Home BERITA Lawatan Paus Leo XIV ke Aljazair dan Afrika Sub-Sahara: Jejak St. Agustinus...

Lawatan Paus Leo XIV ke Aljazair dan Afrika Sub-Sahara: Jejak St. Agustinus dan Seruan Damai

0
108 views
Paus Leo XIV. (Al Jazeera)

INI merupakan sebuah impian sangat lama. Gereja kecil di Aljazair yang bermimpi sekali waktu mendapat kunjungan pastoral seorang Paus akhirnya menjadi kenyataan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang Paus akan menginjakkan kaki di negeri Afrika Utara itu.

Paus Leo XIV dijadwalkan melakukan Perjalanan Apostoliknya ke Aljazair dan tiga negara Afrika Sub-Sahara: Kamerun, Angola, dan Guinea Ekuatorial kurun waktu 13–23 April mendatang.

Pengumuman resmi dari Takhta Suci disambut dengan sukacita oleh empat uskup Aljazair. “Dengan rasa syukur yang mendalam kami menyambut kabar ini,” tulis mereka.

Kunjungan seorang Paus ke negeri yang dalam beberapa tahun terakhir juga melahirkan para martir Kristen bukan sekadar agenda diplomatik, melainkan peristiwa iman yang sarat makna.

Tanah Santo Agustinus dan para martir

Di Aljazair, Paus akan mengunjungi Aljir dan Annaba – kota kuno Hippo, tempat Santo Agustinus dulu pernah melayani sebagai uskup. Sosok besar Gereja ini bukan nama asing bagi Paus Leo XIV. Saat masih menjabat sebagai Pemimpin Umum Ordo Santo Agustinus, ia telah dua kali datang ke Annaba: pada 2001 untuk konferensi teologis, dan pada 2013 untuk peresmian kembali basilika yang telah dipugar.

Tak heran bila dalam penampilan perdananya di balkon Basilika Santo Petrus, ia memperkenalkan diri sebagai “Putera Santo Agustinus” dari Hippo. Spiritualitas dan warisan intelektual uskup Keuskipan Hippo itu akan menjadi jantung kunjungan ini.

Namun Aljazair bukan hanya tentang masa lampau. Negeri ini juga menyimpan kenangan akan 19 martir Katolik yang dibeatifikasi pada 8 Desember 2018 – para saksi iman yang gugur di tengah gejolak kekerasan.

Uskup Keuskupan Agung Aljir, Kardinal Jean-Paul Vesco, bahkan mengingatkan bahwa 8 Mei -hari terpilihnya Paus Leo XIV- bertepatan dengan pesta liturgi para martir Aljazair. “Pada hari itu saya langsung mengundangnya,” ungkapnya.

Tak lama kemudian, undangan resmi dari otoritas negara menyusul.

Motto kunjungan “Damai sejahtera bagi kamu,” adalah kata-kata pertama yang diucapkan Paus Leo XIV kepada umat di Lapangan Santo Petrus. Seruan itu, yang ia sebut sebagai “damai yang tak bersenjata dan melucuti” nantinya akan kembali menggema kuat di tanah yang menjadi titik temu Utara dan Selatan, Barat dan dunia Arab-Muslim.

Gereja Kecil yang diperhatikan

Bagi Uskup Davide Carraro dari Oran, seorang misionaris PIME, kunjungan ini adalah tanda penghiburan. “Ini sukacita dan kehormatan besar bagi kami. Kunjungan ini menunjukkan perhatian Gereja universal kepada Gereja lokal kami yang kecil,” katanya.

Selama dua hari di Aljazair, Paus akan bertemu otoritas negara dan masyarakat di Aljir, lalu menyapa komunitas Kristen di Basilika Notre Dame d’Afrique – salah satu simbol Gereja setempat.

Hari kedua sepenuhnya didedikasikan untuk Annaba-Hippo: perayaan Misa di Basilika Santo Agustinus, kunjungan ke reruntuhan kota kuno Hippo, serta perjumpaan dengan para lansia di panti asuhan yang dikelola para Suster Little Sisters of the Poor.

Menyentuh luka Afrika Sub-Sahara

Dari Aljazair, perjalanan berlanjut ke Afrika Sub-Sahara.

Pada 15 April, Paus terbang ke Yaoundé, Kamerun, lalu mengunjungi Douala dan Bamenda. Nama terakhir ini mencuri perhatian. Sejak 2013, wilayah barat laut Kamerun dilanda konflik berkepanjangan yang menelan ribuan korban jiwa dan menyebabkan hampir setengah juta orang mengungsi.

Keuskupan Agung Bamenda menyebut kunjungan ini memicu antusiasme besar. Diharapkan, Paus akan meneguhkan iman umat Katolik Kamerun, mendorong rekonsiliasi, dan memberi perhatian pada krisis kemanusiaan yang kerap terabaikan.

Dari Kamerun, Paus menuju Angola (18–21 April) dengan agenda di Luanda, Muxima, dan Saurimo. Perjalanan apostolik ditutup di Guinea Ekuatorial (21–23 April), meliputi Malabo, Mongomo, dan Bata.

Damai sebagai benang merah

Di tengah lanskap politik yang kompleks dan sejarah panjang luka sosial di beberapa negara tujuan, kunjungan ini membawa pesan yang sederhana namun mendalam: damai. Damai yang bukan sekadar absennya senjata, melainkan keberanian untuk berdialog, mengampuni, dan membangun kembali.

Bagi Gereja kecil di Aljazair, kunjungan pertama seorang Paus adalah momen bersejarah. Bagi Afrika Sub-Sahara yang bergulat dengan konflik dan ketidakadilan, kehadiran Paus Leo XIV diharapkan menjadi tanda bahwa Gereja universal tidak menutup mata.

Dan di tanah Santo Agustinus -tempat iman, intelektualitas, dan pencarian kebenaran pernah bersemi- seruan “Damai sejahtera bagi kamu” akan kembali menggema, melintasi batas budaya dan agama.

Sumber: AsiaNews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo