Lectio Divina 21.05.2020 – Kamulah Saksi-Ku

0
427 views
Menjadi saksi Tuhan by http://tritonubf.com/blog/five-truths-witnessing/

Kamis, Hari Raya Kenaikan Tuhan (P).

  • Kis. 1:1-11
  • Mzm. 47:2-3,6-7,8-9
  • Ef. 1:17-23
  • Mat. 28:16-20

Lectio

16  Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. 17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.  18 Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Meditatio-Exegese

Ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka

11 orang Rasul pergi ke Galilea, seperti yang diperintahkan pada mereka. Kelompok ini telah ditinggalkan oleh Yudas Iskariot. Ia meninggalkan komunitas pada saat Perjamuan Malam Terakhir (Mat. 26:14-16), setelah bersepakat dengan para imam kepala atas harga 30 keping perak untuk hidup Yesus (Mat. 27:1-10). Tempat Yudas Iskariot, kelak, digantikan oleh Mathias (Kis. 1:15-16).

Yesus meninggalkan para murid empat puluh hari  setelah kebangkitan-Nya. 40 merupakan angka simbolik dalam tradisi alkitabiah.

Bangsa Israel mengembara di padang gurun selama 40 tahun dari pembebasan Mesir; dalam kurun waktu itulah mereka mempersiapkan diri masuk tanah terjanji. Musa mendaki Gunung Tuhan untuk mencari wajah Allah selama empat puluh hari dalam doa dan puasa. Nabi Elia berpuasa selama 40 hari ketika berjalan di gurun hingga mencapai gunung Tuhan.

Yesus berkali-kali menampakkan diri kepada para murid selama empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya,. Ia mengajak para murid untuk meyakini bahwa Ia telah bangkit. Dan selama kurun waktu itu Ia membina dan mempersiapkan para murid untuk meneruskan karya-Nya di dunia.

Kembali ke Galilea. Seluruh kisah berawal dari Galilea (Mat. 4:12). Para murid pertama kali mendengar panggilanNya (Mat. 4:15) dan Ia berjanji akan kembali mengumpulkan mereka setelah kebangkitan (Mt 26:31). Dalam Kisah Para Rasul, Yesus melarang para murid meninggalkan Yerusalem (Kis. 1:4).

Dalam kisah Matius mereka diminta meninggalkan Yerusalem dan kembali ke Galilea (Mat. 28: 7.10).

Masing-masing penulis Injil memiliki caranya sendiri untuk mewartakan pribadi Yesus dan rencana-Nya. Bagi Lukas, setelah kebangkitan Yesus, pewartaan Kabar Suka Cita dimulai dari Yerusalem hingga ke ujung bumi (Kis. 1:8).

Bagi Matius, pewartaan dimulai dari Galilea, daerah bangsa-bangsa lain (Mat. 4:15), yang menjadi pralambang warta keselamatan bermula dari bangsa Yahudi mengalir kepada bangsa lain. Para murid harus pergi ke gunung yang telah ditunjuk oleh Yesus.

Gunung itu mengingatkan akan Sunung Sinai, tempat Perjanjian Pertama dimeteraikan dan Musa menerima loh batu Hukum Allah (Kel. 19-24; 34:1-35).

Gunung juga mengingatkan pada gunung Tuhan, tempat Nabi Elia mengungsi untuk memulihkan kembali makna tugas perutusannya (1Raj. 19:1-18).

Gunung juga mengingatkan akan gunung tempat Yesus berubah rupa dan tempat Musa dan Elia, lambang Hukum dan Nabi, hadir di hadapan Yesus, dan memberi kesaksian bahwa Ia adalah Mesias yang dijanjikan (Mat. 17:1-8).

Beberapa ragu-ragu.

Para penulis Injil menyebutkan bahwa banyak dari mereka ragu dan tidak percaya pada kebangkitan Yesus (Mrk. 16:11.13.14; Luk. 24:11.21.25.36.41; Yoh. 20:25). Iman akan kebangkitan tumbuh dan berkembang secara pelahan dan penuh kesulitan, seperti benih sesawi. Benih iman itu,  pada akhirnya, menjadi keyakinan yang tak tergoyahkan (1Kor. 15:1-34).

Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi

Penggunaan kata kerja pasif εδοθη μοι, edothe moi, data est mih, kepada-Ku diberikan menyingkapkan bahwa Yesus menerima segala kuasa dari Bapa. Dalam Kitab Wahyu, Anak Domba (Yesus yang bangkit) menerima dari tangan Allah kitab dengan tujuh meterai (Why. 5:7).

Ia menjadi Tuhan atas sejarah dan harus memastikan bahwa tugas perutusan yang dibebankan kepada-Nya, seperti diuraikan dalam kitab itu terlaksana, sehingga ia dipuji dan disembah oleh seluruh makhluk (Why. 12:11-14). Melalui wewenang dan kuasa-Nya, Ia mengalahkan Sang Naga, kuasa kejahatan (Why. 12:1-9).

Penaklukan atas binatang buas dan seluruh nabi palsunya melambangkan kemenangan atas kekuasaan yang abai pada upaya memuliakan martabat manusia, seperti dilakukan regim Kekaisaran Romawi (Why. 19:20).

Dalam Syahadat Para Rasul, didaraskan: Aku percaya akan Yesus Kristus, yang naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa; dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup  dan yang mati (Puji Syukur, 1).

Bunda Gereja mengajarkan tentang makna kenaikan Yesus Kristus, “Sesudah empat puluh hari, Yesus menampakkan  Diri kepada para Rasul dalam kondisi manusia biasa, yang menutup kemuliaan-Nya  sebagai Yang Sudah Bangkit, Kristus naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa.

