Kluyuran Jurus 5 M, Cara Sr. Veronica Iendrawati PMY Mengemis demi Keberlangsungan Panti Wreda Catur Nugraha (2)

0
930 views
Meski sudah pincang berjalan, Sr. Veronica Iendrawati PMY tetap rajin pergi kluyuran mencari donasi demi keberlangsung Panti Wreda Catur Nugraha Kaliori, Banyumas. (Romo Nico Setiawan OMI)

PENULIS, Liem Tjay, mengakui dan menyadari penghayatan hidup sebagai religius tidaklah mudah di zaman now. Sekarang di era digital, apalagi di masa pandemi coronavirus seperti bulan-bulan di tahun 2020-2021 ini.

Kehadiran, perjumpaan secara personal terbatasi dan dibuat jarak. Gaya pergaulan dan relasi sudah berubah.

Berlama-lama di depan HP sambil berkisah, bergosip, ber-upload ria itulah yang lagi tren di sekarang. Ber-webinar, zoom, tampil on line lebih dirasa dan diterima sebagai bentuk relasi yang cepat dan mendunia.

Inilah saatnya di zaman now. Merasul lewat dunia maya, medsos agar kaum berjubah tetap bisa eksis.

Dalam hati Liem Tjay sering bertanya: Itukah yang mau dikejar sebagai kaum berjubah agar tidak gaptek (gagap teknologi) dan tetap bergaul?

Masih lebih nges perjumpaan riil di lapangan

Namun belajar dari kesaksian hidup Mak Suster Veronica Iendrawati PMY yang tetap berpastoral ala zaman dulu (jadul), maka Liem Tjay berani mengatakan berbelarasa itu sangat mahal.

Juga masih tetap relevan dan sangat dibutuhkan.

Menurut Liem Tjay, Mak Suster Iendrawati PMY masih tetap berani dan konsisten memakai “belarasa” sebagai senjata pendekatan.

Juga masuk ke dalam situasi nyata orang yang dia layani sehari-hari sebagai suster biarawati pengampu karya panti jompo. Khususnya masuk ke dalam keseharian hidup para opa oma di Panti Wreda Catur Nugraha di Kaliori, Kabupaten Banyumas, Jateng.

Arti berbelarasa bagi Mak Suster

Sambil menghabiskan secangkir kopi di meja makan susteran, Mak Suster Veronika Iendrawati PMY mengungkapkan demikian.

“Berbelarasa berarti saya harus mampu sedemikian ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh opa oma di masa tuanya.

Bukan hanya untuk penghuni Panti Wreda saja. Tetapi siapa saja yang menderita. Yang lagi susah.

Apa yang bisa saya buat untuk oma opa? Walau hanya menyapa. Atau sekalipun menggantikan pempers.

Namun itulah bentuk tindak nyata kepada mereka yang susah, yang berada dalam keterbatasan hidup.”

Mbak Suster Veronica Ien Indrawati PMY dan salah satu oma yang menjadi penghuni Panti Wredha Nugraha di Kaliori, Banyumas, Jateng. (Romo Nico Belawing Setiawan OMI)

Mengirim Komuni dan ngobrol-ngobrol

Ungkapan “belarasa” bagi Mak Suster Iendrawati PMY ini tidak hanya terbatas dengan opa oma di Panti Wreda Nugraha Kaliori saja. Itu karena setiap Senin, Mak Suster Iendrawati PMY tetap setia dan tekun mengantar komuni kepada tiga orang oma di Banyumas.

Tugas Mak Suster bukan hanya membawa Yesus dalam rupa Hosti Kudus. Namun Mak Suster bersedia duduk berlama-lama dan mendengarkan cerita rata rata satu jam dari masing-masing oma tersebut.

Ia bisa tahan dan betah duduk bersama dengan oma oma dengan modal “belarasa” yang kuat dan mendalam. Sehingga oma-oma yang dikunjungi merasakan kekuatan rohani dari Tuhan.

Pasti hal ini juga telah membuat oma-oma tambah semangat dan dihargai.

