Kiong Koe Berkicau – Buah Yang Baik

0
149 views
Ilustrasi - Memaku batang pohon mangga agar berbuah. (Ist)


Apau kayan, 10-9-2022

Luk 6:43-49

DI tempat saya berkarya, rata-rata umat belum begitu paham soal menanam buah-buahan.

Ketika pertama kali saya datang ke sini, saya geleng-geleng kepala melihat buah-buahan yang mereka tanam. Mereka menanam buah-buahan persis seperti tanam padi. Sangat berdekatan dan tidak berjarak sama sekali.

Selain itu, sudah tanam berdekatan, malah tanam buah-buahan tumpang tindih dengan tanaman yang lain. Padahal tanah begitu luas. Dan lebih aneh lagi, setelah ditanam ditinggal begitu saja tanpa dirawat.

Kadang saya berpikir, apakah konsep mereka menanam ini terinspirasi dari tanaman pohon-pohon kayu yang tumbuh liar di hutan atau terinspirasi dari ladang dan sawah padi?

Dengan konsep bahwa saya yang menanam nanti Tuhan yang Allah menumbuhkan dan merawat. Lalu tinggal saya pergi sibuk yang dengan yang lain.

Ketika musim buah terjadi di tempat lain, mereka mulai bertanya Pastor, kenapa buah-buahan yang kami tanam tidak mau berbuah ya?

Kadang saya mangkel, untuk menjawab tetapi, saya menahan saja sebab pikirku mereka tidak salah menanam.

Yang salah adalah tidak ada pihak yang mengajari dan membimbing mereka cara menanam.

Saya jadi teringat pertanyaan Filipus ketika dia bertanya ke seorang sida-sida yang naik kEreta sedang membaca Kitab Nabi Yesaya dan dia bertanya demikian, “Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?”

Jawabnya: “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?”

Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya” (Kis 8:30-31).

Menurut hemat saya, tidak sedikit dari kami yang gagal berkarya di tanah misi karena motivasinya hanya didukung oleh idealisme ingin segera “memanen buah yang baik”.

Padahal ke tempat misi pertama-tama adalah tidak sekadar membekali umat dengan menabur Injil ke hidup rohani mereka, tetapi memberdayakan umat secara ekonomi sehingga mereka bisa menjadi pohon yang menghasilkan buah yang baik.

Untuk itu, institusi yang mengirim misionaris ke tanah misi tidak cukup mereka dibekali ilmu ilahi. Mereka perlu juga belajar ilmu sosial, pertanian, peternakan, dll.

Dan zaman sekarang ya… imam perlu belajar dunia digital.

Adalah mustahil seorang misionaris datang ke tempat karya langsung menuai “buah-buah yang baik dari pohon-pohon yang baik” pada hal mereka belum mengajari “pohon-pohon ini,” konsep menanam dan merawat pohon yang baik sehingga bisa menghasilkan buah yang baik. Dan dalam hal ini, ada hal lain yang perlu dipahami oleh seorang misionaris yaitu, “jenis tanah tempat pohon-pohon” itu bertumbuh.

Di bagian inilah ujian terberatnya karena misionaris berhadapan dengan “jenis dan bentuk tanahnya”.

“Jenis dan bentuk tanah” ini, tidak sekedar digarap tetapi, perlu didiagnosis supaya mengenalnya dengan baik. Tanpa hal itu, semua akan menjadi pepesan kosong.

Athonio Bochi OMI berkata, “Misionaris yang tidak memberikan hati, pikiran, energi dan cintanya ke tanah misi, itu bukan misionaris. Itu adalah peziarah yang berbaju rohani.”

Refleksi: Apakah aku sudah menjadi tanah dan pohon yang baik bagi Tuhan dan sesamaku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here