Jangan Takut Gagal

0
313 views

Puncta 26.05.23
PW. St. Filipus Neri, Imam
Yohanes 21: 15-19

TAHUKAH anda bahwa sebelum menemukan bola lampu yang akan mengubah dunia, Thomas Alfa Edison pernah mengalami kegagalan sebanyak seribu kali?

Tidak ada kata menyerah bagi orang yang ingin maju. Kendati berkali-kali gagal dan gagal, Alfa Edison terus mencoba dan bangkit.

Begitu juga yang dialami Kolonel Harland Sanders penemu resep ayam goreng yang terkenal itu. Ia pernah mengalami kegagalan berkali-kali saat menciptakan resep ayam gorengnya.

Bahkan ia pernah ditolak oleh ratusan investor saat dia mau menjual resep ciptaannya. Namun dengan semangat yang gigih akhirnya ia menjadi kaya raya karena resepnya itu.

Yesus bertanya kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka itu?”

Pertanyaan itu diulang-ulang sampai tiga kali. Diulang-ulang menggambarkan betapa pentingnya pesan yang mau disampaikan kepada Simon.

Syarat penting menjadi murid adalah mengasihi. “Apakah engkau mengasihi Aku?”

Tetapi Simon Petrus sedih ditanya berulangkali. Bisa jadi Simon merasa diragukan kasihnya kepada Yesus.

Dia teringat bahwa dia pernah menyangkal Gurunya sebanyak tiga kali. Dia pernah gagal mewujudkan kata-katanya sendiri, “Tuhan aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!”

Jawab Yesus, “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Petrus pernah mengalami berkali-kali gagal menjadi murid Yesus. Bahkan ia pernah dimarahi oleh Yesus, ”Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Tetapi Tuhan tidak memikirkan kegagalan manusia. Tuhan menggunakan manusia yang lemah untuk mewartakan Kerajaan Allah. Syaratnya hanya satu yakni mengasihi Tuhan lebih dari segalanya.

Walau tidak tersirat, syarat mengikuti Yesus adalah rendah hati. Kalau bukan karena kebaikan Tuhan, kita tidak mampu berbuat apa-apa.

Karena kita lemah, kita membutuhkan orang lain yang menolong kita.

Pemimpin yang sungguh mengasihi dan rendah hati dipilih Tuhan untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Petrus ditugaskan untuk menjadi gembala bagi domba-domba yakni jemaat Kristus.

Marilah kita menyatu dengan para gembala untuk mengawal domba-domba menuju padang rumput yang hijau. Sudahkah kita mengasihi Tuhan lebih daripada segalanya?

Labuan Bajo indah pantainya,
Kapal Pinisi berlabuh di dermaga.
Mengasihi adalah syarat utama,
Menjadi murid Kristus yang setia.

Labuan Bajo, apakah engkau mengasihi-Ku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here