In Memoriam Jakob Oetama: Bak Prabu Harjuna Sasrabahu, Kesan Office Boy Ruang Kerjanya

0
280 views
Pak Jakob Oetama (Dok Kompas)

DALAM tulisan saya berjudul In Memoriam Jakob Oetama: Fenomena Guru Berbudi Bahasa, poin pentingnya adalah latar belakang pendidikan Pak Jakob Oetama. Saat beliau masih remaja dan bersekolah di Seminari St. Petrus Canisius, Mertoyudan, Magelang, tahun 1950-an.

Model pendidikan gymnasium Graeco-Roman di sana bertujuan mengembangkan jiwa setia spartan pada pemimpin. Serta pendidikan moral publik untuk jadi pemimpin. Plus retorika.

Khususnya, mengutamakan kemampuan seni bahasa: sarana literatur klasik, dan membaca literatur bagus untuk mengasah imaginasi, dan interpretasi, menulis untuk mengekspresikan tentang bagaimana kehidupan rakyat dan bagaimana rakyat sendiri menghidupi kehidupan.

Kualitas tinggi literasi bahasa menjadi modalitas Pak Jakob Oetama untuk mengembangkan Kompas-Gramedia bersama sahabat-sahabatnya.

Kini, tulisan kedua ini juga masih ingin mengenang sosok Pak Jakob. Menggambarkan peristiwa jerih payah sehari-hari Pak Jakob bersama teman-teman wartawan Kompas.

Diontowacana oleh seorang bekas office boy. Orang ini selalu gandrung dengan wayang kulit. Plus kekagumannya Mas Sumaryo SH, seorang dalang, pada sosok Pak Jakob.

Mas Sumaryo dengan penulis bersahabat baik. Kami telah dipertemukan sejak sama-sama menjadi editor buku perguruan tinggi di Penerbit PT Gramedia Widyasarana Indonesia (Grasindo) di Palmerah Selatan, Jakarta Pusat.

Office boy di ruang kerja Pak Jakob

Yang menarik, ada kenangan akan fenomena figur Pak Jakob Oetomo. Dari dulu sampai sekarang dengan sangat semangat selalu dikisahkannya.

Pada tahun 1975, Mas Sumaryo mulai berkisah, dia masih menyandang diri seorang pelajar SMA di Sentolo, Wates, DIY. Pada usia 18 tahun, ia pergi mencari dan melamar kerja.

Dia diterima Bapak Jakob Oetama menjadi office boy. Melayani para wartawan Kompas. Dan tentu saja selalu menyiapkan minuman teh manis bagi Pak Jakob Oetama. Lalu, setiap hari juga membersihkan ruangannya sampai tahun 1980. Selama 5 tahun.

Darinya, senantiasa terkenang fenomena. Terutama saat bekerja dekat melekat dengan Pak Jakob Oetama dan para wartawan senior. Seperti Pak Swantara (alm.) sampai Pak Ninok Leksono, kini Rektor Universitas Multimedia Nusantara. Dan tentu cukup mengenal Pak Oyong (alm.), Pemimpin Umum saat itu.

Mas Sumaryo mengatakan: “Saya masih remaja saat itu, badan kecil, hitam, kurus, tetapi cepat sekali jadi lebih berani mempertahankan pendapat. Saya belajar berpikir kritis dari para wartawan. Khususnya, saya belajar banyak dari Pak Jakob.”

Tahun-tahun selanjutnya, Mas Sumaryo berhasil alih profesi. Ia lalu menjadi editor buku di Penerbit PT Gramedia. Setelah dia menyelesaikan program studi sarjana hukum di Universitas Taruma Negara, Jakarta.

Gaya Pak Jakob Oetama saat memimpin rapat. (Dok. Kompas)

Tanya-jawab sama Ki Dalang

Kini, saya mulai tanya-jawab dengan Ki Dalang: Sumaryo SH.

“Yang paling penting dari kenangan pada Pak Jakob Oetama itu apa dan bagaimana?”

“Pak Jakob Oetama itu ibaratnya Prabu Harjuna Sasrabahu. Karena cita-citanya mau memindahkan Taman Sri Wedari di Surga Loka ke bumi di wilayah kerajaannya. Cita-cita itu jadi janji hidupnya.”

“Cita-cita Pak Jakob Oetama adalah menghibur yang miskin. Mewujudkan amanat hati nurani rakyat, menjadikan Kelompok Kompas-Gramedia jadi Indonesia Mini. Bukan hanya Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan para karyawannya. Lebih dari itu membuat Kompas-Gramedia dapat menjadi lebih luas merangkul dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang.”

“Janji kesepakatan hidup itu tidak mudah untuk diwujudkan. Seperti Bung Karno, tidak mudah untuk merealisasi Pancasila sebagai dasar hidup bersama, penuh perjuangan. Sebuah revolusi budaya, ekonomi, dan politik. Ibarat sebuah percaturan sengit.”

