Home BERITA Lectio Divina 16.7.2026 – Datanglah Kepada-Ku

Lectio Divina 16.7.2026 – Datanglah Kepada-Ku

0
61 views
Ia mengundang semua orang, by Amy Jones

Kamis. Minggu Biasa XV, Santa Perawan Maria dr Gunung Karmel (H) 

  • Yes. 26:7-9.12.16-19
  • Mzm. 102:13-14ab.15.l6-18.19-21
  • Mat. 11:28-30

AC Eko Wahyono

Lectio

28 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Meditatio-Exegese

Embun Tuhan ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali

Setelah bernubuat tentang akhir zaman dan menutupnya dengan nubuat tentang keselamatan Israel, Nabi Yesaya mengikuti jejak orang benar memasuki keheningan Allah. Dalam doanya, nabi mengungkapkan kerinduannya untuk dekat dengan Allah, “… kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu dan mengingat Engkau.” (Yes. 26:8).

Dalam doa yang berbentuk madah agung, sang nabi merindukan dan merayakan dengan sukacita akan kota keselamatan. Kota itu didirikan kokoh dan mulia, karena Allah meletakkan pondasi-pondasinya, membentenginya dengan kuat dan menjadikan kota itu tempat kediaman yang aman dan damai (bdk. Yes. 26:1).

Kini Allah membuka pintu-pintu gerbang untuk menyambut umat-Nya, orang-orang benar yang setia dan selalu mengikuti jalan lurus yang dirintis-Nya (Yes. 26:2.7). Umat-Nya yang setia seolah-olah mengulangi madah pemazmur, “Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada Tuhan. Inilah pintu gerbang Tuhan, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya.” (Mzm. 118:19-20).

Ketika memuji dan memuliakan Allah, sang nabi tidak menyapa Allah sebagai orang ketiga, tetapi ia bercakap-cakap langsung dengan-Nya, aku dan Engkau. Kepada-Nya ia mengungkapkan bahwa ia percaya kepada-Nya (Yes. 26:7-8); ia selalu merindukan-Nyan seperti rusa yang merindukan air dalam Mazmur (Yes. 26:9a; bdk. Mzm. 42).

Ia juga memohon agar Allah berkenan menyatakan kebenaran-Nya dan menuntun setiap manusia dari segala zaman untuk belajar melakukan kebenaran untuk dirinya sendiri, sesama dan alam ciptaan-Nya. “Apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar.” (Yes. 26:9:b-10).

Penghakiman Allah akan menerangi apa yang benar-benar baik, benar dan adil. Setiap orang yang mengikuti jalan lurus yang dirintis-Nya pun menerima penghakiman dan keputusan-Nya.

Orang-orang benar tidak mengalami ketakutan ketika berjumpa dengan Allah. Perbuatan baik akan mendapatkan ganjaran; sedangkan perbuatan jahat akan mendatangkan akibat atau penghukuman. Apapun yang terjadi pada orang benar, mereka dianugerahi damai sejahtera (Yes. 26:12).

Santo Paus Yohanes Paulus II mengajar, “Allah menawarkan kepada umat beriman karunia damai sejahtera (bdk. Yes. 26:12), karunia mesianik yang paling utama: hidup dalam keadilan, kemerdekaan dan sukacita dalam persekutuan. Nabi Yesaya sungguh-sungguh memohon karuna ini dalam doanya, “Ya Tuhan, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami.” (Yes. 26:12).

Para Bapa Gereja menarus perhatian sangat besar pada ayat ini: dalam janji akan damai sejahtera itu, mereka mendengarkan sabda Kristus yang akan bergema berabad-abad kemudia, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” (Yoh. 14:27). …

Dalam memberikan damai sejahtera, Yesus menganugerahkan pula Roh-Nya kepada kita. Sebab itu, Ia tidak meninggalkan kita sebagai yatim piatu, tetapi melalui Roh-Nya, Ia tetap bersama kita.” (Audiensi Umum, Lapangan Santo Petrus, 2 Oktober 2002)

Namun, untuk tetap setia mengikuti jalan lurus yang dirintis Allah, tiap pribadi akan mengalami kesusahan, kesukaran, bahkan derita dan mempertaruhkan nyawa, seperti seorang perempuan yang akan melahirkan  dan membawa semua itu dalam doa (Yes. 26:16-18). Sapa nabi pada Allah, “Ya Tuhan, dalam kesesakan mereka mencari Engkau; ketika hajaran-Mu menimpa mereka, mereka mengeluh dalam doa.” (Yes 26:16).

