Lectio Divina 02.02.2023 – Jiwamu Akan Ditusuk Tombak dan Anakmu Menjadi Perbantahan

0
320 views
Tuhan, biarkanlah hamba-Mu pergi dalam damai sejahtera, by Aert de Gelder, c. 1705

Kamis. Pekan Biasa IV. Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah (P)

  • Mal. 3:1-4 atau Ibr. 2:14-18.
  • Mzm. 24:7,8,9,10.
  • Luk. 2:22-40 (Luk. 2:22-32).

Lectio

22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, 23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah,” 24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, 26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.

27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, 28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:

29 “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, 30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, 31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Meditatio-Exegese

Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku

Tiga pokok keprihatinan Allah terhadap umat diungkapkan Nabi Maleakhi. Para imam di Bait Allah melakukan penyimpangan atas Perjanjian Sinai (Mal. 1:6-2:9). Misalnya, mempersembahkan korban yang tidak layak – binatang rampasan, timpang dan sakit.

Selanjutnya, umat Israel gagal setia pada janji yang mereka ucapkan di hadapan Allah. Bahkan, mereka suka menipu Allah. Maka, Sang nabi mengulang pertanyaan umat, “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?” (Mal. 3:6-12).

Terakhir, Nabi Maleakhi mengingatkan bahwa ketidak setiaan umat pasti berdampak pada pengadilan terakhir, di Hari Tuhan, dies Dominica. Pada saat itu, Allah mengadili manusia.

Saat itu juga Ia datang untuk memulihkan martabat imamat, menjamin keadilan bagi orang benar, sehingga ibadat yang benar dapat ditegakkan kembali (Mal. 3:1-5; 3:13-4:18).

Dalam bahasa Ibrani, kata malachi bermakna utusanku. Nabi Maleakhi dipanggil menjadi nabi terakhir Perjanjian Lama sebelum kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Dan Kitab Nabi Maleakhi menjadi kitab para nabi terakhir sebelum permulaan Perjanjian Baru.

Maleakhi dipanggil menjadi nabi setelah bangsa Yahudi kembali dari pembuangan Babel pada abad ke 6 sebelum Masehi. Kitabnya mungkin disusun setelah pembangunan kembali Bait Allah pada tahun 517/6 sebelum Masehi, tetapi sebelum pembaharuan keagamaan yang dipimpin Nehemia pada tahun 445 sebelum Masehi.

Yehuda mengacu pada umat perjanjian yang berasal dari Kerajaan Selatan, Yehuda, yang kembali dari pembuangan Babel. Di YerusalemBait Allah berdiri. Di situlah seluruh upacara korban dan ibadat dipusatkan.

Ketika Allah datang untuk membaharui perjanjian dan memurnikan imamat, Ia juga akan membaharui korban dan ibadat yang benar, yang menyenangkan hati Allah.

Gereja memandang bahwa nubuat Nabi Maleakhi dipenuhi dalam diri Yesus Kristus. Yesus mengidentifikasi sebagai utusan.

Pertama-tama, utusan tampil sebagai dia yang mempersiapkan jalan bagi-Nya dalam semangat atau roh Elia (Mal. 33:1.23). Dialah Yohanes Pembaptis  (Mat. 11:7-15; 17:10-13; Mrk. 9:11-13; Luk. 7:24-30).

Selanjutnya Yesus mengidentifikasi Diri-Nya sendiri sebagai Yang Diutus  (Mat. 10:40; Mrk. 9:37; Luk. 4:18; Luk. 9:48; 10:16). Terlebih, dalam Injil Yohanes, disingkapkan di banyak tempat bahwa Allah mengutus Anak-Nya, misalnya: Yoh. 3:17; 4:34; 5:24.30.

Yesus tidak hanya Sang Utusan, tetapi Ia juga diimani sebagai “Tuhan yang kamu cari itu” yang “akan masuk ke bait-Nya” (Mal. 3:1a) untuk menyucikan bait dan umat-Nya sebagai persiapan atas kedatangan Kerajaan-Nya (Yoh. 2:13-16). 

Terlebih, Yesus berperan sebagai Sang Pengantara yang menetapkan ‘perjanjian’ (Mal. 3:1b; Mat. 26:28; Mrk. 14:24; Luk. 22:20; 1Kor. 11:25; Ibr. 7:22; 8:6-7, 13; 9:15) dan yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN di altar Salib.