Belarasa memuliakan martabat manusia

Liem Tjay menyimpan sebuah catatan tentang apa itu belarasa.

Dalam Bahasa Ibrani dan Aram, kata yang biasanya diterjemahkan sebagai belarasa (compassion dalam Bahasa Inggris) adalah bentuk jamak dari satu kata benda rahum (Kel 34: 6) atau le rahim, (2 Taw 30: 9) yang dalam bentuk tunggalnya berarti rahim.

Dalam Perjanjian Lama, kata “rahim” ini sering diterjemahkan sebagai murah hati. Untuk menggambarkan sifat Allah yang pengasih dan penyayang.

Jadi Alkitab sering berbicara tentang Allah yang berbelarasa itu dengan kata “murah hati”.

Kluyuran, bentuk pelayanan “murah hati”

Ada yang suka heran dan lalu mempertanyakan hal ini: “Lha, seorang suster biarawati kok suka kluyuran?”

Memang ada umat yang masih memiliki pandangan dan kepercayaan bahwa suster biarawati itu harus selalu tinggal di dalam Biara Susteran. Untuk hidup teratur, hidup ber-komunitas, berdoa dan berdoa.

Lah ini Mak Suster Iendrawati PMY malah suka keluar biara dan kluyuran kemana-mana?

Lain dengan suster yang satu ini di zaman sekarang. Jalan kluyuran adalah jadwal rutin harian Mak Suster.

Kalau tidak pergi, kalau tidak jalan, kalau tidak kluyuran, maka hal itu bukan Sr. Veronika Iendrawati PMY alias Mak Suster yang jadi nama panggilan kesayangan penulis.

Walaupun usianya sudah senja dan ada persolan dengan kaki pincang, namun Mak Suster tetap rutin jalan dan jalan.

Sr. Veronica Iendrawati PMY selalu ramah menyapa setiap orang yang punya hati emas untuk berbagi bagi sesama. Termasuk kepada ibu penjual nasi rames langganannya yang biasa dipesan untuk konsumsi opa oma di Panti Wreda Catur Nugraha di Kaliori ,Banyumas. (Romo Nico Setiawan OMI)

Dalam hal ini, kluyuran tidak diartikan suka jalan kaki atau pergi semau gue tanpa tujuan, melainkan Mak Suster tetap pergi ke suatu tempat dengan mobil.

Ada sopir yang setia menemani yaitu Sr. Magdalena PMY dan Pak Okky.

Kluyuran untuk cari makan?

Mak Suster pergi jalan dari satu tempat ke tempat lain untuk cari makan.

Itu benar. Jelas dia bukan mencari makan untuk dirinya sendiri, namun untuk seluruh penghuni Panti Wreda.

Pemasukan dari keluarga opa oma per bulan tidaklah mencukupi biaya operasional Panti Wreda Nugraha di Kaliori, Banyumas ini.

Maka, harus ada usaha dan usaha. Bagaimana?

Mak Suster sengaja dolan keluar dari biara untuk bisa kluyuran demi upayanya mengemis?  

Kok ada pengemis elite dengan mobil?

Allah itu murah hati. Masih ada banyak donatur yang suka memberi bantuan untuk Panti Wreda Nugraha di Banyumas ini. Berkat Mak Suster Veronica Iendrawati PMY.

Mak Suster bisa jalan dari satu rumah ke rumah lainnya. Hanya untuk mengambil makanan yang sudah jadi maupun bahan keperluan dapur.

Ada keluarga yang memberi bantuan nasi sayur untuk makan siang saja.

Lalu Mak Suster pergi jalan untuk mengambil dan mengambil dari satu kota ke kota lain (sekitaran Banyumas, Cilacap, Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara) Mak Suster harus aktif, bergerak.

Datang “menjemput bola” agar opa dan oma tetap bisa makan.

Sudah 17 tahun kluyuran

Mak Suster punya prinsip prinsip. Harus sigap datang menjemput bola. Lebih baik keluar tinggalkan biara susteran. Biar sejenak tinggalkan rumah Panti Wreda Catur Nugraha untuk bisa jalan mendatangi satu per satu rumah para donatur. Sembari menyapa ramah anggota masyarakat yang masih punya hati untuk orang lain.

