Home BERITA Injil Hari Minggu Biasa IV/A 1 Februari 2026: Sabda Bahagia

Injil Hari Minggu Biasa IV/A 1 Februari 2026: Sabda Bahagia

0
267 views
  • Mat 5:1–12a
  • Zef 2:3; 3:12–13

INJIL bagi Minggu Biasa IV Tahun A kali ini, yakni Sabda Bahagia (Mat 5:1–12a), berperan sebagai pengantar pelbagai pengajaran Yesus yang termaktub dalam Mat 5–7.

Ada lima rangkaian pengajaran seperti itu, yakni:

  1. Mat 5–7:Khotbah di Bukit.
  2. Mat 10: Pedoman hidup bagi pewarta Kerajaan Surga.
  3. Mat 13: Penjelasan mengenai Kerajaan Surga.
  4. Mat 18: Pengajaran bagi para murid dalam hidup bersama.
  5. Mat 23–25: Uraian di Bukit Zaitun tentang kedatangan Kerajaan Surga pada akhir zaman.

Di antara kumpulan yang satu dengan yang berikutnya ditemukan kisah-kisah mengenai tindakan serta mukjizat Yesus dan pelbagai peristiwa dalam kehidupan para murid.

Lima kumpulan pengajaran

Lima kumpulan itu tersusun dengan cara yang menarik. Kumpulan yang terakhir (Mat 23–25) berlatarkan pengajaran di Bukit Zaitun.

Latar ini mengingatkan pada kumpulan pertama (Mat 5–7) yang latarnya sebuah bukit pula. Tentang ini akan diuraikan lebih lanjut di bawah.

Kemudian kumpulan keempat (Mat 18), yang menyangkut kehidupan para murid, erat berhubungan dengan kumpulan kedua (Mat 10), yakni pedoman hidup bagi para murid Yesus yang akan meneruskan tugas sebagai pewarta Kerajaan Surga.

Kumpulan ketiga (Mat 13) menyoroti Kerajaan Surga, yakni warta paling pokok yang dibawakan Yesus.

Penyusunan secara “konsentrik” seperti ini dapat menjadi pegangan untuk mendalami masing-masing kumpulan itu.

Jadi kumpulan yang pertama (Mat 5–7), yakni Injil kali ini, sebaiknya dilihat dalam hubungannya dengan warta pokok, yakni Kerajaan Surga (Mat 13) dan kepenuhannya kelak pada akhir zaman (Mat 23–25).

Dengan demikian para murid akan siap menghayati pedoman hidup baik secara pribadi (Mat 10) maupun dalam kebersamaan (Mat 18).

Sabda Bahagia: siapa yang dituju?

Dalam Mat 5:1–12a tercantum delapan Sabda Bahagia yang ditujukan kepada semua orang (ay. 3–10) serta satu Sabda Bahagia yang khusus diucapkan bagi para murid (ay. 11), dan dilanjutkan dengan seruan agar mereka tetap bersukacita (ay. 12a).

Disebutkan dalam ay. 1–2, ketika Yesus melihat orang banyak, Ia naik ke bukit dan memberi pengajaran untuk menggugah para pendengarnya agar semakin memahami diri mereka sendiri.

Maka Sabda Bahagia juga dapat membantu kita membaca pengalaman kita sekarang ini.

Upaya mendalami Sabda Bahagia sebagai pembukaan kumpulan pertama dapat menciptakan hubungan guru–murid dengan Yesus.

Bila itu terjadi, orang akan merasa tertuntun untuk mendekat kepada kenyataan hadirnya Yang Ilahi di antara manusia. Hubungan ini akan mendekatkan orang pada kenyataan Kerajaan Surga di dunia dan kepenuhannya kelak pada akhir zaman.

Dengan demikian, Sabda Bahagia juga menjadi pangkal harapan untuk ikut menikmati kenyataan itu.

“Berbahagialah…”

Tiga Sabda Bahagia (Mat 5:3–5) menegaskan bahwa orang dapat disebut berbahagia karena tumpuan harapan dalam hidupnya ialah Tuhan sendiri.

Gagasan “miskin” dalam ay. 3 ialah kebersahajaan batin; oleh karenanya diberi penjelasan “di hadapan Allah”.

Dapat dicatat bahwa penjelasan tambahan itu tidak terdapat dalam Sabda Bahagia yang disampaikan Luk 6:20, karena yang ditekankan Lukas ialah orang yang sungguh-sungguh kekurangan secara material, orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup dan kini diperhatikan oleh para pengikut Yesus yang bersedia berbagi keberuntungan dengan mereka.