Korban-Nya akan memurnikan dan memulihkan Israel baru, Kerajaan Yesus Kristus yang adalah Gereja (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 877). Ia menetapkan imamat baru untuk mempersembahkan korban-Nya sendiri dan ibadat yang benar dan berkenan kepada Allah, Bapa-Nya (Mal. 3:3-4).

Dan, akhirnya, Ia adalah Hakim yang akan datang pada kedatangan-Nya yang kedua untuk mengadili yang hidup dan yang mati pada hari kiamat (Mal. 3:1c-3; Mat. 16:27; 25:31-46; Yoh. 5:28-30; Kis. 10:42; 13:34-25; 17:30-31; 1Tes. 4:13-5:10; 2Tes. 1:6-10; 2Tim. 4:1; 1Ptr. 4:5; Why. 6:17).

Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah

Keluarga Kudus Nazaret, Yusuf-Maria dan Yesus, yang baru berusia 40 hari, mengunjungi Bait Allah di Yerusalem, 2.400 meter di atas permukaan air muka. Dari Bethlehem mereka menyusuri punggung timur pegunungan Yehuda sepanjang 9,6 kilometer.

Kunjungan Yesus ini memenuhi nubuat Nabi Maleakhi, “Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya.” (Mal. 3:1b). Upacara sunat dan pemberian nama (Luk. 2:21), seperti dilakukan Keluarga Zakharia-Elizabet pada Yohanes, semakin membuktikan bahwa Keluarga Kudus patuh pada ketentuan yang ditetapkan Yahwe dalam Hukum Taurat.

Mengikuti Hukum Tuhan atau Hukum Musa dalam Im. 12:1-41, perempuan bersalin najis selama tujuh hari. Pada hari kedelapan anak laki-laki yang dilahirkannya harus disunat.

Selanjutnya Ibu Maria harus menantikan pentahiran dari darah nifas selama 33 hari lagi. Bila mengikuti ketetapan itu, pada hari ke empat puluh, Yesus dipersembahkan di Bait Allah.

Saat itu para perempuan, termasuk Ibu Maria, mandi di kolam pentahiran, mikvah, lalu mempersembahkan korban bakaran untuk penebusan dosa (Im. 12:6-7). Dan sebagai anak sulung, Yesus dipersembahkan sebagai milik Allah.

Santo Lukas mengutip Hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah” (Luk. 2:23; Kel. 13:2). Ketaatan pada Hukum Tuhan inilah menjadi cara pemenuhan nubuat Malaikat Gabriel bahwa Anak Ibu Maria akan disebut “kudus” (Luk. 1:35).

Walau Keluarga Kudus Nazaret termasuk keluarga melarat, sembah bakti mereka pada Allah tak pernah terhalang. Mereka tetap setia mengikuti Hukum Tuhan dengan mempersembahkan dua ekor burung merpati sebagai korban bakaran, sesuai dengan perturan khusus untuk kaum miskin pada Im. 12:6-8.

Santo Lukas menggunakan ungkapan Hukum Musa, νομον μωσεως, nomon Moseos, sebanyak sembilan kali. Lima kali digunakan dalam bab ini ( Luk. 2:22.23.24.27.39; 10:26; 16:16-17; 24:44).

Dinyatakan oleh Roh Kudus

Simeon dibimbing Roh Kudus, Roh yang juga membimbing Yesus ke gurun (Luk. 4:1), untuk menyambut bayi Yesus. Kehadiran-Nya  ternyata menjadi kesempatan untuk bersuka cita dan memuliakan Allah (Luk. 1:46-55; 2:14.20). Kedatangan Yesus dan orang tua-Nya menjadi tanda pemenuhan janji Allah pada Simeon, nabi yang benar dan saleh (Luk. 2:26).

Serupa dengan Kidung Pujian Maria, Magnificat, Simeon menyingkapkan disposisi batinnya sebagai ‘budak’, δουλον, doulon, dari kata dasar doulos.  Di hadapan Allah ia mengidentifikasi diri sebagai orang yang tidak layak sama sekali.

Dalam strata sosial Yunani-Romawi, budak dianggap dan diperlakukan seperti binatang; bahkan, bisa dijadikan umpan dan makanan binatang buas.

Dalam Kidung Simeon, Benedictus atau Nunc Dimittis, dengan penerangan Roh Kudus, ia menyingkapkan kehadiran Mesias menandakan kehadiran penyelamatan Allah.

Dalam pandangannya, penyelamatan yang terjadi dalam Yesus disediakan bagi segala umat dan bangsa, bukan hanya untuk bangsa Israel dan Ia menjadi Terang bagi bangsa-bangsa lain (Luk. 2:31-32. bdk. Mzm. 98:3; Yes. 42:6; 49:6; 52:10; 60:1-2).

Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri

Simeon memberkati Maria dan Yusuf. Ia juga bernubuat tentang apa yang akan dialami Maria dan Anaknya. Maria tak hanya akan mengalami suka cita, dan “tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.” (Yoh. 16:22).

Tetapi juga ia akan mengenakan mahkota penderitaan, karena ambil bagian dalam derita yang dialami Anaknya.  Anaknya akan menjadi perbantahan dan, akhirnya, dibunuh di kayu salib. Ia minta dari para murid untuk ambil bagian dalam rencana penebusan dengan memanggul salib (bdk.  Mat. 10:38; 16:24; Mrk. 8:34; Luk. 9:23; 14:27).

Bunda Gereja mengajar, “… Yesus mengajak murid-murid-Nya, untuk “memanggul salibnya” dan mengikuti Dia (Mat. 16:24), karena “Kristus pun telah menderita untuk [kita] dan telah meninggalkan teladan bagi [kita], supaya [kita] mengikuti jejak-Nya” (1Ptr. 2:21). Ia ingin mengikutsertakan dalam kurban ini, pada tempat pertama, orang-orang yang menjadi ahli waris-Nya.

Ini berlaku terutama untuk ibu-Nya, yang dalam misteri kesengsaraan-Nya yang menebuskan itu, dibawa masuk lebih dalam daripada setiap manusia yang lain. “Tidak ada satu tangga lain untuk naik ke surga, selain salib” (Rosa dari Lima, Vita).” (Katekismus Gereja Katolik, 618).

Sebagai salah satu “puteri Zion”, Maria akan hidup dan menghayati duka cita seperti siapa pun yang mengharapkan penebusan dari Allah dan berjuang bahu-membahu dengan Yesus. Tusukan pedang di hatinya barangkali merupakan pemenuhan dari nubuat Nabi Yesaya (Yes. 14:7-8) dan Nabi Zakharia (Za. 12:10).

Nubuat Simeon (Luk. 2:35), “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.”, et tuam ipsius animam pertransiet gladius.

Hana berbicara tentang Anak itu

Di samping Nabi Simeon, di Bait Allah hadir juga Nabiah Hana. Ia juga bersuka cita dan memuji Allah atas kedatangan Anak itu. Suka cita dan syukurnya diungkapkan dengan pewartaan tentang kedatangan Sang Mesias. Ia berseru tentang Allah yang datang dan membela manusia, supaya manusia membuka hati untuk dipulihkanNya.

Dan dalam setiap peristiwa, termasuk dalam narasi tentang kelahiran Anak Allah, Ia selalu mengutus, pria dan wanita utama untuk mewartakan karya keselamatan-Nya, misalnya, Zakharia dan Elizabet; Yusuf dan Maria; Simeon dan Hana.

Katekese

Kristus yang kaya menjadi miskin. Origenes dari Alexandria, 185-254 :

“Karena alasan ini, yang nampak mengagumkan bahwa persembahan Ibu Maria bukan korban bakaran yang menjadi pilihan pertama, yakni ‘kambing atau domba berumur satu tahun’, tetapi pilihan kedua, karena ‘ia tidak mampu untuk menyediakan (Im. 5:7) yang pertama.  

Karena tertulis tentang dia, orang tua Yesus datang ‘untuk mempersembahkan korban’ bagi-Nya, ‘menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati’.  Korban ini juga menyingkapkan kebenaran yang tertulis, bahwa Yesus Kristus, “menjadi miskin, sekalipun Ia kaya.” (2Kor. 8:9).

Maka, karena alasan inilah, Ia memilih seorang ibu yang miskin, yang melahirkanNya, dan tanah kelahiran yang miskin, seperti ada tertulis, “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda.” (Mik. 5:2), dan seterusnya.” (Homilies On Leviticus 8.4.3)

Oratio-Missio

Tuhan, Engkaulah harapan dan hidupku. Semoga aku selalu percaya dan bersandar pada-Mu. Penuhilah hatiku dengan suka cita dan kekuatan Roh Kudus, agar aku dengan berani mewartakan kehadiran-Mu yang menyelamatkan dan sabda-Mu yang abadi. Amin.

  • Apa yang perlu kulakukan untuk mempersembahkan hidupku pada Allah?   

Ecce positus est hic in ruinam et resurrectionem multorum in Israel et in signum, cui contradicetur – Lucam 2: 34

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here