Home BERITA Lectio Divina 11.07.2023 – Yesus Menanggung Penyakit dan Kelemahan Manusia

Lectio Divina 11.07.2023 – Yesus Menanggung Penyakit dan Kelemahan Manusia

0
Lectio Divina 11.07.2023 – Yesus menanggung penyakit dan kelemahan manusia.

Selasa. Peringatan Wajib Santo Benediktus (P)

  • Kej. 31:22-32
  • Mzm. 17:1.2-3.6-7.8b.15
  • Mat. 9:32-38

Lectio

32 Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. 33 Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.”

34 Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.” 35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.

36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

37 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. 38 Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Meditatio-Exegese

Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel

Mengatasi rasa takut, Yakub menempuh bahaya untuk kembali ke Kanaan bersama dengan keluarga dan orang-orangnya. Tak tersedia informasi rinci di sebelah mana penyeberangan Sungai Yabok dilakukan.

Penulis suci mengisahkan bagaimana Allah menampakkan diri pada Yakub dalam bentuk manusiawi,  anthropomorphic features. Dalam perjupaan itu Ia juga mengubah Yakub menjadi Israel dan memberkatinya dengan berkat yang juga dilimpahkan untuk seluruh bangsa.

Yakub dilukiskan sebagai pribadi yang kuat dan sulit dikalahkan. Semalaman ia bergulat dengan Pribadi yang tidak dikenalnya hingga menjelang fajar, hingga Pribadi itu mampu memukul pangkal pahanya dan membuatnya terpelecok. 

Saat Pribadi itu hendak meninggalkan Yakub, ia bertanya siapa nama-Nya dan memohon berkat. Namun, Yakub tidak mendapat jawaban. Allah tidak dapat dipaksa dan mengikuti kehendak manusia.

Kisah pergulatan Yakub melawan Pribadi yang tidak dikenalnya memiliki beberapa makna. Nabi Hosea memandang sebagai simbol perlawanan bangsa Israel melawan Allah. Karena suka memberontak melawan-Nya, tiap pribadi dipanggil untuk senantiasa bertobat, berpaling pada-Nya dan menjadi sahabat-Nya (bdk. Hos. 12:4-6).

Pergulatan itu juga melambangkan perjuangan batin dalam berdoa dan menjalin komunikasi dengan Allah. Kitab Kebijaksanaan mengajarkan bahwa kesalehan atau iman lebih kuat dari apa pun (bdk. Keb. 10:12).

Tradisi rohani Gereja mempercayai bahwa pergulatan Yakub melambangkan doa. Doa selalu menuntut perjuangan iman dan kemanangan selalu diraih karena ketabahan (Katekismus Gereja Katolik, 2573; Kej 32:25-31; Luk 18:1-8).

Selaras dengan tradisi rohani Gereja, Santo Ambrosius menulis, “Apa makna bergulat dengan Allah jika tidak berkaitan dengan perjuangan untuk nilai ilahi dan meraih keutamaan tertinggi, yakni menjadi sempurna seperti Allah (bdk. Mat. 5:48)?

Dan karena iman dan sembah baktinya tidak dapat kalahkan, Tuhan menampakkan padanya misteri-misteri suci.” (De Jacob et Vita Beata, 2,7, 30).

Di samping penjelasan tentang nama tempat, Pniel, dan nama orang/bangsa, Israel, penulis suci juga mengisahkan alasan mengapa orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha. Penulis suci menjelaskan kebiasaan dan alasan praktek itu benar.

Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel

Derita rohani, emosi dan fisik sering berlangsung bersamaan. Yesus sangat terbiasa menangani orang yang menderita sakit amat parah – penyakit fisik, emosional, mental, atau rohani. Dan kepadaNya dibawa orang bisu yang kerasukan setan.

Dapat dibayangkan betapa para tetangga, sahabat dan kerabat berusaha keras membantu orang itu untuk sembuh dari beban penyakit ganda: ketidak mampuan untuk bicara/berkomunikasi dengan orang lain dan tekanan jiwa/rohani, yang pada saat itu disebut kerasukan.

Kondisi seperti ini selalu membebani yang tinggal bersama si sakit dan si sakit itu sendiri siang dan malam. Tak jarang, pengalaman buruk ini menyebabkan orang merasa putus asa, kecewa dan ditinggal Allah.

Melihat penderitaan yang demikian hebat, pada saat yang sama, Yesus membebaskan orang itu dari setan yang menyiksanya dan memulihkan kemampuannya untuk berbicara. Orang-orang yang menyaksikan karya-Nya tercengang.

Ketika orang mendekati Yesus dengan penuh harapan iman, Ia akan membebaskan dan memulihkan mereka dari pelbagai penyakit tubuh dan jiwa, beban dosa dan salah yang melumpuhkan, tekanan jiwa yang menyiksa atau ketakutan dan kecemasan yang tak terkendali.

Saat disembuhkan banyak orang berucap, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Ini sungguh karya Allah.