Maka, dalam hidup komunitas gerejani, setiap pribadi dipanggil untuk saling tolong menolong dalam segala sesuatu: untung dan malang, suka dan duka, pengharapan dan kekhawatiran, seperti diingatkan Santo Paulus (Gal. 6: 2). Melalui cara itulah tiap pribadi melaksanakan hukum-Nya dan dengan mengasihi masing-masing menemukan damai sejahtera dalam tiap pengaman hidup. 

Nabi Yesaya juga menyibak secercah harapan akan kebangkitan seluruh bangsa manusia dari kematian, setelah Allah mengalahkan maut (Yes. 26:19; 25:8). Nabi Yehezkiel pun dianugerahi penglihatan bahwa tulang belulang akan dipulihkan untuk hidup kembali (bdk. Yeh. 37:1-14); terlebih, Nabi Daniel menubuatkan kebangkitan seluruh umat manusia dari kematian (Dan. 12:1-3).

Namun untuk menerima anugerah kebangkitan, setiap pribadi bertindak setia dan berpaut pada Allah; ia menjadi embun yang menghidupi tanaman dan hewan dan terang yang memancarkan kebaikan Allah.

Doa Nabi Yesaya (Yes. 26:19), “Sebab embun Tuhan ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali.”, quia ros lucis ros tuus, et terra defunctos suos edet in lucem.

Pikullah kuk yang Kupasang

Agama Yahudi menggunakan gambaran kuk untuk mengungkapkan sikap batin yang menyerahkan diri kepada Allah. Kuk berupa kuk Hukum Taurat, kuk sepuluh perintah Allah, kuk Kerajaan Allah dan kuk Allah.

Yesus bersabda, “Kuk yang kupasang itu enak”. Ungkapan Yunani yang digunakan : χρηστος, chrestos, ringan, sesuai.

Kuk dipasang di leher dua ekor sapi, agar dapat berjalan beriringan ketika menarik kereta atau membajak. Yesus mengundang masing-masing murid-Nya untuk dipasangi kuk dengan-Nya. Ia mengundang untuk menyatukan hidup, kehendak dan hati dengan diri-Nya.

Menyatukan diri dengan Yesus selalu bermakna menjalin relasi kasih, kepercayaan dan ketaatan padaNya. Ia bersabda (Mat. 11:29), “Pikullah kuk yang Kupasang.”, Tollite iugum meum super vos.  

Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati

Dalam lintasan sejarah, ungkapan ini sering disalah gunakan. Orang yang lemah lembut dan rendah hati disamakan dengan orang dipaksa menyerah pada keadaan, bermentalitas lembek dan pasif.

Sebaliknya, Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk tidak mendengarkan mereka yang ‘bijak’ dan ‘pandai’.  Ia tidak suka dengan sikap dan cara hidup kaum Farisi dan ahli Taurat, karena mereka menggunakan pengetahuan tentang Kitab Suci untuk mengeksploitasi yang kecil, lemah, miskin dan difabel. 

Maka, Ia mengajak para murid belajar dari pada-Nya, yang datang dari Nazaret. SabdaNya (Mat. 11:29), “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” , discite a me, quia mitis sum et humilis corde, et invenietis requiem animabus vestris.

Yesus menawarkan kerajaan baru, kerajaan kebenaran, damai sejahtera dan suka cita. Dalam kerajaan-Nya dosa tidak hanya diampuni, tetapi juga dihancurkan. Hidup abadi dianugerahkan kepada para warga kerajaan-Nya.

KerajaanNya adalah kerajaan rohani. Dan hanya Yesus mampu menghancurkan beban dosa. Ia juga membuka harapan baru.

Ia menggunakan perumpamaan sebuah kuk untuk menjelaskan bagaimana Ia dan tiap murid-Nya dapat bertukar beban dosa dan keputus-asaan. Kuk yang ditawarkan Yesus untuk dipasang merupakan undangan agar tiap murid-Nya memeluk kasih, rahmat dan kemerdekaan dari kuasa dosa.

