In Memoriam Mgr. Johannes Pujasumarta: Salam Ehem (9)

0
1,555 views

KETIKA berita lelayu saya dengar Rabu (11/11) pagi ini sekitar pukul 04.30, saya pun dibuat sangat kaget dan perasaan tak percaya langsung mewarnai hati, disertai kesedihan  melanda sanubari. Airmata saya menjadi tak tertahankan. (Baca: In Memoriam Mgr. Johannes Pujasumarta: Mewarisi Tradisi Adorasi Ekaristi (8)

Saya sangat terkejut, karena tidak menduga secepat itu beliau akan pergi. Ketika berita-berita tentang kondisi parah beliau berseliweran di media sosial, saya selalu merespon bahwa beliau kondisinya tidak separah yang diberitakan. Beliau akan sembuh, beliau tetap aktif melakukan penggembalaan umat KAS.

Perjumpaan dengan Mgr. Pujasumarta

Ingatan saya langsung melayang ke kenangan perjumpaan-perjumpaan dengan Mgr. Puja.

Pertama kali saya bertemu beliau sekitar lima tahun lampau dalam satu acara salah satu lembaga katolik yang saya lupa apa topiknya. Saya terkesan sekali dengan kesederhanaan dan keramahan beliau.

Ketika saya menyalami dan mengenalkan diri, sontak beliau minta kontak saya dan Mas Hariyadi yang rupanya masih beliau sangat kenal sebagai mantan bimbingannya di Seminari Mertoyudan.

Saya terkesan, karena sebagai orang biasa yang tak memiliki hal istimewa, tapi dimintai kontak oleh seorang uskup agung dari wilayah yang begitu strategis di sejarah Gereja Katolik Indonesia. Terlebih ketika beliau secara tepat menyebutkan nama lengkap Mas Hariyadi setelah lewat puluhan tahun perjumpaan mereka sebagai murid dan pamongnya di Seminari Mertoyudan.

Ketika saya sampaikan kepada Mas Hariyadi, dia spontan menyahut, “Mgr. Puja itu memang orang yang sangat ramah dan baik sejak dulu.”

Kemudian saya dijelaskan sejarah ‘karier’ Mgr. Puja; awalnya dari hanya imam biasa  sampai akhirnya menjadi Uskup Agung KAS. Serta juga info yang menurut saya menarik, bahwa Mgr. Pujasumarta punya saudara yang juga menjadi romo.

“Wah, keluarga suci,” celetuk saya waktu itu.

Tidak salah saya rasa, karena abangnya Mgr. Puja adalah Romo Ismartono SJ yang juga pernah beberapa kali saya temui pada kesempatan berbeda. Romo Is –begitu Jesuit mantan Pastor Mahasiswa UI– ini memang sangat ramah dan baik.

Cirikhas gembala rohani

Kriteria ramah dan baik buat saya pribadi adalah cirikhas dari seorang gembala yang tulen. Sebagai orang yang bukan lahir dari keluarga katolik, kedekatan seorang imam terhadap umat merupakan salah satu daya tarik mengapa saya lalu menjadi katolik.

Ketika bersekolah di sekolah katolik di Pontianak, saya terpesona dengan Pastor Jakobus Waterreus OFMCap, seorang pastor Belanda yang dekat dengan anak-anak. Beliau selalu menyapa dengan hangat dan kadang memberi perangko atau kartu pos bergambar kincir angin kepada anak-anak yang mengerumuninya.

 Beberapa perjumpaan singkat dengan alm. Bapak Uskup Mgr. Johannes Pujasumarta terjadi di acara-acara yang diselenggarakan KWI atau lembaga katolik. Selalu beliau dengan ramah menyapa dan membalas salam setiap orang yang menyapanya. Senyum tulus seakan tak lepas dari wajahnya ketika berhadapan dengan umat.

Lokakarya antikorupsi di KAS

Perjumpaan terakhir terjadi pada awal Agustus tahun 2015 ini. Kali ini, saya hadir sebagai bagian dari tim yang diundang oleh KAS untuk memberikan lokakarya antikorupsi, kerjasama Yayasan Bhumiksara dengan KWI dan KAS.

