Lectio Divina 17.10. 2020 – Bagaimana Mungkin Aku Menghujat Rajaku?

0
208 views
Ilustrasi -Yesus diadili. (Ist)

Sabtu. Peringatan Wajib Santo Ignatius dari Antiokia (M).

  • Ef.1:15-23
  • Mzm 8:2-3a.4-7
  • Luk 12:8-12

    Lectio

8 Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. 9 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. 10 Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.

11 Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. 12 Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.”  

Meditatio-Exegese

Setiap orang yang mengakui atau menyangkal Aku

Yesus masih mendidik para murid secara khusus. Ia menyampaikan bahwa setiap orang yang dipanggil-Nya harus bersedia menjadi saksiNya.

Menjadi saksi Yesus bukan sekedar dengan kata-kata, kendati kata-kata itu pun juga penting, ketika harus memberi alasan mengapa tetap berpegang pada iman akan Yesus. Menjadi saksi berarti juga panggilan untuk menyerahkan nyawa bagi Dia.

Santo Lukas menggunakan kata ομολογηση, homologese, dari kata kerja homologeo, mengakui (Luk 12: 8). Kata itu diperlawankan dengan kata αρνησαμενος, arnesamenos, dari kata kerja arneomai: menyangkal, mengingkari, menolak.

Barang siapa menyangkal-Nya akan disangkal juga oleh para malaikat-Nya. Tetapi yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Kristus (Kis 2:36) dan tidak berpaling dari pada-Nya akan diakui oleh para malaikat di sorga.

Sabda-Nya (Luk. 12:8), “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah.”, Omnis, quicumque confessus fuerit in me coram hominibus, et Filius hominis confitebitur in illo coram angelis Dei.

Tahun 155, Santo Polycarpus, Uskup Smyrna, di wilayah Turki sekarang, menjawab, “Selama delapan puluh enam tahun aku telah melayani-Nya; dan Ia tidak pernah melakukan kesalahan senoda pun padaku. Maka, bagaimana mungkin aku menghujah Rajaku, yang telah menyelamatkan aku?”

Demikian Santo Polycarpus, dihadapkan pada pemimpin konsul Kemaharajaan Romawi, yang berkata, “Aku bersumpah akan melepaskan kamu; asalkan: ingkarilah Kristus!”  

Jalan untuk menjadi saksi tidak hanya melalui pencurahan darah. Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus mengajarkan Jalan Kecil untuk menuju kesucian hidup. Dan Ibu Teresa dari Kalkuta, yang dikanosisasi tanggal 4 September 2016 mengajarkan Jalan Sederhana untuk mencapai kekudusan hidup.

Bersaksi berarti hidup seturut dengan sabda yang didengarkan, dihayati dan dilaksanakan, karena pelaksana sabda selalu menjadi sahabat-Nya (Mrk. 3:34-35). Dan dalam melaksanakan panggilan kesaksian, masing-masing orang disertai Roh Kudus, Roh yang diutus oleh Yesus setelah Pentakosta.

Barangsiapa menghujah Roh Kudus

Menyangkal Yesus memang merupakan dosa berat. Kisah Petrus yang menyangkal-Nya 3 kali mengajarkan bahwa Ia tetap membuka hati-Nya untuk mereka yang kembali berbalik kepada-Nya.

Ia selalu berbelas kasih dan penuh pengampunan. Tetapi, mengapa menghujah Roh Kudus merupakan dosa yang tak diampuni?

Bunda Gereja mengajarkan, ““Tetapi apabila seorang menghujah Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, tetapi bersalah karena berbuat dosa kekal.” (Mrk. 3:29). Kerahiman Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman Allah melalui penyesalan, ia menolak pengampunan dosa-dosanya dan keselamatan yang ditawarkan oleh Roh Kudus. Ketegaran hati semacam itu dapat menyebabkan sikap yang tidak bersedia bertobat sampai pada saat kematian dan dapat menyebabkan kemusnahan abadi.” (dikutip dari Katekismus Gereja Katolik,  1864)

Katekese

Panggilan menjadi kudus. Paus Fransiskus, 1936 – sekarang:

“Menjadi kudus tidak menuntut seseorang untuk menjadi uskup, imam atau biarawan/biarawati. Kita sering tergoda untuk mengira bahwa kekudusan hanya diperuntukkan bagi mereka yang dapat menyingkir dari urusan hidup sehari-hari dan menggunakan sebanyak mungkin waktu untuk berdoa. Kekudusan bukan seperti ini.

Kita dipanggil untuk menjadi kudung dengan menghayati hidup kita melalui kasih dan menjadi saksi dalam setiap hal yang kita lakukan, di mana pun kita berada. Apakah kalian dipanggil untuk menghayati hidup bakti?

Jadilah kudus dengan menghayati komitmen kalian dengan suka cita. Apakah kalian menikah? Jadilah kudus dengan mengasihi dan memperhatikan suami atau istri kalian, seperti Kristus mengasihi Gereja.

Apakah kalian mencari nafkah untuk hidup sehari-hari? Jadilah kudus melalui pekerjaanmu dengan penuh integritas dan keterampilan dalam melayani para saudara dan saudarimu.

Apakah kalian orang tua tunggal atau kakek-nenek? Jadilah kudus dengan mengajar anak-anak kecil ini bagaimana mengikuti Yesus. Apakah kalian dipercaya memegang kekuasaan sipil? Jadilah kudus dengan bekerja bagi kesejahteraan umum dan mengesampingkan kepentingan pribadi” (dikutip dari Seruan Apostolik Gaudete Et Exsultate, 14)

Oratio-Missio

  • Tuhan, Engkaulah harapan dan keselamatan-Ku. Semoga aku tak pernah goyah berpegang pada-Mu. Nyalakanlah api Roh Kudus dan penuhilah hatiku agar aku setia menjadi saksi-Mu dan terus berpegang pada bimbingan Roh-Mu. Amin. 
  • “Dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1: 8). Bersedia?

Omnis, quicumque confessus fuerit in me coram hominibus, et Filius hominis confitebitur in illo coram angelis Dei – Lucam 12: 8

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here