Memahami makna Pancasila

Pergulatan memahami makna di balik Pancasila. Pergulatan maknanya. Bukan kapitalisme, bukan sosialisme. Tetapi kapitalisme dan sekaligus sosialisme demi amanat hati nurani rakyat.

Adakah konsep sila kedua dan sila ketiga itu telah menjadi pergulatan Kelompok Kompas-Gramedia sejak berdirinya?

Jawabnya demikian.

Jadi, Indonesia Mini kelompok Kompas Gramedia bukanlah Taman Mini Indonesia Indah. Bukan sekadar diskusi. Tapi komunikasi diskursus, dan pergulatan sengit.  

Sekiranya,ibarat Prabu Harjuna Sastrabahu mendatangkan taman di surga turun ke dunia. Dengan dukungan kerja dari tokoh Sukrasana yang melambangkan sosok rakyat yang punya tenaga raksasa. Juga Patih Suwanda atau Sumantri, kakak Sukrasana.

Lalu, siapa yang mendukung Pak Jakob mewujudkan Das Sollen Indonesia menjadi Das Sein Indonesia Mini di Kelompok Kompas Gramedia. Siapakah tokoh Sukrasananya?

Mas Sumaryo kembali berkisah berikut ini.

Harjuna Sasrabahu itu Dewa Wisnu. Kisahnya begitu, Mas Sugeng. Pak Jakob Oetama itu bisa melakukan sendiri. Karena punya ilmu jurnalistik, ilmu ekonomi, dan spiritualitas.  Hasil dari didikan mau menjadi romo-pastor, ketika remaja.

Pak Jakob meyakini bahwa kita ini harus menghidupi orang banyak. Pak Jakob itu menjadi bahagia, karena dapat bekerjasama dengan para wartawan. Pak Jakob itu sangat sadar seperti seorang  pastor atau resi.

Pak Jakob Oetama selalu tampil sederhana. (Dok Kompas)

Dalam menghidupi hidup, level tinggi itu baik. Lawannya, level rendah itu buruk. Jujur luhur. Lawannya itu maling, bajingan itu rendah.

Manusia memang itu nyata-nyata manusia. Sekaligus, realitas manusia juga bersifat luhur, ditinggikan, di tempat tinggi, ilahi.

Maka, tujuan memanusiakan manusia itu selalu butuh strategi. Perlu jalan terbang zig zak, tidak waton nabrak. Karena, kalau mau-mau kita sendiri, kita bisa hancur. Makanya, kita bersikap lentur pada prasarana dan sarana.

Customer delight

Pada orang yang paham ilmu ekonomi, demikian kenang Ki Dalang, maka Pak Jakob suka menyangkal: “You tahu apa tentang ekonomi?”

Pak Jakob Oetomo terus menerus belajar ilmu ekonomi dari dosen senior Universitas Indonesia, Prof. Dr. Widjojo Nitisastro —–Menko Ekuin dan Ketua Bappenas—saat itu. Belajar di rumahnya.

Pada awalnya, Pak Jakob sering sambat. Pusing jadi Pemimpin Umum sepeninggal Pak Oyong. Maka, Pak Jakob ingin belajar dari ilmuwan ekonomi guna mampu mengembangkan perusahaan. Untuk kesejahteraan sebanyak mungkin orang.

Dari awal, sejak Pak Oyong dan Pak Jakob sudah ada strategi pengembangan Kompas-Gramedia. Sudah ada visi dan misi untuk Indonesia. Sosial dan ekonomi jadi suatu kesatuan bagi Indonesia mini.  

Setelah usaha di bidang surat kabar, koran, buletin, percetakan berjalan baik.Maka maunya dikembangkan lagi. Ada bidang pertanian, perikanan, rumah sakit, dan pendidikan. Belum semua terwujud.

Di bidang-bidang lain tampaknya dilakukan oleh perusahaan lain di luar Kompas-Gramedia seperti perkebunan sawit dan pengelolaan jutaan hektar sawah di luar pulau Jawa. Atau sedang dan sudah dikerjakan oleh negara pada pemerintahan masa dekat ini. Semoga.

Sukrosono: daya competent, competitive

Mas Sumaryo menggambarkan peran tokoh-tokoh yang mendukung menghadirkan Indonesia mini di KKG (Kelompok Kompas-Gramedia).

Nah, siapa saja mereka?

Ada Pak Swantara yang membantu Pak Jakob mendidik dengan mengoreksi berita atau tulisan para wartawan. Wartawan datang menyerahkan tulisan ke Pak Swantara.

Dengan cepat Pak Swantara membaca, jika tidak berkenan. Kertas tulisan itu dikruwes kruwes langsung dilempar ke keranjang sampah.

“Buat lagi,” seru Pak Swan.

Sampai berkali-kali tulisan wartawan itu ditolak, lalu akhirnya wartawan itu bertanya: ’Bagaimana caranya?” 

Barulah Pak Swantara memberikan contoh dan penjelasan. Mengedit tulisan wartawan.

Pak Jakob akan memanggil satu persatu wartawan, ketika koran sudah terbit. Memberi komentar. Cukup sering marah-marah. Juga kepada wartawan atas tulisan yang sudah dimuat.