Tentu saja, saya juga sudah mendengar tentang sakitnya beliau dari berbagai sumber yang beredar di media sosial. Saya juga mendengar bahwa beliau mencoba pengobatan dengan daun kelor dan saya turut bersyukur bahwa beliau mampu melawan penyakitnya.

Acara kami tersebut diselenggarakan bagi Dewan Konsultores KAS ditambah beberapa peserta tambahan dari yayasan pendidikan katolik.

Saya sudah mendapat info bahwa Bapak Uskup Mgr. Johannes Pujasumarta akan hadir karena Dewan Konsultores KAS itu bertugas antara lain memberi masukan kepada beliau. Begitu bocoran yang saya dapat. Tim kami berangkat dengan aneka kecamuk perasaan: bangga tapi terselip kekhawatiran, apa layak kami bicara di depan dewan yang mulia tersebut.

Tim yang terdiri dari para fasilisator ini adalah para sukarelawan yang hanya bermodal semangat menularkan virus antikorupsi.

foto Ehem KAS
Alm. Mgr. Johannes Pujasumarta duduk depan kanan berjaket, saat berlangsung paparan dari Romo FX Adisusanto SJ, anggota tim Ehem! gabungan KWI-Yayasan Bhumiksara (Royani Lim/Sesawi.Net)

Rupanya dugaan kami salah, bukan Bapak Uskup yang membuka acara, tetapi Romo Sukendar selaku Romo Vikjen. Bapak Uskup memang hadir, duduk di baris pertama ujung depan. Beliau tampak agak kurusan dibanding terakhir saya bertemu dan kadang terdengar suara batuknya.

Ketika tugas memberi pengantar kegiatan sudah saya kerjakan, saya duduk di samping Bapak Uskup. Saya menawarkan permen batuk yang selalu menemani perjalanan saya, beliau menerimanya, berterima kasih dan menjelaskan bahwa batuknya tersebut dikarenakan penyakitnya.

Perkiraan kami lagi-lagi salah. Mgr. Puja tidak sekedar hadir dalam pembukaan, tetapi beliau mengikuti Modul 1 kami sampai selesai, bahkan beliau sempat melontarkan pertanyaan saat itu.

foto Ehem KAS-4ok
Alm. Mgr. Pujasumarta (paling kiri berjaket) tengah mengikuti program lokakarya antikorupsi bersama para suster, pastor, anggota Dewan Konsultores Keuskupan KAS bersama tim Ehem! gabungan dari KWI dan Yayasan Bhumiksara. (Royani Lim/Sesawi.Net)

Beliau kembali mengikuti lokakarya keesokkan harinya, ketika acara memasuki Modul 3. Beliau turut menyaksikan presentasi para peserta yang kreatif dan menarik serta diselingi canda tawa. Presentasi tentang refleksi budaya yang bisa menjerumuskan orang ke tindak korupsi disajikan dalam bentuk lagu, puisi, dan permainan.

Para pimpinan kuria, provinsial, pimpinan yayasan pendidikan di lingkungan KAS tampil menjabarkan hasil diskusi mereka dan menjelaskan tabel refleksi budaya yang dibuat. Tampak jelas KAS dipenuhi oleh personil yang mumpuni, sekaligus memiliki relasi yang baik – mereka akrab satu sama lain. Mereka berbaur dan saling mengolok dengan bebas tanpa kebablasan.

Celetukan cerdas terdengar sepanjang lokakarya. Tim terkagum-kagum melihat kecekatan pikiran mereka walau waktu diskusi terpaksa diperpendek karena jadwal lebih sempit dibanding jadwal di keuskupan lain. Toh, hasil yang disajikan menunjukkan pemahaman yang tepat, dan analisa sesuai harapan tim. Tentunya semua ini tak lepas dari kualitas Uskup alias Sang Gembala.

Di ujung sesi tersebut, Mgr. Puja angkat suara. Ketika beliau berbicara, tampak kharismanya yang membuat ruangan seketika hening; semua mendengarkan dengan seksama apa yang beliau sampaikan. Suara beliau jelas dan sepanjang perkataan sekitar dua menit itu tidak terseling oleh batuk seperti hari sebelumnya.

Tak diduga oleh tim bahwa Mgr. Puja mengapresiasi dan mendukung tinggi program ini.