Kemudian Mat 5:4 menyebut berbahagia orang yang “berdukacita”, maksudnya orang yang hanya akan dapat terhibur oleh kesadaran bahwa Tuhan tetap berada dekat, kendati orang mengalami kesulitan.

Termasuk di sini sikap tidak berpihak pada kekerasan yang terungkap dalam Mat 5:5 sebagai “lemah lembut”.

Selanjutnya ada dua Sabda Bahagia (Mat 5:6 dan 8) yang menyebut keinginan untuk menjalankan kehendak Tuhan sebagai hal yang membahagiakan, seperti terungkap dalam ay. 6 sebagai “lapar dan haus akan hal yang lurus” dan dalam ay. 8 sebagai “berhati bersih”.

Ungkapan terakhir ini dipetik dari gaya bahasa Ibrani (lihat misalnya Mzm 24:4) dan artinya ialah mampu berpikir secara jernih. Orang yang demikian tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan-keinginan yang menjauhkannya dari Tuhan.

Jadi, ini bukan sekadar ajaran agar menjauhi nafsu-nafsu yang biasanya disebut kotor.

Dua Sabda Bahagia yang lain (Mat 5:7 dan 9) menegaskan bahwa upaya menghadirkan Tuhan kepada sesama menjadi kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan.

Upaya ini ditegaskan dalam ay. 7 sebagai “berbelaskasihan” dan dalam ay. 9 sebagai “pencinta damai”.

Hasrat menghadirkan kebaikan Tuhan kepada orang lain muncul karena orang sadar akan perlunya saling mendukung dan mengembangkan sikap pendamai.

Tidak disangkal adanya kesulitan, seperti jelas dari Mat 5:10–12. Orang yang nyata-nyata hidup dalam kerangka di atas sering menderita dan dimusuhi, seperti terungkap dalam ay. 10: “dikejar-kejar karena bertindak lurus”.

Kemudian secara khusus kepada murid-murid-Nya, Yesus menambahkan Sabda Bahagia yang kesembilan, yakni yang menyangkut pengalaman dimusuhi orang karena menjadi murid-Nya (ay. 11).

Pengharapan mereka dikuatkan (ay. 12a: “bersukacitalah, karena besar pahalamu di surga”).

Tiap pengalaman di atas dapat dihayati oleh semua orang yang memberi ruang bagi Yang Ilahi. Dapat pula dikatakan bahwa pengalaman ini melampaui batas-batas agama.

Mereka yang mendalami makna Sabda Bahagia akan semakin mengenali liku-liku kehidupan rohani dan pergulatan di dalamnya. Hidup yang terarah kepada Yang Ilahi itulah yang membawa kebahagiaan.

Di situlah ditemukan makna “berbahagia”.

Mengajar di sebuah bukit

Injil Matius ditulis bagi orang-orang yang akrab dengan alam pikiran Perjanjian Lama. Intinya ialah peristiwa penurunan Taurat kepada Musa di Sinai.

Bagi umat Perjanjian Lama, Taurat berisi ajaran kehidupan dalam bentuk pedoman, petunjuk, tata cara ibadat, dan hukum yang bila dijalani dengan jujur dan ikhlas akan membuat mereka dekat dengan Tuhan dan menjadi umat yang dilindungi-Nya.

Dengan latar inilah Matius mengisyaratkan kepada para pembacanya bahwa Yesus kini menjalankan peran Musa. Yesus membawakan petunjuk, ajaran, dan kebijaksanaan yang bila dihayati akan membuat orang menjadi bagian dari umat baru, pewaris Kerajaan Surga.

Memang ada beberapa perbedaan mencolok antara penampilan Musa dan Yesus.

Di Sinai dulu, Musa sedemikian jauh. Awan meliputi pucuk gunung tempat Musa menerima firman ilahi. Tak ada yang berani mendekat karena kebesaran ilahi begitu menggentarkan. Kini Yesus tampil sebagai tokoh yang dekat dengan orang banyak.

Matius memang sengaja menampilkannya sebagai perwujudan “Tuhan menyertai kita” — Imanuel.

Kini bukan lagi awan yang menggentarkan, melainkan kemanusiaan Yesuslah yang menyelubungi kebesaran ilahi sehingga orang banyak dapat datang mendekat. Tempat pengajaran tidak lagi digambarkan sebagai gunung tinggi yang hanya bisa didaki Musa seorang diri.

Bukit tempat Yesus menyampaikan pengajaran-Nya terjangkau oleh orang banyak dan mereka dapat langsung mendengarkannya.

Bagaimanapun juga, tempat yang mudah dicapai ini tetap menjadi tempat keramat, seperti puncak Sinai dahulu — tetapi kekeramatan yang dekat, bukan yang sulit terjangkau.

