Iman dan Perbuatan

0
1,028 views
Ilustrasi: Para suster biarawati bekerjasama dengan sejumlah relawan bekerja keras membantu penyaluran bantuan alam kasih kepada para korban banjir di wilayah pastoral Keuskupan Sintang, Kalbar. (Caritas Indonesia KWI)

“IMAN tanpa perbuatan pada hakikatnya mati,” kata Rasul Yakobus (Yak 2: 17).

Apa maksudnya? Perbuatan macam apa yang dituntut?

Bukankah rasul Paulus menegaskan bahwa hanya berkat iman semata orang diselamatkan (Rm 3: 21-28)? Apakah ajaran Yakobus tentang iman bertentangan dengan yang diajarkan Paulus

Jika benar demikian, kitab suci itu kebenarannya kontradiktif dan karenanya tidak dapat dijadikan pegangan.

Tentu tidak demikian.

  • Bukankah Yakobus menunjukkan bahwa Abraham, Bapa Kaum Beriman dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya? (Yak 2: 24)?
  • Bukankah Paulus juga bekerja keras mewujudkan imannya dengan menjadi rasul atas bangsa-bangsa? Bukankah Paulus bersyukur atas apa yang dilakukannya atas amanat dari Tuhan?

Baik Yakobus maupun Paulus tidak mempertentangkan iman dan perbuatan. Mereka menegaskan bahwa keduanya amat penting; saling melengkapi.

Perbuatan itu tidak menggantikan iman, melainkan menjadi bukti bahwa orang itu beriman. Yakobus memberikan contoh konkret.

Tidak cukup berkata kepada orang yang lapar dan tanpa pakaian,”Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang.” (Yak 2: 15-16) tanpa menolongnya.

Itu omong doang. Tidak berfaedah.

Orang yang mengetahui saudaranya berkekurangan dan dia mampu membantu hendaklah mengulurkan tangannya. Saat alam ciptaan dihancurkan mereka mesti ikut mencegahnya.

Apakah semangat yang mendorongnya?

Hukum utama: kasihilah Tuhan Allahmu dan sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Konkretnya, menolong sesama dan menjaga alam ciptaan.

Itulah jembatan antara iman dan perbuatan.

Jumat, 18 Februari 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here