Dialah Tuhan yang dalam kemanusiaan-Nya memerintah dalam kemuliaan Putra Allah tanpa akhir dan tak berubah menjadi pengantara kita di hadapan Bapa. Dia mengutus Roh Kudus-Nya kepada kita dan memberi kita harapan bahwa pada suatu hari kita akan mencapai tempat yang sudah disiapkan bagi kita” (dikutip dari Kompendium Katekismus Gereja Katolik, 132; bdk. Katekismus Gereja Katolik, 659-667).

Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah dan ajarlah

Yesus, dalam sabda terakhir-Nya, memerintahkan para murid dan kita sekarang untuk melaksanakan tugas perutusan hingga ke ujung bumi. Tugas perutusan mencakup juga menjadi saksi yang memberitakan kabar suka cita bahwa Yesus telah datang untuk membebaskan dunia dari perbudakan dosa, setan dan maut.  

Saksi harus memastikan seluruh isi bumi mendengar bahwa Ia telah menganugerahkan kerajaan damai sejahtera, suka cita, dan kebenaran.

Untuk menjadi utusan dan saksi-Nya, Yesus bersabda, “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku… sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Yesus menganugerahkan pada para murid daya kuasa yang sama yang Ia terima ketika Roh Kudus turun atasNya pada saat Ia dilantik memulai tugas perutusan (Yoh. 1 32-33).

Roh itu Ia hembuskan pada para murid, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh. 20:22).  Dan Kabar Suka Cita yang diwartakan adalah daya kuasa Allah, daya kuasa untuk melepaskan orang dari beban dosa, salah dan penindasan. Kabar Suka Cita menjadi daya untuk menyembuhkan, memulihkan dan memberi damai sejahtera.

Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman

Ketika Musa diutus untuk membesaskan umat dari Mesir, Allah memberi jaminan, “Bukankah aku akan menyertai engkau?” (Kel. 3:13). Kepastian yang sama dijanjikan kepada para nabi dan orang lain yang diutus Allah untuk melaksanakan karya keselamatanNya (Yer. 1:8; Hak. 6:16).

Maria menerima jaminan ketika malaikat berkata padanya, “Tuhan menyertai engkau” (Luk. 1:28). Pribadi Yesus, sejatinya, sudah menjadi jaminan penyertaan Allah; Ia bergelar Emanuel, Allah beserta kita (Mat. 1:23). Maka, Ia adalah penguasa sejarah dan waktu. Ia adalah Sang Alpha dan Omega, awal dan akhir.(Why. 1:17).  

Yesus tidak akan membiarkan para murid-Nya berjuang sendirian dalam peziarahan hidup. Terlebih, tak mungkin mengandalkan kekuatannya sendiri. Santo Yohanes Chrysostomus mengingatkan, “Apakah aku berani coba-coba mengandalkan kekuatanku sendiri?

Aku telah menuliskan kata-kata berikut di kedua telapak tanganku. Inilah tongkatku, jaminan keselamatanku, dan tempatku berlabuh yang aman. Walau seluruh dunia akan memalingkan muka dariku, aku selalu membaca kata-kata yang selalu kubawa. Sebab kata-kata ini menjadi benteng dan pertahananku yang kuat. Kata apa yang tertulis? “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman””  (dikutip dari Sermo antequam iret in exilium, 2).

Katekese

Tuhan Yesus naik ke surga dengan seluruh jiwa dan raga-Nya, kodrat ilahi dan jasmani. Santo Augustinus, Uskup dari Hippo, 354-430

“Kalian telah mendengar apa yang baru kita dengar di Injil, “Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga” (Luk. 24:50-51). Siapakah yang terangkat ke surga? Tuhan Kristus! Siapakah Tuhan Kristus? Dialah Tuhan Yesus.

Apakah ini semua? Apakah kalian akan memisahkan manusia dari Yang Ilahi dan menjadikan seseorang berasal dari Allah, yang lain dari manusia, sehingga tidak ada trinitas dari dari tiga tetapi keempatan dari empat?

Sama seperti kalian, manusia, memiliki jiwa dan raga; demikian juga Tuhan Kristus adalah Sang Sabda, jiwa dan raga. Ia menjadi manusia di dalam kandungan dan terus memerintah alam semesta.

Apa yang diangkat ke sorga, kalau bukan apa yang yang telah diambil dari dunia? Ini hanya untuk mengatakan, manusia, tubuh, tentang yang Ia katakan ketika Ia berkata pada para murid, “Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku” (Luk. 24:39).

Saudara dan saudari, mari kita mempercayai hal ini; dan bila kita mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan para filosof, mari kita berpegang teguh pada apa yang dibuktikan dalam perkara Tuhan tanpa hambatan untuk mengimaninya. Biarkan mereka berbicara sesuka hati; tetapi kita tetap berpegang teguh pada iman kita” (dikutip dari Sermon 242,6)

Oratio-Missio

  • Tuhan, penuhilah hatiku dengan suka cita-Mu dan bantulah aku selalu bersyukur atas karunia-Mu. Semoga aku dimampukan untuk menjadi saksi Injil dan kebenaran bahwa Engkau telah mengalahkan dosa dan maut. Amin.
  • Apa yang perlu aku lakukan untuk selalu menjadi saksi Injil: berkata benar, merawat bumi dan berbuat murah hati?

Et ecce ego vobiscum sum omnibus diebus usque ad consummationem saeculi – Matthaeum 28:20

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here