Apa pun bentuknya.

Memang tidak mudah bagi Mak Suster yang jalannya sudah mulai pincang untuk melakukan hal ini. Setiap hari.

Hitung-hitung, ternyata Mak Suster Veronica Iendrawati PMY ini sudah melakoni jalan-jalan kluyuran untuk sebuah tujuan hidup sangat mulia ini selama 17 tahun.

Duduk di mobil menyapa donatur

Mengapa Mak Suster masih tetap setia bertahan?

Mak Suster memiliki jurus 5 M dalam menikmati dan menjalankan tugas kluyuran sebagai bentuk panggilan dewasa ini. Khususnya di tengah pademi Corona 19.

Misi utama kluyuran ini adalah menjaga dan menghargai relasi para donatur. Mereka ini adalah orang-orang yang perhatian dan berpihak kepada karya Panti Wreda Nugraha yang berlokasi di Kaliori, Banyumas.

Bagaimana persis kongkritnya?

“Saya bisa saja menyuruh orang lain atau sopir untuk mengambil makanan atau sumbangan ke rumah-rumah para donatur. Tapi, hal itu tidak saya mau saya lakukan.

Mengapa?

Saya merasa sikap dan tindakan itu tidak menghargai orang yang memberi. Saya ikut dan mendatangi satu persatu sebagai bentuk penghargaan.

Mantap rasanya, bila semua bantuan itu bisa saya ambil sendiri dan bisa berjumpa dengan mereka yang berbuat kebajikan ini.

Selain itu, saya ikut jalan sebagai bentuk solidaritas. Khususnya dengan pak sopir. Apalagi di masa pandemi coronavirus ini.

Jangan sampai ada pikiran negatif. Saya hanya duduk enak-enak tinggal di biara.

Biar bisa menghindari corona lalu mengorbankan pak sopir atau seseorang utusan hanyauntuk ambil sumbangan.

Puji Tuhan selama ini jalan baik dan sehat.”

Demikian kisah Mak Suster Iendrawati PMY ini dengan nada optimis. Benar-benar mantul.

“Hebat, Mak Suster. Memang hal ini tidak mudah, tapi Suster bisa menjalani dengan sukacita. Lalu pengemis elite’itu seperti apa?” tanya Liem Tjay.

Dengan senyum-senyum, Mak Suster menjawab demikian.

“Lha saya hanya duduk di mobil. Mas Okky, pak sopir, yang turun dan mengambil barang yang sudah disiapkan oleh donatur. Saya hanya menyapa dari mobil mengucapkan terimakasih kepada donatur.

Begitu saja yang saya buat.

Saya mendapat banyak barang berupa makanan, bahan mentah, bahkan ada pakaian layak. Apa saja akan saya terima.

Elite ya.

Pengemis elite seperti saya hanya duduk dalam mobil, tapi dapat barang sumbangan untuk para lansia.”

Hidup bahagia penuh sukacita sebagai suster biarawati dalam Kongregasi Suster Puteri Maria Yoseph (PMY). Inilah hari-hari Mak Suster Veronica Iendrawati PMY yang berkarya di Panti Catur Nugraha di Kaliori, Banyumas. (Romo Nico Setiawan OMI)

Jurus “5 M” Mak Suster

Untuk mencapai misi itulah, Mak Suster alias Sr. Veronika Iendrawati PMY menggunakan strategi pastoral “Jurus 5 M”

Apa itu 5 M?

  1. Menghargai.
  2. Mengunjungi.
  3. Menyapa.
  4. Menerima.
  5. Meneguhkan.

Selamat Mak Suster yang beberapa waktu lalu telah mensyukuri 50 tahun hidup membiara sebagai Suster Kongregasi Puteri Maria Yosef (PMY).

“Adakah yang tertarik untuk meneruskan semangat dan penghayatan hidupmu, Mak Suster ini di zaman now?”

Tepian Sungai Serayu, 19 juli 2021

Romo Nico Belawing Setiawan OMI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here