Namun, sekelompok orang yang mengaku cerdik pandai, kaum Farisi, menuduh-Nya bertindak atas nama setan. Mereka tidak percaya, karena tidak mengakui Yesus sebagai Mesias, Sang Juruselamat. Karena tidak mampu melihat tanda-tanda Yesus sebagai Dia yang diurapi Allah.

 Mereka lupa akan nubuat Nabi Yesaya (bdk. Yes 35:5-6; 61:1; Mat 11:5), “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”, caeci vident et claudi ambulant, leprosi mundantur et surdi audiunt et mortui resurgunt et pauperes evangelizantur.

Karya Yesus untuk menolong mereka yang menderita diteruskan oleh Gereja-Nya. Konsili Vatikan II mengajarkan, “Sesungguhnya cinta kasih kristiani ditujukan kepada semua orang tanpa membeda-bedakan suku-bangsa, keadaan sosial atau agama. Cinta kasih tidak mengharapkan keuntungan atau ungkapan terima kasih.

Sebab seperti Allah telah mengasihi kita dengan cinta yang suka rela, begitu pula hendaknya kaum beriman dengan kasih mereka memperhatikan sepenuhnya manusia sendiri, dalam gerak yang sama seperti Allah mencari manusia.

Maka seperti Kristus berkeliling ke semua kota dan desa sambil melenyapkan segala penyakit dan kelemahan sebagai tanda kedatangan kerajaan Allah (lih. Mat. 9:35 dsl; Kis. 10:38), begitu juga Gereja melalui para puteranya berhubungan dengan orang-orang dalam keadaan mana pun juga,

Tetapi terutama dengan mereka yang miskin dan tertimpa kemalangan, dan dengan sukarela mengorbankan diri untuk mereka (lih. 2Kor. 12:15).” (Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja, Ad Gentes, 12).

Tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan

Santo Matius menggunakan kata Yunani εσπλαγχνισθη, esplagchnisthe, dari kata dasar, splagchnizomai, merasa kasihan, berbela rasa, tergerak hati.

Dalam versi Latin, Vulgata, diungkapkan misertus est eis. Di dalam hati, inti hidup manusia, termasuk Yesus, tempat pertemuan antara Allah dan manusia, yang ada adalah perasaan bela rasa, turut menanggung derita, miser

Dengan kata lain,  Ia tergerak hati-Nya, berbela rasa dan merasa kasihan pada orang banyak, karena mereka seperti kawanan domba tanpa gembala; tiada seorang pun yang memperhatikan kawanan itu. Maka, Yesus bertindak sebagai gembala bagi mereka (Yoh 10:11-14).

Sedangkan Santo Matius memandang tindakan Yesus sebagai pemenuhan atas nubuat tentang Hamba Yahwe, yang “memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat 8:17; bdk. Yes 53:4).

Kepada mereka Yesus selalu menyapa agar “dapat memberi semangat kepada orang yang letih lesu” (Yes. 50:4). Hatinya juga tergerak oleh belas kasih, ketika Ia memberi makan beribu orang (Mat. 15:32).

Yesus juga mengundang setiap pribadi, para murid-Nya untuk ambil bagian dalam karya penyelamatan-Nya. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat. 9:37-38).

Katekese

Kemerdekaan dan Penyembuhan dalam Kristus. Santo Hilarius dari Poitiers, 315-367:

“Dalam diri orang tuli dan bisu yang kerasukan setan muncullah kebutuhan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi kesembuhan menyeluruh. Dikepung oleh kemalangan dari segala penjuru, kebutuhan mereka dikaitkan dengan semua jenis kelemahan tubuh.

Dalam hal penyembuhan, urutan proses harus diikuti dengan teliti. Iblis pertama-tama diusir; kemudian diikuti proses penyembuhan bagian tubuh lain.

Melalui penghapusan atas kebodohan karena takhayul dan paham keliru dengan iman akan Tuhan, penglihatan dan pendengaran serta kata penyembuhan diucapkan. Menyaksikan tanda heran yang dibuat Yesus, orang banyak itu sangat kagum, seru mereka, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel”.

Sesungguhnya, orang yang tidak dapat ditolong oleh hukum Taurat itu disembuhkan oleh kuasa Sang Sabda, dan orang yang tuli dan bisu itu melambungkan puji-pujian bagi Allah.

Pembebasan telah diberikan kepada bangsa asing. Semua kota dan semua desa diterangi oleh kuasa dan kehadiran Kristus, dan semua orang dibebaskan dari gejala kesukaran abadi.” (On Matthew 9.10)

Oratio-Missio

Tuhan, semoga Kerajaan datang untuk semua orang yang ditindas dan dalam gelap. Bantulah aku untuk giat bekerja untuk mereka yang menderita, membutuhkan perhatian, pengampunan dan kasih. Amin. 

  • Apa yang harus kulakukan untuk bekerja dengan sungguh dalam karya pelayanan yang dipercayakan padaKu?

Videns autem turbas, misertus est eis, quia erant vexati et iacentes sicut oves non habentes pastorem – Matthaeum 9:36

Kej. 32:22-32

22 Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok.

23 Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya.

24  Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.

25 Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.

26 Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.”

27 Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.”

28 Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”

29 Bertanyalah Yakub: “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ.

30 Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!”

31 Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya.

32 Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya.

32:31. After the explanation of the meaning of the name of the place (Penuel) and the name of the person or people (Israel), we are now told about the origin of a dietary law. The hagiographer uses this tradition to confirm the truthfulness of the foregoing account, offering a proof taken from the customs of the people and also providing an explanation for that custom. Although this use of groundless folk explanation is a common device, it does not take from the point the writer is making: he wants to show that what he is teaching is true.

Along these lines St Ambrose writes: “What does fighting with God mean if not  engaging in the combat of virtue and aspiring to the highest, making oneself, above all, an imitator of God? And because his faith and his devotion could not be overpowered, the Lord revealed to him the secret mysteries” (”

Allah memperbaharui janji-Nya terhadap Yakub, nenek moyang dua belas suku Israel  Bdk. Kej 28:10-22. Sebelum Yakub menghadapi saudaranya Esau, semalam suntuk ia harus bergulat dengan seorang pria penuh rahasia. Orang ini menolak menyebut namanya, tetapi ia memberkati Yakub sebelum meninggalkannya di fajar pagi. Tradisi rohani Gereja melihat di dalamnya satu lambang doa, sejauh doa itu adalah satu perjuangan iman dan satu kemenangan karena ketabahan

Bdk. The struggle depicted here can also be taken in a spiritual sense, as standing for the interior struggle and the efficacy of prayer, which overpowers even God (cf. Wis 10:12). “From this account, the spiritual tradition of the Church has retained the symbol of prayer as a battle of faith and as the triumph of perseverance (cf. Gen 32:25-31; Lk 18:1-8)” (”Catechism of the Catholic Church”).

32:22-29. In spite of the danger and even though he feels afraid, Jacob takes an important decision on his journey towards the land of Canaan—to cross the river, bringing his nearest and dearest with him. From the text we do not know which side of the river Jacob himself was on after that decision, but he was clearly alone when God mysteriously came out to meet him and transformed him. The account tells us that God revealed himself to Jacob and made him Israel and gave him a blessing which extended to all his people. The concept of God in this passage has clearly. Jacob’s strength is highlighted: God fails to defeat him in this struggle and he dislocates his thigh. This fact and the fact that God wants to leave before daybreak allow Jacob to recognize God in the person he is wrestling; taking advantage of his strength and the time constraint, he asks for a blessing. First, however, Jacob has to identify himself; then God changes his name: now he is Israel.

In the context of the narrative the sacred writer explains what the name Israel means—”he who has striven with God”. This shows one of the key features of the personality of the father of the chosen people—his struggle to hold on to God, trying to discover his name and obtain his blessing. This is also a defining feature of the religious nature of the people of God. We discover the significance of  Jacob’s attempt to discover the name of his “rival”, and all that that implied as regards having some power over him. But God does not identify himself. He remains shrouded in mystery, yet he does give Jacob his blessing. This will also be a feature which should define Israel—the continuous search for the name of God, that is, for his innermost Being and his Mystery, yet realizing that God can never be encompassed within the meaning of any name.

The features whereby the patriarch Jacob-Israel is described also apply to the people that bears his name. The prophet Hosea will apply this episode to the way Israel resists God over the course of its history (Hos 12:4-6). This aspect can also be seen in the patriarch’s life: in spite of his resistance, God advances his salvific plans for his people through him and through his life. We can see this in what Hosea has to say about the people of Israel and about Jacob himself.

The mysterious nature of the one who wrestles with Jacob has been interpreted in many different ways in Christian tradition. Some Fathers, such as St Jerome and St Augustine, were of the view that he was a good angel, given that that was how God most often revealed himself in the Old Testament. Origen, however, thought that he was a bad angel, the demon. Others, such as St Justin and St  Ambrose, suggested that he was the Son of God, the Word, who would later become man; or an angel who prefigured Christ.

The struggle depicted here can also be taken in a spiritual sense, as standing for the interior struggle and the efficacy of prayer, which overpowers even God (cf. Wis 10:12).

“From this account, the spiritual tradition of the Church has retained the symbol of prayer as a battle of faith and as the triumph of perseverance (cf. Gen 32:25-31; Lk 18:1-8)” (”Catechism of the Catholic Church”, 2573).

Along these lines St Ambrose writes: “What does fighting with God mean if not  engaging in the combat of virtue and aspiring to the highest, making oneself, above all, an imitator of God? And because his faith and his devotion could not be overpowered, the Lord revealed to him the secret mysteries” (”De Jacob et
Vita Beata”, 2,7, 30).

32:31. After the explanation of the meaning of the name of the place (Penuel) and the name of the person or people (Israel), we are now told about the origin of a dietary law. The hagiographer uses this tradition to confirm the truthfulness of the foregoing account, offering a proof taken from the customs of the people and also providing an explanation for that custom. Although this use of groundless folk explanation is a common device, it does not take from the point the writer is making: he wants to show that what he is teaching is true.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version