Selengkapnya begini perkataan beliau, “Metode yang digunakan tim sederhana dan sangat mudah dipahami. Peserta yang belajar lokakarya ini silahkan mengembangkan bagi banyak orang di sekitarnya, komunitas dan lain sebagainya. DKP bisa mengembangkannya dan mengintegrasikannya dengan kegiatan-kegiatan yang sudah dikembangkan selama ini. Kesadaran ini harus dibawa juga dalam penataan semangat akuntabilitas yang telah dikembangkan.”

Di samping itu, beliau juga berbicara tentang RIKAS yang baru selesai dibuat.

“Di samping lokakarya ini, kami di KAS juga berupaya untuk mengembangkan semangat menghadirkan Kerajaan Allah, mengupayakan berbagai strategi baru di dalam hidup menggereja kami melalui RIKAS untuk 20 tahun ke depan. Salah satunya kami mengingatkan mengenai “Gereja sebagai papa miskin”, dimana kami ingin menghadirkan sesuatu yang konkret untuk mengangkat kesejahteraan dan martabat manusia, termasuk kepedulian untuk keutuhan ciptaan.”

Sungguh, ini lokakarya terbaik yang pernah kami lakukan dalam dua tahun ini. Ini semua berkat dari Mgr. Puja. Matur nuwun Monsinyur.

Ketika keesokkan paginya tim kembali ke Jakarta, kami tidak berpamitan langsung karena segan mengganggu istirahat Bapak Uskup. Apalagi malam sebelumnya kami melihat ada perawat datang, dugaan kami untuk merawat Bapak Uskup dan seorang imam yang sakit.

foto Ehem KAS-3ok
Salah satu fasilitator lokakarya antikorupsi, Dr. Wisnu Rosariastoko, tengah memberikan paparannya di hadapan para imam, suster, bruder, dan anggota Dewan Konsultores Keuskupan KAS di Pusat Pastoral Sanjaya, Muntilan, 2-3 Agustus 2015. (Royani Lim/Sesawi.Net)

Maka saya berpamitan kepada beliau melalui pesan bbm di pagi itu “Sugeng enjing Monsinyur, kami nyuwun pamit kembali Jakarta pukul 06.30. Matur nuwun Monsinyur atas segala penerimaan dan proses yang menyenangkan di KAS.”

Selang satu jam, saya mendapat balasan dari beliau “Matur nuwun. Ati-ati. Berkah Dalem +”

Kemudian di pertengahan Agustus, Mgr. Puja meresmikan Patung Maria Assumpta GMKA yang tertinggi di dunia. Membaca berita tersebut saya ikut senang karena melihat Monsinyur tampak sehat dan mampu menaiki gondola untuk memberkati patung setinggi 23 meter plus 19 meter penopang.

Ketika bertemu dengan Romo Sukendar dalam kegiatan SAGKI 2015 di Cimacan, Cipanas, 2-6 November 2015 lalu, pertanyaan pertama adalah tentang kondisi Mgr. Puja.

Beliau menjadi satu-satunya uskup yang tidak hadir pada perhelatan agung tersebut.

Romo Kendar menginformasikan bahwa Bapak Uskup istirahat di rumah sakit, karena kalau di keuskupan tidak akan memadai. Kondisi beliau stabil. Secarik info singkat ini menenangkan hati saya yang kadang risau membaca isu-isu tentang memburuknya kesehatan beliau.

Akhirnya Mgr. Puja bisa istirahat sekarang, istirahat yang abadi di rumah Bapa. Tidak akan ada batuk maupun rasa sakit yang akan mengganggunya. Kalau dalam medan tempur adalah istilah gugur dalam tugas atau KIA di NATO, menurut saya pelayanan tanpa henti Mgr. Puja juga bisa dikategorikan sama, Berpulang dalam Pelayanan.

Berkah Dalem Monsinyur, sugeng tindak. Dukungan Monsinyur atas gerakan antikorupsi akan terus menyemangati kami. Kesetiaan pelayanan Monsinyur dalam sehat dan terlebih dalam sakit menjadi inspirasi kekal bagi kami semua.

Kredit foto: Royani Lim/Sesawi.Net

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here