Menjelang akhir kehidupan-Nya, Yesus masih memberi pengajaran kepada murid-murid-Nya di sebuah bukit pula, yakni Bukit Zaitun. Kita boleh mengingat Musa di Gunung Nebo yang memandang ke Tanah Terjanji, meski ia sendiri tidak memasukinya.

Yosualah yang memimpin umat ke sana. Peristiwa ini besar maknanya bagi pembaca Injil Matius, sebab nama Yesus dalam bentuk Ibraninya sama dengan nama Yosua, penerus Musa itu.

Dengan demikian disarankan bahwa Yesus akan memimpin orang banyak memasuki negeri baru yang dijanjikan, yakni Kerajaan Surga.

Warta Sabda Bahagia

Sabda Bahagia dalam Injil menggambarkan apa yang nyata-nyata dialami dan terjadi di antara orang-orang yang hidup mengikuti Yesus, bukan menunjuk pada hal-hal yang belum terjadi.

Dengan kata lain, Sabda Bahagia bersifat deskriptif (“mengatakan apa yang sudah ada”), bukan preskriptif (“menyarankan agar terjadi demikian”).

Beberapa contoh lain Sabda Bahagia selain yang dibicarakan di sini ialah Mzm 1:1; 32:1–2; 144:15; Mat 11:6; 13:16; 16:17; Luk 6:20; 11:28; 12:37; Yoh 20:29; 1 Ptr 4:14.

Semua ini lebih tepat dipahami sebagai uraian deskriptif.

Sabda Bahagia bukanlah kata-kata yang memiliki daya untuk mengadakan sesuatu seperti “berkat”, dan juga bukan serangkaian resep hidup bahagia.

Sabda Bahagia menunjukkan apa yang terjadi bila orang berada dalam keadaan yang digambarkan di situ. Pendengar diajak untuk merenung lebih lanjut dan mengambil sikap-sikap baru.

Dengan demikian, Sabda Bahagia tidak pernah menjadi “yang itu-itu saja”; sabda itu tetap menyapa.

Sabda Bahagia Mat 5:1–12a sebaiknya juga dibaca dengan menghubungkannya dengan pengajaran Yesus tentang Penghakiman Terakhir dalam Mat 25:31–46.

Kedua bagian ini membingkai seluruh pengajaran Yesus. Keduanya disampaikan di sebuah bukit dan keduanya membicarakan siapa yang akan memiliki Kerajaan Surga, siapa yang dapat memasuki kebahagiaan kekal.

Dalam Mat 25:35–36 ditegaskan bahwa berbuat baik kepada sesama berarti berbuat baik kepada Tuhan sendiri. Yesus memanusiakan gambaran Penghakiman Terakhir dan mengajarkan bagaimana perbuatan kepada sesama menjadi batu uji untuk masuk ke surga.

Kebijaksanaan dan akal sehat menjadi penuntun yang baik menuju pertanggungjawaban terakhir. Ada imbauan agar kita kelak dapat mengatakan bahwa kita telah memperkaya Tuhan dan berbuat baik kepada-Nya.

Sabda Bahagia menggambarkan keadaan batin dan sikap hidup mereka yang pada akhir zaman akan dapat berkata bahwa mereka telah berbuat banyak bagi sesama.

Dan Tuhan akan mengatakan bahwa semua itu dikerjakan bagi-Nya. Mereka yang demikian itulah yang sungguh dapat disebut “berbahagia”.

Arah yang sama juga tampak dalam Bacaan Pertama. Bagian awal, Zef 2:3, memuat seruan agar umat terus berupaya mencari Tuhan melalui keadilan dan kerendahan hati.

Ungkapan ini menarik karena perilaku sosial — keadilan (saling menghormati hak dan kewajiban) serta kerendahan hati (tidak mengecilkan pihak lain) — kini ditampilkan sebagai perilaku yang mengikutsertakan kehadiran ilahi. Mereka yang bertindak adil dan rendah hati boleh berharap akan perlindungan Tuhan.

Dalam bagian kedua, Zef 3:12–13, ditegaskan bahwa integritas, kejujuran, dan sikap apa adanya memberi makna sejati pada tindakan berlindung kepada Tuhan. Umat yang demikian tidak membuat pihak lain merasa tertekan atau tersisih.

Dalam bahasa masa kini, kesungguhan hidup beragama menjadi nyata terutama dalam perbuatan yang membangun kesejahteraan bersama, bukan pertama-tama dalam pernyataan iman semata. Inilah yang diserukan nabi dan yang dapat didalami lebih lanjut melalui Sabda Bahagia dalam Injil.

Salam hangat,

A. Gianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo