Inspirasi Hidup: Awal Stasi Sotek, Paroki St. Petrus & Paulus Dahor, Balikpapan (4)

0
363 views
Umat Stasi Sotek tahun 1997 (Dok. Liem Tjay)

KAMPUNG Sepan masuk wilayah Stasi Sotek Paroki Santo Petrus dan Paulus Dahor Balikpapan.

Setelah Paskah 1996, Anastasia Derang (umat stasi Km 15) datang ke Pastoran Dahor Balikpapan untuk melaporkan bahwa ada beberapa umat Katolik di Sotek yang selama ini tidak mendapat pelayanan dari Gereja Katolik.

Liem Tjay sebagai pastor pembantu di Paroki Dahor ditemani Guru Aloysius Mado  langsung mengadakansurvei, mencari di mana kampung Sotek.

Mereka berdua dengan motor Honda CG 100 meluncur dari Penajam ke kampung Sotek, yang berjarak 42 km, ditempuh selama 4 jam.

Turne ke Stasi Sotek tahun 1999 (dok. Liem Tjay)

Mereka berdua tiba di pasar Sotek dan berhenti cukup lama. Desa Sotek terasa asing. Kebetulan lewat seorang pemuda Timor, Aloysius Mado lalu menegur dan bertanya ”Adakah orang Katolik di kampung ini?

Pemuda itu menjawab dengan cuek ”tidak tahu!”, sambil lewat melanjutkan perjalanannya. Padahal pemuda itu memakai kalung rosario.

Liem Tjay dan Aloysius Mado tersenyum geli. Rosario menjadi salah satu identitas seorang Katolik. Namun identitas itu tidak menjamin ke-katolikan-nya.  

Sebulan kemudian, Liem Tjay dijemput Ibu Yuliana Kewarotok (orang Sotek)  di Pastoran Dahor Balikpapan lalu  bersama sama masuk ke kampung Sotek untuk  mengunjungi  umat.

Liem Tjay numpang kapal klotok milik perusahaan BFI  lewat Sungai Riko menuju Kampung Sotek, pada tanggal  07 Mei 1996.

Liem Tjay tinggal di rumah Simon Simeon, suami Yuliana. Malam itu Liem Tjay mengadakan misa di ruang tamu ukuran 3 x 4 m. Kira-kira ada 50  jiwa yang ikut misa.

Liem Tjay merinding melihat banyak umat berdesakan duduk memenuhi ruang tamu rumah Simon yang kecil. Betapa haus mereka akan Ekaristi Kudus, betapa rindu mereka berkumpul sebagai satu Gereja.

Betapa bangga rumah kecil menjadi Gereja mini.

Malam itu juga Liem Liem Tjay menemukan dan membuka misi awal di desa Sotek. Hanya ada 4 KK orang yang Katolik dan beberapa bujangan dari Flores Timor yang merantau kerja di perusahaan ply mill BFI milik Korea.

Liem Tjay masih ingat 4 KK yang pertama kali dijumpai:

  • Kel. Markus Parri – Dorce Bualang (nikah Gereja Katolik).
  • Kel. Anton Siringo Ringo – Darmayanti Rerung.
  • Kel.Simon Semeon – Yuliana Kewarotok.
  • Kel.Dontes Sianturi – Lidia Manalu.

Sejak tahun 1980 umat katolik ikut sembahyang di Gereja Protestan. Bahkan perkawinan mereka (3 KK) diteguhkan oleh pendeta. Pak Simon Semeon pernah cerita bahwa dia dengan beberapa pemuda Katolik membangun Gedung Gereja Protestan.

Jadi selama 16 tahun, tidak ada pelayanan pastoral dari Gereja Katolik.

Umat Katolik yang berdiaspora merapat

Setelah beberapa kali turne ke Sotek, Liem Tjay tinggal beberapa hari, mengenal, mendata umat di wilayah Sotek, mulailah menjadi jelas umat yang tersebar di hutan bisa berkumpul setiap minggu ke-2 dalam bulan untuk sembayang.

Umat yang bekerja di hutan datang mengambil gaji dan sekalian belanja kebutuhan hidup selama 1 bulan untuk dibawa ke camp.

Inilah irama hidup umat berdiaspora yang tinggal di hutan.  Pastoral dengan basis kebiasaan hidup umat diaspora membantu untuk menentukan arah dan pola pelayanan umat selanjutnya.

Rumah ibadat Stasi Sotek tahun 1997 (dok. Liem Tjay)
Rumah ibadat Stasi Sotek tahun 1997. (dok. Liem Tjay)

Tenda Biru ke Rumah Ibadat

Misa Natal 26 Desember 1996 adalah misa perdana di mana umat diaspora berkumpul di bawah tenda biru. Peristiwa ini menjadi sejarah bagi tumbuhnya iman katolik di wilayah Sotek. Tiga Pasangan memperbaharui pernikahan mereka secara Katolik.

Berangkat dengan 4 KK dan beberapa bujangan Sotek pelan pelan menjadi sebuah stasi dengan membangun secara gotong-royong   sebuah rumah Ibadat dari kayu berukur 6×9 meter.

Simon Simeon meminjamkan tanah untuk tempat ibadah. Misa Paskah tahun 1997 adalah misa perdana di rumah Ibadah yang baru. Tuhan membuka jalan bagi umat Sotek untuk menikmati Perayaan Ekaristi dan ibadat.

Lanjut Nenek Hajang berkisah via telpon

“Pastor, nenek ini kan sudah tua, susah pergi ke gereja stasi. Kaki ini sakit, kata Manteri Puskesmas, nenek kena keropos tulang, jadi nyeri rasanya di tulang kaki, makanya nenek susah jalan jauh, apalagi ke gereja stasi yang jarak 12 km.“

Jeritan orang pedalaman.

Keluhan, jeritan kesakitan seorang nenek tua bernama Hajang adalah jeritan orang orang pedalaman:

  • yang menanggung sakit tua.
  • yang mengalami kesepian.
  • yang berjuang sendiri.
  • yang bergumul dengan alam, hutan tempat leluhur mereka yang tergeser oleh nilai nilai hidup di jaman now, konsumeris. 
  • yang kemapanan dan kehamornisan hidup alami tergoncang dengan arus hidup era digital yang sangat cepat menuju Ibu Kota RI yang megah dan gagah.

Liem Tjay berpikir sejenak dan membayangkan sambil bertanya dalam hati, “Apakah Nenek Hajang dan mungkin ada masyarakat pedalaman lain luput dari perhatian masyarakat, pemerintah, apalagi instansi agama, Gereja?”

Liem Tjay jadi tersipu malu dengan dirinya sebagai seorang misionaris yang memiliki motto “melayani yang tak terlayani.”

Ternyata tidak mudah menghayati dan mewujudkan motto misi tersebut. Liem Tjay jadi khawatir jika motto itu hanya sebatas slogan atau embel embel yang menempel, menghiasi pada jubah misionarisnya.

Padahal banyak orang seperti nenek Hajang sedang menanti dan menanti.

Para penari Dayak Paser dan Bahau di Penajam 2007. (Dok. Liem Tjay)

Nenek berlanjut

“Pastor, nenek itu sendirian, umat stasi juga jarang berkunjung apalagi Pastor tidak pernah berkunjung. Nenek sadar orang miskin, orang pedalaman ini tidak pernah disapa, karena miskin dan terpencil, susah dikunjungi oleh pastor.

Padahal umat ini rindu disapa dan dikunjungi, biar iman umat kuat, karena kami tinggal jauh dari Gereja, hidup di tengah masyarakat dan beraneka agama.“

Menanggapi keluhan Nenek Hajang yang mengharapkan kunjungan pastor, Liem Tjay ingat akan tulisan Romo Markus Marlon MSC (alm) begini:

Pauper ubique iacet” – di mana-mana orang miskin itu tidak dihargai, seperti yang dikatakan Ovidius (43 SM–18 M). Kalau zaman dulu, pastor-pastor bule itu rajin kunjungan walau hanya jalan kaki saja.”

Kunjungan umat adalah reksa pastoral yang tidak tergantikan.

Kebanyakan umat mengeluh, karena pastor parokinya dalam berkunjung itu “pilih-pilih”.

Bahkan ada salah seorang umat yang berkata, “Kebanyakan pastor-pastor yang bertugas di Paroki kami dari keluarga yang sederhana bahkan miskin, kenapa setelah menjadi pastor lupa asal-usulnya.”

Beginilah ungkapan Romo Koko MSF, kartunis kepada Liem Tjay:

Pastor lupa asal-usulnya. (Romo Koko MSF)

Mbah Tasem dan Nenek Hajang adalah sosok pribadi yang sangat inspiratif bagi Liem Tjay sebagai Pastor yang hidup di tengah umat.

Tepian Sungai Serayu

Akhir Oktober 2020 – Liem Tjay

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here