Kuk yang dipasang-Nya bukan kuk tunggal, tetapi kuk ganda. Satu lobang untuk tiap murid-Nya dan lobang yang lain untuk Diri-Nya sendiri. Maka, Yesus mau menyatukan Diri-Nya pada tiap pribadi murid-Nya.

Terlebih, kuk yang ditawarkan-Nya pasti akan menghantar pada kemuliaan dan kemenangan.

Katekese

Mari kita memanggul kuk. Santo Yohanes Chrysostomus, 347-407:

“Kita tahu bahwa kuk yang dipasang enak dan ringan, juga disingkapkan dengan banyak cara. Maka, jika engkau suka, mari kita perhatikan beban dosa.

Mari kita perlihatkan orang yang tamak, perantara dan makelar yang bekerja dalam perdagangan yang penuh tipuan. Apa yang tidak menyebabkan jual-beli menjadi lebih mahal?

Betapa banyak kesedihan, kecemasan, rasa putus asa, bahaya, permufakatan jahat dan perang, yang tiap hari timbul dari perdagangan ini?

Berapa banyak kesulitan dan gangguan yang timbul? Karena seperti orang yang tidak pernah melihat laut tanpa ombak, demikian juga jiwa tanpa kecemasan, putus asa, ketakutan dan gangguan.

Benar, yang kedua mengambil alih yang pertama, dan yang lain muncul; dan ketika yang satu tidak dihentikan, yang lain pasti timbul.

 Atau perhatikan jiwa para pengecam, dan yang berbela-rasa? Mengapa? Apa yang lebih parah daripada siksaan ini? Apa yang melukai lebih dalam? Apa yang semakin mengobarkan nyala api yang tak pernah padam?

Atau perhatikan orang yang mengumbar nafsu badani, dan yang serupa dengan yang dipisahkan dari hidup sekarang ini? Mengapa? Apa yang lebih berbahaya dari perbudakan ini?

Mereka menghayati cara hidup Kain, dengan tinggal di tengah kegentaran dan ketakutan atas maut yang selalu mengancam; dan kerabat orang yang mati meratap, seolah-olah mereka sendiri yang hendak mati.

Kekacauan apa lagi yang lebih hebat dan lebih mengerikan dari pada apa yang ditunjukkan oleh kesombongan? Karena, sabda-Nya, ”Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Karena penderitaan panjang merupakan induk segala hal yang baik.

Maka, janganlah engkau takut pada apapun, atau mulai menjauh dari kuk yang meringankanmu dari segala keburukan. Tetapi kuk itu menempatkanmu di tempat yang tepat, dan kemudian kamu akan tahu dengan baik suka cita yang menyusul.

Kuk itu tidak akan melukai lehermu, tetapi diletakkan di situ hanya demi kebaikanmu. Dan dimaksudkan untuk mendorongmu berjalan dengan tenang, dan mengantarmu ke arah jalan raya, dan membebaskanmu dari bahaya yang mengancam dari sisi jalan yang lain.

Dan, kuk itu membantumu berjalan dengan nyaman di jalan yang sempit. Karena begitu besar keuntungan yang didapat, begitu besar jaminan keselamatan dan suka cita yang didapat, marilah kita dengan segenap jiwa dan ketekunan memanggul kuk.

Agar kita di sini memperoleh tempat istirahat yang nyaman bagi jiwa kita; dan memperoleh kebaikan hatiNya yang akan datang, karena karunia dan kasih yang dilimpahkan pada manusia dari Tuhan kita Yesus Kristus, yang dimuliakan, sekarang dan selamanya. Amin.”  (Homily on Matthew, 38).

Oratio-Missio

Tuhan, bantulah aku untuk menggubah kuk pemberontakan menjadi kuk ketaatan pada kehendakMu. Bebaskanlah aku dari kebodohanku karena tidak mengenali dosaku. Kuatkanlah niatku untuk selalu menghendaki apa yang baik dan bekenan kepada-Mu. Amin.

  • Apa yang seharusnya aku lakukukan agar sehati dan sejiwa dengan Yesus?

Tollite iugum meum super vos et discite a me, quia mitis sum et humilis corde, et invenietis requiem animabus vestris – Matthaeum 11:29

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo