Kremasi

0
142 views
Ilustrasi: Persiapan untuk kremasi.

SEORANG teman dikabarkan baru saja meninggal selepas berolahraga, dan direncanakan jenazahnya akan dikremasi.

Salah satu sisi lain, ketika terjadi peristiwa kematian adalah “pemulasaraan jenazah”. Itu bahasa halusnya. Bahasa lugasnya, bagaimana “membereskan” jasad manusia agar tidak mengganggu lingkungan.

Mungkin ada yang sontak marah ketika saya sampaikan bahasa lugasnya, tapi itu kenyataannya. Kalau jasad atau jenazah manusia tidak segera diurus, maka keberadaannya akan dapat mencemari lingkungan’ membahayakan yang hidup.

Maka, fokusnya adalah “demi manusia yang hidup”.

Berbagai opsi

Sebenarnya ada sejumlah alternatif “menyingkirkan” jasad manusia. Di sekitar kita, yang banyak dipraktikkan saat ini adalah dengan penguburan. Tradisi penguburan ini sudah lama. Cara ini relatif sederhana, tinggal gali lubang, jenazah dimasukkan ke dalam lobang, ditimbun tanah.

Tapi tidak menjadi sederhana bila sudah menyangkut lahan, apalagi di zaman modern. Di mana lahan permukaan bumi ini tidak bertambah, tapi jumlah manusia penghuninya beserta kegiatannya membutuhkan lahan yang makin luas. Maka secara tertentu terjadi persaingan antara yang mati dan yang hidup.

Ada juga yang mengambil pendekatan alami, jasad manusia diberikan kepada binatang pemakan jasad (misalnya vulture). Di Tibet, praktik ini disebut ‘sky burial’. Pernah baca, konon di Karbala, entah kapan, praktik memberikan jasad manusia kepada burung pemakan jasad ada juga.

Alternatif lain adalah kremasi. Secara tertentu, sebenarnya ini merupakan teknik yang relatif paling maju, karena membutuhkan sumber daya dan teknologi untuk melakukannya. Minimal dibutuhkan bahan bakar dan cara pembakarannya supaya aman bagi lingkungan.

Konon pula, ada juga penelitian, di mana dimungkinkan dilakukan “kremasi kimia”, yakni jasad dimasukkan ke dalam larutan kimia sehingga larut. Pembakaran sebenarnya juga merupakan suatu proses reaksi kimia, mengoksidasi bahan padat hingga berubah wujud menjadi sisa bakar.

Apa pun metodenya, intinya adalah agar jasad manusia atau sisa kehidupannya ini tidak mencemari lingkungan. Karena jasad bisa mengundang banyak kuman yang berbahaya maupun mencemari air dan tanah di sekitarnya.

Manusia itu bio-machine

Kerap kita begitu asyik berteori yang muluk-muluk tentang manusia, sampai kita lupa bahwa kita ini tidak lebih dari ‘bio machine’, tubuh fisik, dari berbagai unsur alami, yang membentuk kesatuan biologis sehingga berfungsi dan disebut manusia hidup.

Kita berteori tentang aneka hal indah seperti nyawa, roh, atau apa saja, namun praktiknya semua itu hilang ketika tubuh, bio-machine, ini berhenti berfungsi. Dan ketika tubuh berhenti berfungsi, segala teori indah itu juga berhenti. Sisa tubuh ini harus dikembalikan ke unsurnya.

Berbagai atribut yang dulu hebat melekat pada seseorang, entah pangkat, gelar akademis, gelar keagamaan, nama besar, kata bijak dan sebagainya, musnah juga dengan berhenti berfungsinya tubuh fisik itu.

Manusia ada karena raganya. Tanpa raga, dia bukan manusia.

Lantas pilihan metode apa yang dipilih oleh manusia yang hidup untuk mengurus jasad bekas jasad hidup manusia? Itu tergantung pada berbagai pertimbangan.

Pertama, tentu alternatif apa saja yang tersedia baginya, yang bisa dilaksanakan, dan baru preferensi.

Penguburan merupakan alternatif sederhana, tapi dari perspektif lingkungan bisa menjadi bentuk “keegoisan” ketika menjadi tuntutan dan kewajiban, bukan sebagai salah satu alternatif yang bisa diambil.

Umur manusia sekitar 70-80 tahun, dan belum tentu hidupnya baik. Namun ketika mati menuntut dikubur, itu benar-benar “egois”, karena mau menguasai sepetak permukaan bumi yang terbatas selamanya, tidak mau digusur.

Padahal sebenarnya sepetak permukaan bumi itu menjadi hak bagi generasi berikutnya, untuk pemukiman, industri, fasilitas umum, dst.

Alternatif ‘sky burial’ barangkali hanya dipraktikkan di Tibet, karena sebagian orang menyaksikannya dengan rasa ngeri ketika tubuh dipotong-potong oleh para pemuka agama yang bertugas dan kemudian dilemparkan ke para burung pemakan jasad yang menyambutnya dengan lahap.

Sebenarnya, secara lingkungan, ini sangat baik, karena setelah tubuh tidak berfungsi sebagai manusia hidup, tubuh itu masih bisa memberi makan makhluk hidup lain.

Kejam? Sama sekali tidak. Manusia ini sejatinya juga bagian dari alam, cuma tidak mau mengakuinya, bahkan sombong.

Paling modern

Maka, kremasi sebenarnya merupakan alternatif paling maju dan paling efektif untuk menangani jasad manusia, demi kesejahteraan manusia secara umum, bukan demi memuaskan ego.

Tahun 1990, ayah saya sakit keras. Harapan untuk kembali sehat nyaris tipis. Besar kemungkinan akan segera menjelang ajal.

Maka hal terbaik yang bisa kami lakukan adalah mempersiapkan kematiannya agar bisa terjadi dengan baik dan dipulasarai dengan layak dan bermartabat.

Di kampung kami sebenarnya terdapat beberapa makam. Satu makam adat milik kampung, satu makam milik keluarga keraton, satu makam milik pemerintah.

Bahkan rumah kami persis di samping makam adat milik kampung yang sudah cukup penuh, tapi masih sering menampung jenazah baru.

Maka saya tahu persis seperti apa praktik yang terjadi di makam. Kendati sudah cukup penuh, tetap saja makam itu menampung datangnya jenazah baru.

Lantas bagaimana?

Kuburan yang ada sering digali lagi untuk mengubur jenazah baru. Saat membongkar, kerap ditemukan tulang-belulang. Dan biasanya tulang belulang itu hanya disisihkan ke kanan kiri galian.

Kadang tulang itu juga malah digondol anjing, atau kadang tulang hanyut terbawa air hujan bila cukup deras. Kadang tulang itu dimasukkan begitu saja ke galian seadanya.

Singkatnya, menurut saya, sama sekali tidak ada rasa hormat terhadap jenazah sisa tubuh leluhur yang dimakamkan di situ.

Maka, pemakaman bagi ayah saya sama sekali bukan pilihan yang layak. Pada saat sakit keras itu, kami meminta izin agar kelak jenazah beliau dikremasi, dan beliau setuju.

Hingga tiba saatnya beliau wafat. Maka segera kami mengurus ke krematorium, dan kebetulan bisa dilakukan pada hari itu. Malah kami dibantu dengan mobil jenazah. Segala persiapan berjalan lancar.

Gemparlah kampung

Cuma ada satu hal: terjadi kegemparan.

Menjadi kegemparan dan kehebohan di seluruh kampung, karena kami merupakan satu-satunya yang punya ide untuk mengkremasi. Mereka tidak tahu apa itu kremasi, dan ketika kami jawab bahwa mengkremasi adalah membakar jenazah, makin hebohlah seluruh kampung.

Maka, berbondong-bondonglah orang datang melayat. Meskipun secara tertentu ayah saya tokoh terkemuka di kampung, tapi saya yakin mereka datang melayat bukan karena kekaguman terhadap ketokohan ayah saya, melainkan karena rasa ingin tahu, ingin melihat seperti apa “bakar mayat” itu.

Bus yang kami sediakan untuk rombongan ke krematorium hanya satu, namun banyak dari mereka dengan kendaraan sendiri ikut ke krematorium. Barangkali itulah untuk pertama kali dalam hidup mereka tahu bahwa ada krematorium dan untuk apa krematorium itu.

Mereka benar-benar ingin tahu.

Namun mereka kecewa, ketika tahu bahwa ternyata jenazah yang berpeti itu dimasukkan ke dalam oven. Mereka membayangkan bakar jenazah dengan ditaruh di lapangan dan dibakar dengan kayu.

Tapi untunglah krematorium yang ada, meskipun sederhana, sudah menggunakan oven.

Sebenarnya, praktik kremasi aslinya juga dibakar di lapangan, dengan kayu. Dan dulunya para leluhur kita juga mengurus jenazah dengan cara kremasi. Kalau ke Candi Ratu Boko, dapat dijumpai salah satu bagian lahan yang konon dulunya tempat kremasi jenazah.

Mengapa kremasi?

Kenapa kami berani melakukan kremasi?

Karena secara agama (yang tercatat di KTP kami), tidak ada halangan untuk memulasara jenazah dengan cara kremasi. Toh begitu, ada juga yang bertanya, dengan berlagak mengacu pada syahadat iman, “lantas bagaimana dengan kebangkitan badan?’

Memang, di agama seperti di KTP kami, ada syahadat iman yang menyebutkan tentang kebangkitan badan. Kalau dikremasi terus bagaimana kelak?

Saya jawab dengan enteng saja, “kalau kamu percaya Tuhanmu bisa menciptakan dari ketiadaan, apa sulitnya membangkitkan dari ketiadaan?”

Setelah abu jenazah dikumpulkan, dimasukkan ke dalam guci, kami bawa ke rumah. Ibu saya menghendaki agar abu jenazah disimpan di rumah saja.

Ada yang nyeletuk, “kan rumahmu jadi kayak kuburan, menyimpan abu jenazah”.

Tapi kami dengan santai menanggapinya.

Kami jawab saja bahwa ibu merasa nyaman bahwa kehadiran mendiang ayah saya masih bisa lebih dirasakan, meskipun sudah dalam bentuk abu jenazah. Dan toh pada dasarnya rumah kami juga dekat dengan makam.

Apa sih bedanya? Tidak ada bedanya kan?

Columbarium

Dua puluh lima tahun kemudian, ibu saya pun wafat. Maka jenazahnya juga dikremasi. Sebenarnya krematorium sudah menawarkan untuk melarung abu jenazah, sebagai bagian dari paket layanan itu.

Namun keluarga lebih memilih untuk menyewa salah satu kotak columbarium (tempat simpan abu).

Kebetulan di krematorium itu juga disediakan columbarium, sehingga kami sekaligus bisa menitipkan abu jenazah di situ. Dan kami istirahatkan abu jenazah ayah dan ibu kami dalam satu kotak di columbarium itu.

Apa pengalaman kami dengan cara mengurus jenazah dengan kremasi ini?

Sederhana, modern, sangat berwawasan lingkungan, menghargai generasi berikutnya untuk menggunakan bumi ini, dan relatif jauh lebih murah, tidak ribet.

Kremasi merupakan salah satu solusi paling jitu untuk mengurus jenazah.

Marcx 01/12/2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here