In Memoriam Mgr. Julianus Sunarka SJ: Perhatian Besar dan Tulus kepada Orang Lain (5)

0
490 views
Mgr. Julianus Sunarka saat berada di rumah pavilyun susteran CB di Jalan Salemba tahun 2015 lalu. (Mathias Hariyadi)

SUATU kesempatan siang hari, tiba-tiba muncul sapaan berbunyi “Sugeng siang”.

Ternyata, tanpa dinyana, Mgr. Julianus Sunarka SJ telah datang tiba mengunjungi rumah saya.

“Kados pundi peningalanipun? Sampun berobat dhumateng Yogja? (Bagaimana kondisi penglihatan mata? Sudah berobat ke RS Dr Yap di Yogya),” demikian Uskup Keuskupan Purwokerto alm. Mgr. Julianus Sunarka SJ datang mengunjungi rumah kami.

Lalu, beliau meletakkan pantat di lincak, tanpa menunggu dipersilahkan.

Sumangga Bapak Uskup,” kata saya mempersilahkan beliau duduk santai di bangku berbahan dasar bambu.

“Ha.. ha…tidak usah repot-repot. Aku wis jagong (duduk rileks) di sini,” jawabnya.

“Piyé nétrane sampun saé? Sumangga kula dongakaken nggih, mugi enggal mantun (Bagaimana matanya, sudah membaik? Saya ikut berharap semoga cepat sembuh),” tambahnya tak menunggu jawabanku.

Setelah itu, Mgr. Sunarka lalu memberi berkat dan kemudian langsung pamit.

“Dipun unjuk rumiyin Bapak Uskup (Silakan diminum dulu Monsinyur),” kata saya mempersilahkan minum teh yang dihidangkan oleh isteriku.

Wis liyo dina wae (nanti lain waktu dulu) aku hendak pergi ke SD St. Yoseph dan Caritas,” katanya sembari pergi meninggalkan rumah saya.

Saya hanya bisa melongo dan nyengir mengantar. Sebelum pulang, beliau melihat roti dagangan di etalase.

Laris manis kentang kimpul.

Selang satu bulan kemudian, Uskup Sunarka SJ datang mampir ke rumah lagi. Masuk rumah langsung duduk, tanpa salam.

Aku kaget melihatnya, ketika baru saja keluar kamar.

“Puji Tuhan,sampun saged sare nggih (sudah bisa tidur ya),” katanya.

Sapaan kasih membuatku malu.

“Permohonan bantuan biaya untuk penulisan skripsi S-2 Daniel ingkang putra saged dipun sukani (anakmu sudah bisa dikabulkan). Sumangga Daniel kapurih ngurus. Mugi- mugi lancar nggih (Silakan Daniel segera mengurusnya dan semoga lancar,” katanya sambil berpamitan pulang.

Daniel, anak kandung saya, sudah meninggal. Tidak lama setelah dia selesai studi S-2. Kena serangan jantung.

“Romo X itu pasti dipindahkan tak lama lagi Pa,” begitu cerita Daniel kepadaku.

“Mosok, kamu kok tahu, kalau Romo X itu sudah tidak setia dengan janji imamat sucinya. Aku tak percaya dengan cerita itu,” sergah saya menggugat omongan Daniel.

Sewaktu misa requiem di gereja untuk pemberkatan jenazah Daniel anakku, Uskup Sunarka SJ datang menyempatkan ikut hadir. Tatkala melihat jenazah di dalam peti, Uskup Sunarka SJ berkata,” Selamat jalan kawan. Aku kehilangan teman diskusi.”

Mendengar ucapan Monsinyur seperti itu, aku hanya bisa melongo sungguh tak percaya. Baru dalam sambutannya, aku memahami kedekatan Uskup Julianus Sunarka SJ dengan almarhum anakku, Daniel. Terutama sewaktu pemberian biaya kuliah.

Kesanku, mendiang Uskup Julianus Sunarka SJ ini sungguh sangat memperhatikan orang. Itu dilakukan beliau dengan penuh ketulusan melalui tindakan follow up setiap ia memberi nasehat petunjuknya.

Dalam setiap kunjungannya, beliau selalu menanyakan perkembangan tindakan atas usul nasehatnya.

Selamat jalan Uskup Julianus Kema Sunarka SJ. Doakan kami yang masih melakukan peziarahan di dunia ini. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here