Home BERITA Jejak Sabda 25 Mei 2026: Di Bawah Salib, Kita Saling Dititipkan

Jejak Sabda 25 Mei 2026: Di Bawah Salib, Kita Saling Dititipkan

0
270 views
Ilustrasi - Bunda Maria di bawah salib (Rafael Valls)

Yohanes 19:25-34.

DALAM perjalanan hidup ini, kadang Tuhan menitipkan seseorang kepada kita: orang tua yang mulai renta dan harus dirawat dengan sabar, pasangan yang sebenarnya hanya ingin didengarkan, anak yang haus perhatian, sahabat yang sedang terluka, atau sesama yang membutuhkan kehadiran kita.

Tidak selalu mudah. Ada lelah, ada air mata, ada pengorbanan yang sering tidak terlihat oleh siapa pun. Namun justru di situlah kasih menjadi nyata.

Seorang ibu syering tentang situasinya saat ini.

“Hidupku berubah ketika dua adikku jatuh sakit hampir bersamaan,” syeringnya.

” Yang satu mengalami gangguan saraf hingga sulit berjalan, sementara yang lain harus menjalani pengobatan panjang.

Sejak saat itu, hari-hariku dipenuhi dengan mengantar kontrol, memasak, membersihkan rumah, dan bekerja demi mencukupi kebutuhan mereka.

Saya sering merasa hidupku tertahan. Saat teman-temanku bisa menikmati hidup dengan lebih ringan, saya harus terus memikirkan obat, biaya, dan kebutuhan keluargaku,” katanya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu.”

Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu.” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”

Di bawah salib, Yesus mengajarkan bahwa Gereja dan kehidupan dibangun bukan hanya oleh iman, tetapi juga oleh kasih yang saling menerima dan merawat.

Dalam detik-detik terakhir hidup-Nya, Yesus justru membangun sebuah hubungan kasih. Maria tidak dibiarkan sendirian dalam dukanya. Yohanes pun tidak berjalan sendiri dalam panggilannya. Di tengah penderitaan, Yesus menitipkan mereka satu sama lain.

Demikian pula Tuhan sering menitipkan seseorang kepada kita: orang tua yang menua, pasangan yang perlu dimengerti, anak yang membutuhkan perhatian, sahabat yang terluka, atau sesama yang diam-diam sedang memikul salibnya sendiri.

Dan di lain waktu, Tuhan juga mengizinkan kita menjadi pribadi yang membutuhkan pelukan dan pertolongan.

Bagaimana dengan diriku?

Siapakah yang Tuhan titipkan dalam hidupku saat ini untuk kukasihi, kudampingi, atau kuterima dengan tulus?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo