Lectio Divina 12.04.2021 – Harus Dilahirkan Kembali

0
169 views
Yesus mengajar Nikodemus by Crijn Hendricksz. Volmarijn (circa 1601–1645).

Senin. Pekan Paskah II (P).

  • Kis.4:23-31.
  • Mzm.2:1-3.4-6.7-9.
  • Yoh.3:1-8.

Lectio

1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 2  Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”

3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” 4 Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”

5 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.

7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” 

Meditatio-Exegese

Mereka memberitakan firman Allah dengan berani

Tantangan yang dihadapi jemaat yang dibina Santo Lukas tidak mudah. Mereka menghadapi saat-saat getir karena pengejaran, penangkapan, pemenjaraan, penyiksaan, dan bahkan, pembunuhan keji oleh kekaisaran Romawi.

Pewartaan tentang Yesus Kristus dilarang. Maka, Santo Lukas mengingatkan tentang kisah yang dialami oleh generasi pertama murid Tuhan ketika mereka dihambat, diseret ke pengadilan agama dan beradu alasan dengan berani di muka Sanhedrin.

Sekembali dari penahanan dan pengadilan Sanhedrin, Petrus dan Yohanes berkumpul dengan komunitas Gereja. Mereka berdoa bersama memohon keberanian untuk bersaksi dengan penuh keberanian, walaupun mereka sedang dikejar-kejar, diancam dengan pemenjaraan, bahkan, pembunuhan.

Dalam doa mereka, yang bisa menjadi model doa jemaat sepanjang jaman, mereka mendaraskan dan mendapatkan kekuatan seperti yang diperoleh pemazmur. Inspirasi itu mereka timba dari Mazmur 2, yang diyakini terpenuhi dalam diri Tuhan, Yesus Kristus.

Mazmur itu dimulai dengan ketidak pahaman akan alasan para pemimpin dunia menyusun rencana melawan Allah dan Dia, Yang Diurapi. Yesus sendiri mengalami penentangan. Para Rasul juga mengikuti pengalaman Sang Guru.

Dan Gereja juga mengalami penentangan tak kunjung henti sepanjang sejarah.

Ketika mendengar seruan dari mereka yang berkehendak jahat, “Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!” (Mzm. 2:3), kita harus percaya kepada Allah, karena, Allah “… mengolok-olok mereka … berkatalah Ia kepada mereka dalam murka-Nya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-Nya” (Mzm. 2:4-5).

Dengan cara inilah kita mampu menjadi alat-Nya untuk menggemakan sabda-Nya bagi setiap orang. “Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar… Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!” (Mzm. 2: 10-12).

Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah

Nikodemus  berkehendak menjumpai Yesus, setelah mendengar ajaran dan tanda, semeion yang dikerjakanNya menarik hati banyak orang. Maka sebagai anggota Sanhedrin, guru Israel (Yoh. 3:10), ia hendak bertemu secara diam-diam.

Sebagai anggota golongan Farisi, ia pasti mengikuti seluruh hukum Musa dan ajaran para nabi. Ia juga menguasai dengan mahir hukum-hukum yang diturunkan dari Kitab Suci dan ditulis dalam Mishnah dan Talmud.

Nikodemus perlu waspada dan menghindari pengakuan terang-terang bahwa ia tertarik pada Orang Nazaret itu. Ia memutuskan untuk menjumpai Yesus di malam hari secara rahasia.

Ia  memilih waktu malam bukan tanpa alasan. Saat malam tidak ada pengawasan.  Di saat inilah kaum Farisi belajar tentang dan mengajarkan hukum Musa, setelah cukup beristirahat dari kerja selama siang hari. Pasti, diperbincangkan penentangan dan tuduhan pada Yesus sebagai pelanggar hukum Sabat.

Saat bertemu dengan Yesus, ia memanggil-Nya sebagai  Rabi. Ia mengakui Yesus sebagai guru yang mengajarkan hukum Tuhan. Maka, ia mengakui bahwa ajaran Yesus berasal dari Allah.

Dengan penuh kewibawaan Yesus berbicara tentang keadaan baru yang dialami manusia. Manusia tidak lagi berbicara tentang  asal usul dari darah atau daging, melainkan dari Allah (bdk. Yoh. 1:13). Manusia perlu dilahirkan kembali melalui melalui air, karya Roh Kudus.

Tuhan bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” (Yoh. 3:5-6).

Sabda Tuhan menjadi landasan bahwa Ia menetapkan baptisan dengan Roh Kudus. Maka Ia menggenapi nubuat Yohanes Pembaptis (bdk Mat. 3:11; Yoh. 1:33). Melalui pembaptisan ini manusia mengalami hidup baru. Ia menjalin relasi dengan Allah sebagai putera-puteri angkat-Nya (Rm. 6:4; 8:10-11).

Kelahiran baru ini terjadi saat seseorang dibaptis dalam Kristus dan menerima anugerah Roh Kudus. Pembaptisan dan penerimaan Roh Kudus membaharui hidup manusia.

Hidup baru ini menuntun manusia memasuki Kerajaan-Nya, yaitu Kerajaan kebenaran, damai sejahtera dan suka cita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17).

Santo Augustinus dari Hippo menulis, “Nikodemus belum mengalami suka cita dalam Roh dan hidup… Ia hanya tahu tentang kelahiran dari Adam dan Hawa.

Kelahiran yang berasal dari Allah dan Gereja belum dikenalnya. Ia hanya tahu anak turun yang mengancam hidup…

Benar terdapat dua macam kelahiran. Nikodemus hanya tahu satu. Kelahiran dari dunia, yang lain dari Surga. Kelahiran dari daging, yang lain dari Roh.Kelahiran yang membawa kematian, yang lain membawa keabadian. Kelahiran dari laki-laki dan perempuan, yang lain dari Allah dan Gereja.

Tetapi dari keduanya keduanya, masing-masing berperan sendiri-sendiri. Masing-masing tidak bisa diulang.” (dikutip dari In Ioannis Evangelio, 11, 6).

Katekese

Tanda-tanda Allah mendukung karya marid Kristus. Santo Yohanes Chrysostomus, wafat pada 14 September 407 pada usia 58:

“Allahlah yang berkarya dalam diri para rasul untuk menanamkan dalam jiwa mereka rasa takut akan Allah, menguatkan mereka menghadapi ancaman para wakil rakyat dan imam, dan menghembuskan keberanian untuk mewartakan Injil. 

Gereja baru saja mulai dan perlu didikung dengan perwartaan akan karya mujizat, untuk menarik hati banyak orang. Karya ini diperlukan pada saat itu, bukan di kemudian hari… 

Ketika bumi bergoncang, sering menjadi tanda bahwa Surga murka,  merestui dan menyelenggarakan. Pada saat Tuhan kita wafat, bumi bergoncang karena menentang kematian Sang Penciptanya…

Tetapi goncangan bumi di tempat para rasul berkumpul bersama merupakan tanda kebaikan hati Allah, karena mereka semua penuh dengan Roh Kudus.” (dikutip dari Homilies on Acts, 11).

Oratio-Missio

  • Tuhan, Engkau telah menganugerahiku hidup baru sebagai putera dan puteri Bapa di surga. Baharuilah imanku dan ketaatankun padaMu, agar aku selalu setia mewartakan InjilMu tanpa takut. Amin.  
  • Apa yang perlu kulakukan untuk melakukan janji baptisku?

Nisi quis natus fuerit ex aqua et Spiritu, non potest introire in regnum Dei – Ioannem 3:5   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here