Seru Pak Jakob: “You masih mau kerja sama dengan saya tidak?”

Namun kemudian cepat, nada tenor berubah jadi bass yang lembut menyampaikan nasehat. Bagaimana menulis, mengoreksi langsung. Struktur 5W1H and so what?

Jadi, banyak wartawan sering berkata pada Pak Swantara. “Pak Swan, tulisan saya sering disalahkan oleh Pak Jakob.”

Jawab Pak Swantara: “Saya sendiri juga sudah mati matian kerja, tetap juga masih belum dipercaya.”

Pak Jakob kadang menegur Pak Swantara: “Swan, kamu datang ke kantor jam berapa? Itu mbok diurusin teman-teman wartawan.”  

Lalu Pak Jakob pergi keliling ke unit lainnya. Dari petang sampai pagi buta, Pak Jakob mengontrol dari proses awal penerbitan koran. Sampai koran Kompas dikirim keluar dengan truk-truk ke seluruh penjuru.

Waktu subuh, Pak Jakob berdiri menghadap dari ujung pintu keluar truk Kompas.

Kompas pun lalu menabur warta.

Wartawan mintah mobil

Oleh teman-teman wartawan, dalam rapat sekali waktu, Pak Jakob mendapat kritik keras dan tajam para wartawan. Misalnya, tentang kesejahteraan wartawan dibandingkan dengan wartawan koran pemerintah dan swasta lainnya.

Banyak wartawan di media massa negeri dan swasta lain sudah bermobil. Tapi, kita masih pakai motor. Suasana rapat makin memanas, Pak Jakob menangis, menghapus air mata mengalir deras.

Pak Swantara dengan tegas berkata: “Rapat bubar.”

Menegur Pak Oyong

Sekali waktu, Pak Jakob pernah menegur Pak Oyong dengan keras.

Saat itu, kata Ki Dalang, dirinya Pak Oyong menyiapkan ruang untuk rapat, memesan 10 gelas susu, 10 gelas teh, 10 gelas kopi, dan kue-kue.

Pak Jakob mendengar perintah Pak Oyong ke pak dalang.

Pak Jakob berteriak, “Oyong…. Oyong… Beli saja singkong goreng, cukup. Belum apa-apa, sudah beli ini itu. Mas Maryo, sana beli singkong goreng saja.”

Saat itu, pak dalang menjadi sangat terkejut dan termenung. Pak Jakob lebih muda 10 tahun dari Pak Oyong. Bisa begitu marah pada yang lebih tua.

Jawab Pak Oyong: ‘Iya… ya… ya… Mas Jakob, Mas.. Pak Jakob.”

Caring dan credible

Peraturan perusahaan itu sudah ada sejak dulu, sudah digagas oleh Pak Oyong dan Pak Jakob. Maka, pak dalang lalu bisa mendapat rumah di Kompleks Kompas 3, Ciputat, Jakarta Selatan ini. Maunya semua karyawan mendapatkan tanah dan rumah.

Tetapi harga tanah makin naik sampai di atas kuota penjaminan KKG. Akhirnya, program pinjaman beli tanah atau rumah diserahkan berdasarkan pilihan setiap karyawan sendiri untuk memanfaatkan kuota tersebut.

Kesan umum teman-teman sesama karyawan kan gaji cukup lah, tidak lebih tidak kurang, ada THR  setiap Idul Fitri dan Natal untuk semua tanpa kecuali. Ada insentif, ada bonus gaji ke-13, ada bonus ulang tahun Pak Jakob, kue ulang tahun untuk semua karyawan.

Banyak karyawan yang minta bantuan langsung ke Pak Jakob, lho. Itu yang membuat Pak Jakob itu ibarat Bapak yang baik.

Tapi nanti dulu, Pak Jakob cerdik bisa ngeles balik, jika peruntukan bantuannya tidak produktif.

Lokasi Kompleks Kompas 3 sangat strategis, persis di belakang Pasar Ciputat. Mas Sumaryo mengajak saya untuk keliling kompleks Kompas 3.

Bersih, rapi, hijau, tenang, lega. Suara burung berkicau indah.

Saya melihat  warga  seberang rumah Mas Maryo ada yang sedang menyiapkan aneka ragam sayuran untuk dijual di Pasar Ciputat.  

Selanjutnya, saya meminta pamit pulang ke rumah. Saya yang juga berkat mendapat pinjaman KKG, yang 80% warga RT dan Ketua RT dari  karyawan KKG juga.

“Terima kasih Mas Maryo, Jumpa lagi nanti”.

“Iya, Mas Sugeng. Kita masih butuh Sukrosana. Tenaga raksasa agar taman surga datang di bumi. Ha… ha… ha… pada giris jirih …ketakutan jadi Senopati Indonesia. Sudah keenakan atau tidak mudah dinalar ya. Butuh merenung seperti terbang zig zag jadi kupu-kupu emas untuk mencecap madu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here