Home BERITA Kongregasi Suster SFD: Hidup Religius Harus Diteruskan

Kongregasi Suster SFD: Hidup Religius Harus Diteruskan

0
124 views
Ilustrasi: Para Suster Novis dalam pembinaan, Latihan Meditasi merenungkan sabda Tuhan. Membersihkan karat Jiwa (Novisiat SFD Yogyakarta)

MEMELIHARA kesatuan hati dalam hidup bersama.

Hidup berkomunitas dalam sejarah para pendahulu Kongregasi Suster Fransiskus Dina (SFD) bukanlah perjalanan yang mudah. Sebaliknya, ia merupakan perjuangan yang terus-menerus, tanpa mengenal lelah, terutama dalam memelihara kesatuan hati di tengah berbagai tantangan, baik lahiriah maupun batiniah.

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbarui dari sehari ke sehari.” (2 Kor 4:16).

Kesatuan hati lahir dari penderitaan bersama

Perjuangan memelihara kesatuan hati tampak nyata ketika para suster terusir dari biara mereka di Leuven akibat Revolusi Perancis. Dalam masa pengungsian di Waalwijk dan Besoyen, mereka hidup dalam kemiskinan yang sangat berat. Bahkan, mereka kekurangan tempat tidur dan selimut di tengah musim dingin yang keras.

Namun, justru dalam situasi sulit itu, kesatuan hati mereka semakin tampak. Mereka saling menghibur dan menguatkan, sehingga tidak seorang pun terlihat larut dalam kesedihan. Kasih persaudaraan membuat mereka merasa tidak berkekurangan

Para suster Novis Tahun Pertama bergabung dengan Kongregasi SFD (Novisiat SFD Yogyakarta)

Ketaatan sebagai pengikat persaudaraan

Sejarah mencatat bahwa ketaatan yang tulus kepada pimpinan menjadi kunci utama dalam menjaga keteraturan dan kedamaian komunitas. Para suster berjanji untuk taat kepada Mère (Bunda) Constance sebagai pemimpin dan ibu rohani.

Ketaatan ini memungkinkan mereka bertumbuh dalam kesempurnaan hidup religius. Dalam peraturan komunitas ditegaskan bahwa setiap perintah pimpinan hendaknya dilaksanakan tanpa membantah, demi menjaga kesatuan gerak komunitas, meskipun secara pribadi mungkin terdapat perbedaan pendapat.

Perjuangan melawan “keinginan sendiri”

Memelihara kesatuan hati menuntut setiap anggota untuk meninggalkan kepentingan pribadi demi kebaikan bersama. Santo Fransiskus Assisi mengingatkan bahwa musuh terbesar dalam hidup komunitas sering kali adalah keinginan diri sendiri.

Mère (Bunda) Constance menjadi teladan nyata dalam hal ini. Ia menunjukkan kasih tanpa membeda-bedakan, terutama kepada mereka yang sakit. Sikap ini menciptakan suasana di mana setiap anggota merasa dihargai dan dipersatukan dalam doa serta kary

Menghadapi perbedaan visi dengan kasih

Kesatuan persaudaraan juga diuji ketika muncul perbedaan visi mengenai arah perkembangan kongregasi. Mère (Bunda) Augustine cenderung mempertahankan prinsip biara tertutup (slot), sementara Mère (Bunda) Marie Joseph merasa terpanggil untuk mengembangkan rumah-rumah cabang baru.

Perbedaan ini sempat menimbulkan ketegangan, namun akhirnya diselesaikan dalam semangat saling menghormati. Meskipun memilih jalan yang berbeda -Dongen sebagai pusat dan Etten/Roosendaal sebagai pengembangan- hubungan kasih dan dukungan antar-komunitas tetap terjaga.

Para suster Profesi Pertama – mereka adalah generasi penerus SFD, karena sudah berani bergabung dengan Kongregasi SFD zaman kini (Novisiat SFD Yogyakarta)

Praktik harian memelihara kesatuan

Kesatuan hati tidak hanya menjadi ideal, tetapi juga dipupuk melalui disiplin hidup harian, antara lain:

  • Makan bersama: Kehadiran tepat waktu di ruang makan menjadi tanda kebersamaan, kecuali bagi yang sakit.
  • Keheningan (silentium): Membantu para suster fokus pada Allah dan menghindari percakapan yang merusak persaudaraan.
  • Doa bersama: Doa Ofisi Ilahi dan meditasi harian menjadi sarana pemurnian batin dan pemersatu komunitas.

Hidup berkomunitas bagi para pendahulu SFD merupakan bentuk pertobatan yang nyata. Mereka membuktikan bahwa persaudaraan sejati tidak berarti tanpa konflik, tetapi terletak pada kesediaan untuk terus berjuang dalam kerendahan hati, ketaatan, dan kasih timbal balik demi kemuliaan Tuhan.

Dari sinilah lahir keyakinan bahwa: “Hidup religius harus diteruskan.”

Refleksi

Perjuangan para pendahulu menjadi inspirasi mendalam bagi penerus masa kini. Satu pesan yang kuat bergema: “Hidup religius harus diteruskan.

Hal ini menuntut keberanian untuk melampaui diri sendiri—mengubah karakter, memperbarui pola pikir, dan memberi kesaksian tentang Tuhan yang memanggil serta memilih kita menjadi pelayan-Nya. Demi persaudaraan, setiap pribadi dipanggil untuk menata hati, meninggalkan kepentingan diri, dan terus berlatih dalam kerendahan hati.

Bahasa yang hidup dalam komunitas adalah bahasa kasih: saling mendukung, berbagi sukacita bahkan di tengah kesulitan. Ketaatan yang dilandasi kasih menghadirkan damai dalam panggilan dan karya.

Pengalaman ini menjadi bagian nyata dalam perjalanan panggilan hidup membiara. Belajar dari para pendahulu yang setia berjuang, tumbuh keyakinan bahwa ketaatan adalah suara Tuhan sendiri, yang memakai diri kita sebagai alat-Nya.

Teladan mereka mengajak pada penyerahan diri total -tanpa tawar-menawar- untuk melakukan yang terbaik, meskipun dalam kenyataan sering jatuh dan bangun. Visi utama tetap satu: melakukan kehendak Allah, melalui hal-hal kecil yang dilakukan dengan cinta yang besar dan tulus.

Terimakasih kepada para suster pendahulu atas warisan rohani yang begitu berharga. Semoga kesetiaan tetap terpelihara, dan kita pun mampu melanjutkan semangat itu, dengan berani berkata: “Hidup religius harus diteruskan.”

Para suster SFD, Kataatan penuh kasih (Generalat SFD Yogyakarta)

Penutup

Selamat merayakan Pesta Jubileum 225 tahun Kongregasi Suster Fransiskus Dina (SFD)
26 Maret 1801 – 26 Maret 2026

Salam Semangat Fraternitas Dina,
Sr. Alfonsa Simbolon SFD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo