Lectio Divina 26.05.2020 – Aku Berdoa Untuk Milik-Mu

0
289 views
Aku Berdoa Untuk Milik-Mu by Ist

Selasa (M)

  • Kis. 20:17-27
  • Mzm. 68:10-11,20-21
  • Yoh. 17:1-11a

Lectio

1 Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. 2  Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.

3  Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. 4  Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. 5  Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

6 Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. 7  Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. 8  Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

9  Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu 10  dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. 11  Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu.

Meditatio-Exegese

Ia menengadah ke langit

Bacaan Injil hari ini, besok dan lusa direnungkan oleh Gereja semesta sebagai doa perpisahan Yesus. Santo Yohanes mengingat, mengenang dan mempersembahkan doa ini untuk seluruh anggota Gereja sepanjang masa. Dalam Perjanjian yang dimeteraikan dengan darah oleh Yesus, doa ini sering disebut sebagai Doa Imami Yesus (Yoh. 17:1-26).

Santo Augustinus, Uskup dari Hippo, menulis, “Tuhan, Anak-Nya yang tunggal dan bersama Bapa yang abadi, mengambil rupa seorang hamba;  dan dalam rupa itu mungkin saja Ia berdoa dalam diam, jika sikap itu diperlukan.

Sebaliknya, Ia menghendaki untuk menunjukkan Diri-Nya sendiri kepada Bapa dengan sikap seseorang yang sedang memohon kepada Bapa-Nya. Dengan cara inilah kita mengingat bahwa Ia adalah Guru kita […]

Maka, doa ini bagi para murid-Nya sangat bermanfaat, tidak hanya bagi mereka yang mendengarnya, tetapi juga bagi semua yang akan membacanya” (dikutip dari Tractate On The Gospel Of John, 104.2).   

Yesus menutup Perjamuan Malam dengan doa. Seperti kebanyakan orang Yahudi, Ia merentangkan tangan dan menengadahkan wajah ke langit. Kedua bola mata menetap ketinggian menembus awan menuju sorga.

Ia mengungkapkan doa dengan sepenuh hati, hormat dan kepercayaan kepada Allah (bdk. Mzm. 121:1; 23:1; Yeh. 33:25; Dan. 4:34; Yoh. 11:41).

Dalam doa-Nya, Yesus menyapa Allah dengan sebutan yang sangat akrab, πατερ, pater, Bapa. Sebutan akrab menyingkapkan relasi kasih (Yoh. 17:5.11.21.24.25; bdk. Yoh. 11:41; 12:27).

Permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau

Lebih dahulu, Yesus berbicara tentang “’saat’-Nya telah tiba. Ia memohon agar Bapa mempermuliakan Dia melalui misteri agung Inkarnasi – Sang Sabda yang abadi menjadi manusia demi keselamatan manusia (Yoh 1:14).

Hanya ada satu cara untuk memuliakan-Nya, yakni meninggikan Dia di kayu salib, seperti dinubuatkan-Nya (bdk. Yoh. 3:14). Nubuat ini dipenuhi-Nya ketika Ia menyerahkan nyawa-Nya pada Bapa, saat bersabda dari puncak salib, “Sudah Selesai” (Yoh. 19:30).

Di seluruh muka bumi, tidak ada bukti kasih yang lebih besar yang dicurahkan Allah pada setiap insan dari pada pengorbanan Yesus di Salib di Golgota. Dari puncak Salib-Nya mengalirlah pengampunan, pembebasan, damai sejahtera dan hidup baru dalam Roh Kudus.  

Dengan kata lain, sabda-Nya (Yoh. 3:15), “Setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal”,  ut omnis, qui credit, in ipso habeat vitam aeternam.   

Segala milik-Ku adalah milik-Mu

Yesus juga berbicara tentang pengenalan akan Allah. Ia berbicara pada para murid bahwa mereka dapat mengenal satu-satunya Allah yang benar.

Pengenalan akan Allah tidak hanya sekedar dibatasi oleh pengetahuan akan Allah, tetapi manusia dapat mengenal Allah secara pribadi dan dipersatukan dengan Allah dalam relasi kasih dan persahabatan.

Inti Kekatolikan dan dan apa yang membedakan dari agama Yahudi dan keyakinan lain adalah pengenalan pribadi dan pengalaman dalam relasi dengan Allah sebagai Bapa. Ia telah mengenal kita masing-masing sejak sebelum diciptakan (Ef. 1:4; Rm. 8:29).

Ia telah menenun kita masing-masing saat di kandungan ibu (Mzm. 139:13; Yer. 1:5). Maka, Yesus memungkinkan setiap manusia untuk mengenal Allah sebagai Bapa. Memandang Yesus berarti memandang Allah sebagai Bapa.     

Saat Yesus hendak meninggalkan dunia, Ia menungkapkan perhatian-Nya kepada Bapa dan dan mendoakan para sahabat-Nya yang hendak ditinggalkan-Nya. Mereka adalah milik-Nya yang telah diserahkan Bapa pada-Nya. Namun, para sahabat-Nya masih harus tinggal di dunia, walau mereka tidak menjadi milik dunia. Mereka menjadi milik Yesus dan milik Allah.

Mereka menjadi tanda bahwa Allah dan Yesus hadir di dunia. Ia senantiasa berdoa bagi sahabat-Nya. Sabda-Nya (Yoh. 17:9), “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku”, Ego pro eis rogo; non pro mundo rogo, sed pro his, quos dedisti mihi.

Katekese

Yesus berdoa untuk para murid-Nya. Santo Augustinus, Uskup dari Hippo, 354-430 :

“Ketika Tuhan berdoa kepada Bapa tentang mereka yang telah menjadi murid-Nya, di samping banyak hal lain, Ia menyampaikan permohonan ini, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku”.

Kata dunia bagi-Nya bermakna dan dipahami sebagai mereka yang hidup menuruti nafsu dunia. Karena pilihan mereka berasal dari dunia, mereka tidak memilih apa yang penuh rahmat seperti yang ditawarkan Tuhan.

Maka, bukan untuk dunia, tetapi Yesus terus menerus berdoa bagi mereka yang diberikan Bapa kepada-Nya. Karena mereka telah menolak untuk dikuasai dunia” (dikutip dari  Tractate On The Gospel Of John, 107, 1)

Oratio-Missio

  • Ya Yesus yang baik, seandainya saja aku memiliki rahmat untuk benar-benar menyatu denganmu! Di tengah seluruh macam hal duniawi di sekitarku, ya Tuhan, satu-satunya yang kuinginkan adalah bersatu dengan-Mu. Engkaulah kerinduan jiwaku. Sahabat hatiku, persatukanlah jiwaku yang sangat kecil ini dengan kebaikan hatiMu yang sempurna. Engkaulah  milikku; kapan aku akan menjadi milik-Mu? Yesus, Tuhanku, Kekasih jiwaku, tariklah hatiku ke dalam Hati-Mu. Peganglah, genggamlah, dan satukanlah aku dengan Hati Kudus-Mu selama-lamanya. Engkau telah menciptakan aku demi diri-Mu sendiri; buatlah aku bersatu dengan-Mu.  Seraplah setetes kecil hidupku ke dalam samudera kebaikan, yang menjadi tempat asal hidupku. Amin. (Doa Francis de Sales, 1567-1622, terjemahan bebas)        
  • Apa yang perlu kulakukan untuk setia menjadi sahabat-Nya?

Ego pro eis rogo; non pro mundo rogo, sed pro his, quos dedisti mihi – Ioannem 17:9

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here