reply to Beatrix T Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here